Tilem dan Tradisi Olah Batin Orang Bali

Kegiatan di bulan mati atau Tilem adalah perenungan diri, mengistirahatkan pancaindra dari reaksi kenikmatan terhadap lingkungan.

Bulan mati. (balisaja.com/denpasartourism.com)
Oleh: IBG PARWITA

Sebuah pemandangan yang paling dekat untuk dilihat ketika malam adalah bulan, di samping bintang-bintang. Ketiadaan cahaya membuat malam gelap gulita, saat itulah bulan di langit memberi cahaya sehingga malam menjadi terang. Cahaya bulan penuh kita sebut purnama, dan ketiadaan cahaya sama sekali kita sebut bulan mati atau di Bali disebut Tilem.

Purnama memberi warna keindahan ketika malam, karena cahaya yang memantul membuat warna menjadi hidup, bahkan memberi warna lain di luar warna yang wajar ketika dilihat siang hari. Karena itulah upacara banyak digelar dengan memilih keadaan bulan purnama. Purnama menjadi sakral, dijadikan orientasi melihat makrokosmos atau buana agung yang memberikan pengaruh langsung terhadap caksuindria atau indra penglihatan, bahwa alam ini begitu indah, begitu mempesona dan mengagumkan sehingga sangat layak untuk dinikmati. Di lain pihak bulan mati atau Tilem identik dengan kegelapan, namun sesungguhnya kedudukan matahari, bulan, dan bumi, hampir segaris lurus. Pada saat bulan mati (Tilem) dapat terjadi gerhana matahari. Ketika Tilem sesungguhnya peran mataharilah yang dominan. Kegiatan di bulan mati ini umumnya lebih cenderung menuju pada perenungan diri, mengagumi kebesaran Yang Maha Kuasa sebagai sang pemberi hidup kepada ciptaan-Nya.

Tradisi Nyepi dan Siwa Ratri adalah upacara yang digelar berkaitan dengan bulan mati. Hari raya Nyepi digelar tepat ketika hari pertama di bulan pertama tahun Iҫaka yaitu Sasih Kadasa, setelah sehari sebelumnya dilakukan upacara tawur saat Tilem kesanga (bulan ke sembilan menurut peredaran sasih di Bali), yang sesungguhnya adalah hari terakhir menurut peredaran tahun Iҫaka. Jadi, masyarakat Hindu di Bali harus membayar utangnya kepada alam berupa caru atau tawur sebelum memasuki tahun baru.

Di samping tradisi Nyepi, upacara yang juga berkaitan dengan bulan mati adalah Ҫiwaratri, yang dimaknai sebagai malamnya Dewa Siwa, yang jatuh pada purwanining tileming kapitu, yaitu sehari sebelum Tilem pada Sasih Kapitu. Malam ini dianggap sebagai malam paling gelap karena dihubungkan dengan tujuh kegelapan (tujuh sikap egoisme) yang ada pada manusia, yang muncul karena anugerah Tuhan berupa kelebihan yang dimilikinya dari orang lain, yaitu surupa (rupa tampan), dhana (kekayaan), guna (kecerdasan), kulina (keturunan), yowana (keremajaan), sura (mabuk), dan kasuran (keberanian), yang dapat menyebabkan seseorang menjadi angkuh karena kelebihan yang dimiliki.

Tradisi Nyepi dan Ҫiwaratri dilakukan dengan perenungan diri (mulat sarira), bahkan Nyepi adalah perenungan diri total dengan melakoni puasa tanpa api, tanpa kegiatan, tanpa bepergian dan tanpa menikmati hiburan apa pun, puasa makan 24 jam, tidak tidur (jagra) selama 36 jam, dan puasa bicara (mona brata) dan semadi (meditasi). Sedangkan Ҫiwaratri yang dilaksanakan sehari sebelum Tilem Kapitu, dilakukan dengan aturu (tidak tidur) dan atutur (bercerita) dari kisah sang Pemburu yang bernama Lubdaka, di samping upawasa.

Istilah aturu adalah berasal dari bahasa sansekerta. A berarti ‘tidak’ dan turu adalah kata sifat yang berarti ‘tidur’. Sedangkan atutur berasal dari Bahasa Jawa Kuna. A berarti ‘me’ atau ‘ber’ (aktif) yang diikuti kata kerja tutur yang berarti ‘menceritakan’ atau ‘bercerita’.

Belakangan ini Tilem Kanem (bulan ke enam) juga dipilih untuk menggelar upacara Bhumi Sudha, untuk pembersihan jagat secara niskala. Sasih Kanem dipercaya masyarakat Bali sebagai sasih atau bulan mulai turunnya butha kala, gerubug, segala penyebab benih penyakit. Malah masyarakat Bali terdahulu akan melihat ciri-ciri berupa musim poh gading (mangga berwarna kuning) yang umumnya tumbuh di kepulauan Nusa Penida, dengan ciri selanjutnya banyaknya lalat di daerah pantai atau pegunungan. Pernah terjadi segala pohon bunga dan buah cabang dan rantingnya bergerigi terkena penyakit, belum lagi hewan ternak banyak yang mati. Ini dianggap akibat bumi ini kotor, sehingga harus dibersihkan dan disehatkan dengan upacara Bhumi Sudha.

Jadi kegiatan di bulan mati atau Tilem adalah perenungan diri, mengistirahatkan pancaindra dari reaksi kenikmatan terhadap lingkungan. Karena itulah orang amat jarang akan mengutarakan pengalaman keindahan di bulan mati, karena sesungguhnya hasil pengalamannya adalah olah batin dari apa yang dirasakannya sebagai buah penghayatannya dari menggali gali dirinya, menggali segala ketiadasempurnaannya dalam melakoni hidup.

Bagi seorang penyair boleh saja dia menyatakan kebesaran egonya dari hasil meditasinya di bulan mati. Mungkin dengan merapal mantra atau situasi hubungan dengan sang pencipta, namun tidak salah juga apabila hasil permenungannya di saat bulan mati disembunyikan, hanya dengan kata atau frasa yang sederhana, sebagai jawaban atas reaksi perenungannya dengan ketiadaan bulan. Ataukah lebih menonjolkan keadaan siang hari dengan kehadiran “matahari” dengan segenap upacara dan daya pikatnya. Begitulah sikap penyair memahami keadaan saat bulan mati.

Bulan sesungguhnya selalu menghias malam, entahlah itu bulan penuh atau purnama, ataukah bulan mati pastinya bayangannya masih nampak dari bumi ini. Entahlah bulan sebagai tonggak waktu yang menjadikan manusia bulan-bulanan oleh kesibukannya, ataukah bulan yang memberi penerang ketika malam sehingga memberi keindahan, kelembutan, yang sering diberi gelar Dewi Ratih yang disimbulkan dapat merestui wanita untuk dapat  membangunkan asmara yang bersemayam pada pria, seperti Kakawin Arjuna Wiwaha ataukah makna lain menurut subjek yang menyiasati keindahannya. Perjalanan keseharian manusia tak akan terlepas dari gelap dan terang, keasyikan dan kekusukan yang dilakoninya akan tergantung pada keadaan tersebut. Purnama adalah simbol keindahan, karenanya pendakian spiritual yang berlatar segara (laut) dan giri (gunung) memilih tonggak pendambaan penampakan kelembutan cahaya bulan.

Selamat menjalani olah batin, merenung hening di keteduhan Tilem Sadha. Rahayu!

______________________________ 

IBG PARWITA, guru sekaligus penyair dari Klungkung, Bali.

_______________________________ 

Penyunting: I MADE SUJAYA

COMMENTS

BLOGGER

SLOKA BALI$type=blogging$m=0$cate=0$sn=0$rm=0$c=4$va=0

/fa-fire/PALING DICARI$type=one

Nama

Bale Bengong,8,BALI ADVERTORIAL,25,Bali Aga,7,BALI FIGUR,20,Bali Hari Suci,7,Bali Herbal,3,Bali Hijau,2,Bali Iloe,60,BALI JANI,265,Bali Merawat Bumi,1,Bali Merenung,6,BALI MITOLOGI,2,BALI OPINI,12,Bali Pariwara,12,Bali Pujangga,1,Bali Pustaka,3,Bali Realita,2,Bali Sastra,1,Bali Simbol,2,Bali Spiritual,5,Bali Tempat Suci,2,Bali Terkini,5,Bali Tradisi,163,Bali Unik,3,BALI WISATA,15,BALINESIA,1,Boga Bali,2,Buda Wage Kelawu,3,Buku Bali,6,Cakepan,6,Cerpen,4,Desa Mawacara,21,Dewasa Ayu,6,Dresta Bali,13,EKONOMI,1,Hari Soma Ribek,2,Keto Kone,4,Legenda Bali,3,Nyama Braya,12,Oka Rusmini,2,POLITIK,6,Puisi,4,Rerahinan,1,Sarwa Prani,4,SASULUH,4,Segara Giri,13,SEMETON,4,Sima Dresta,27,Sloka Bali,11,Timpal,10,Ulasan,3,Wali Bali,16,Widya Pataka,5,Wija Kasawur,4,WISATA DESA,5,Wisata Kuliner,1,
ltr
item
balisaja.com - Bernas dan khas Bali: Tilem dan Tradisi Olah Batin Orang Bali
Tilem dan Tradisi Olah Batin Orang Bali
Kegiatan di bulan mati atau Tilem adalah perenungan diri, mengistirahatkan pancaindra dari reaksi kenikmatan terhadap lingkungan.
https://1.bp.blogspot.com/-NEUiSr4VUb0/YL_0vH0SsqI/AAAAAAAABPc/GCvE-oz6MgoobLy-XtHyGl2ZP_cwyw11ACLcBGAsYHQ/w640-h570/Tilem.png
https://1.bp.blogspot.com/-NEUiSr4VUb0/YL_0vH0SsqI/AAAAAAAABPc/GCvE-oz6MgoobLy-XtHyGl2ZP_cwyw11ACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h570/Tilem.png
balisaja.com - Bernas dan khas Bali
https://www.balisaja.com/2021/06/tilem-dan-tradisi-olah-batin-orang-bali.html
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/2021/06/tilem-dan-tradisi-olah-batin-orang-bali.html
true
7771212736280013593
UTF-8
Loaded All Posts Mohon maaf, tidak ditemukan artikel yang cocok LIHAT SEMUA Baca Lengkap Balas Batalkan Balasan HAPUS Oleh BERANDA HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA Disarankan untuk Anda LABEL ARSIP TELUSURI SEMUA ARTIKEL Mohon maaf, tidak ada artikel yang sesuai pencarian Anda Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content