Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 14 Des 2014 21:49 WITA ·

Galungan Bukan Momentum Pamer dan Adu Gengsi


					Galungan Bukan Momentum Pamer dan Adu Gengsi Perbesar

Umat Hindu di Bali diingatkan untuk merayakan hari Galungan dan Kuningan dengan semangat kesederhanaan dan kebersahajaan. Galungan bukanlah momentum untuk pamer atau pun adu gengsi. Justru, yang harus dikedepankan sikap simpati dan empati terhadap sesama.Pandangan ini dikemukakan Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Bidang Agama dan Lintas Iman, I Ketut Wiana. 

“Hindari semangat berlebih-lebihan dalam ber-yadnya di hari raya Galungan. Semangat berlebihan, ingin pamer dan adu gengsi itu merupakan cerminan papa klesa (pikiran yang gelap, kotor dan kacau) sehingga jauh dari hakikat perayaan Galungan sebagai momentum menuju pikiran yang terang dan tajam (galang apadang),” kata Wiana. 
(Baca: Galungan, Saatnya Saling Berbagi

Umat Hindu membuat penjor
Wiana yang mantan dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini menegaskan agama bertujuan meringankan beban hidup manusia, bukan malah membebani manusia. Itu sebabnya, Hindu menyediakan aneka pilihan tingkatan yadnya sesuai kemampuan umat. Mulai dari tingkatan paling sederhana (nista) hingga paling besar (utama).

Nista itu bukan jelek. Makna nista sesungguhnya bukan kecil, tetapi inti,” ujar Wiana. 

Belakangan ini, Wiana mengamati perayaan Galungan menjadi ajang jor-joran. Penjor Galungan yang dipancangkan di depan rumah tampak megah dan mewah. Ironisnya, bahan-bahan penjor itu kini sebagian besar didatangkan dari luar. 
(Baca: Penjor Galungan Jor-joran)

“Lebih ironis lagi, penjor-penjor kita mewah, tapi pada saat yang sama alam di lingkungan terdekat kita makin rusak. Padahal, penjor itu cerminan melestarikan alam. Ketika sebagian besar bahan-bahan penjor kita tidak berasal dari lingkungan kita sendiri, itu berarti ada masalah dengan cara kita ber-yadnya, sehingga perlu evaluasi diri,” kata Wiana.
Pemancangan penjor saat Galungan, kata Wiana, merupakan momentum peringatan kepada umat Hindu untuk melestarikan aneka palabungkah, palagantung dan lainnya. Setelah alam lestari, barulah dipersembahkan kepada Tuhan sebagai wujud syukur dan terima kasih
(Baca: Ucap Syukur Lewat Penjor).
“Jangan sampai umat Hindu ber-yadnya mewah, tetapi masih menggunakan prinsip ‘karimun’. Apa itu ‘karimun’? Kari mutang (masih berutang),” kritik Wiana.
Menurut Wiana, yadnya sederhana dan bersahaja yang dilandasi ketulusan hati sesungguhnya yadnya utama. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 205 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi