Menjadi Bali, Menjadi Muslim

Cerita kehangatan hubungan antara orang Bali dan Muslim di Bali. Di Bali, toleransi dilakoni dengan semangat interkultural yang kuat.

Perempuan muslim membantu orang Bali yang juga seorang pamangku mengambil air laut untuk kegiatan upacara agama Hindu. (balisaja.com/akun fb Doflank I Gde Bali)

Oleh: I MADE SUJAYA

Lebaran, seperti hari besar keagamaan lainnya di Indonesia, ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dua hari lamanya. Kerap kali pula disertai "bonus" cuti bersama. Tujuannya, tentu saja, memberi keleluasaan bagi umat Muslim merayakan Idul Fitri. Perayaan Lebaran tak hanya soal ibadah, tapi juga silaturahmi ke anggota keluarga dan kerabat. Justru kegiatan inilah yang menyita banyak waktu.

Karena merupakan hari libur nasional, tak hanya umat Muslim yang menikmati hari tidak ngantor ini. Mereka yang non-Muslim juga ikut kecipratan libur Lebaran. Memang, ada sejumlah perusahaan atau lembaga yang mempekerjakan karyawan non-Muslim saat libur Lebaran, sebaliknya karyawan non-Hindu bekerja saat libur Galungan. Tapi, umumnya, ya, ikut libur. 



Orang Bali yang mayoritas Hindu, juga ikut menikmati hari libur Lebaran. Tentu orang Bali yang Hindu atau non-Muslim tak memiliki agenda sholat Id. Yang pasti, mereka memiliki agenda di hari libur Lebaran. 

"Libur Lebaran plus cuti bersama, enaknya, ya, pulang kampung," tutur Wayan Santa, warga Klungkung yang tinggal di Denpasar. 

Pulang kampung memang menjadi agenda favorit di musim libur Lebaran, terutama yang bekerja di Denpasar. Waktu libur yang lebih panjang membuat orang Bali lebih puas menikmati suasana kampung, bertemu keluarga dan kerabat. Namun, karena pandemi Covid-19, tak semua memilih agenda ini. Kalau pun pulang, sebagian orang Bali memilih tidak menginap. 

"Masih pandemi, masih rada waswas juga. Saya pulang, tapi tidak keliling-keliling. Cuma menjenguk orang tua," imbuh Santa. 

Selain pulang kampung, sebagian orang Bali juga mengisi libur Lebaran ini dengan matirtha yatra, bersembahyang ke berbagai pura. Mereka berdoa agar pandemi segera berlalu dan rezeki kembali normal seperti sebelumnya. 

"Ya, saudara Muslim sholat, kita juga boleh sembahyang," cerita Agus Putra Mahendra, warga Kerobokan, Badung. 

Gus Hendra, panggilan akrab Agus, yang menyunting perempuan Jawa-Muslim, memilih matirtha yatra ke Pura Pasar Agung di Karangasem pada Rabu, 12 Mei 2021, saat libur cuti bersama dimulai. 

Tidak semua orang Bali memiliki agenda pulang kampung atau matirtha yatra. Ketut Sari, warga Karangasem yang menikah dan tinggal serta bekerja di Denpasar memilih mengisi hari libur Lebaran ini dengan membersihkan rumah. 

"Selama ini saya tak punya cukup waktu untuk membersihkan rumah. Saat libur Lebaran ini, ada waktu luang agak panjang, saya gunakan bersih-bersih rumah saja. Lagian masih pandemi. Takut ke tempat-tempat keramaian," ujar Sari. 

Tentu ada juga orang Bali yang benar-benar berlebaran di libur Idul Fitri ini. Mereka tak lain orang Muslim yang tinggal dan bekerja di Bali. Muslim Bali yang lahir dan tinggal sejak puluhan bahkan ratusan tahun di Bali, tentu tak punya agenda pulang kampung ke luar Bali karena kampungnya memang di Bali. Mereka dikenal sebagai Selam Bali yang bermukim di kampung-kampung muslim di Bali, seperti Pegayaman (Buleleng), Loloan (Jembrana), Kampung Gelgel dan Kampung Kusamba (Klungkung) maupun Kecicang (Karangsem). Mereka orang Bali yang memeluk agama Islam. Bahasa sehari-hari yang digunakan juga bahasa Bali. Orang Bali Hindu biasa menyebut mereka Nyama selam (saudara Muslim) atau Selam Bali. 

"Umat Islam Bali nyaman dan bangga dengan sebutan itu. Di Kampung Kajanan, Singaraja, malah ada ungkapan yang sangat menggelikan, yakni Selam Jawa sebagai sebutan pendatang baru yang tidak taat melaksanakan ajaran Islam, sedangkan mereka yang Muslim Bali dan taat menjalankan ajaran Islam dengan bangga menyebut diri sebagai Selam Bali," cerita Ketut Syahruwardi Abbas, sastrawan plus wartawan Bali yang juga Muslim kelahiran Pegayaman, Buleleng. 

Baca juga: Nyama Selam: Inklusivitas Bali, Kebanggaan Muslim

Munafri, warga Muslim Kampung Kusamba, Klungkung, juga menuturkan pengalaman yang sama. Warga Kampung Kusamba, kata Munafri, selalu merasa bangga mengenalkan diri sebagai orang Bali saat bertemu sesama Muslim di luar Bali. 

"Bagaimana pun saya dan keluarga saya lahir di Bali, berbahasa Bali, dan ada darah Bali. Nenek saya orang Bali," ungkap Munafri. 

Seperti di banyak kampung Muslim lain di Bali, di Kampung Kusamba, juang-kejuang antara orang Bali-Hindu dan orang Muslim jamak terjadi. Saat Galungan, orang Bali yang mualaf biasa mengunjungi keluarga Hindunya. Mereka tentu tak disuguhi makanan berbahan daging babi, tapi penganan tape ketan khas Bali lazim disantap hangat bersama keluarga. 

Desak Budiartini, mualaf Bali dari Desa Dapdap Putih, Buleleng menuturkan pengalaman soal bagaimana menjaga kehangatan hubungan antara orang Bali-Hindu dan orang Bali-Muslim.

"Suami saya, meskipun Muslim, malah sering bantu ayah di kampung saya  membuat penjor saat Galungan. Sebaliknya saat Lebaran, jika akan mudik ke Kediri, Jawa Timur, saya mampir dulu di Dapdap Putih. Kami akan dibekali aneka hasil panen dari kebun di Dapdap Putih untuk dibawa mudik ke Kediri. Yang begini sudah jadi biasa kami jalani sejak saya menikah dengan lelaki Muslim," tutur Desak Budiartini, yang dinikahi lelaki Muslim. 

Cerita kehangatan hubungan antara orang Bali-Hindu dan Muslim di Bali tentu bukan sesuatu yang baru, bahkan jamak. Di Bali, toleransi dilakoni dengan semangat interkultural yang kuat. Tak hanya saling menghormati, bahkan juga saling memperkaya budaya. 

Seperti apa yang dirasakan Munafri, meski sebagai Muslim, dia juga merasa sebagai orang Bali. Begitu juga Desak Budiartini, meski sudah menjadi mualaf, dia tetap bangga sebagai orang Bali. Keduanya seolah menunjukkan proses menjadi yang terus dan terus dilakoni: menjadi Bali sekaligus menjadi Muslim. Tak mesti dipertentangkan, tak pula saling mengejek, apalagi sampai saling menghina atau merendahkan.

"Selamat magalungan Selam, Mung. Kanggoang sing maan malali malu mulih, masan korona!" 

Munafri membaca pesan whatsapp di ponselnya. Sebuah kiriman ucapan selamat Lebaran dari kawan karibnya yang beragama Hindu. Munafri tersenyum. Ini teman dekatnya dari desa tetangga, Desa Kusamba, yang diajaknya bersama sejak masa sekolah hingga kuliah di Denpasar. Bahkan, Munafri kerap kali membantu menyopiri keluarga sahabatnya itu saat mereka matirtha yatra ke berbagai pura di seantero Bali. Tak ada rasa risih, justru Munafri merasa senang bisa membantu. 

Munafri kembali tersenyum lalu mengetik pesan untuk menjawab ucapan karibnya itu di ponsel.  

"Suksma, De. Semoga selalu rahayu" (b.)

__________________________ 

Penyunting: KETUT JAGRA

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Bale Bengong,7,BALI ADVERTORIAL,25,Bali Aga,7,BALI FIGUR,20,Bali Hari Suci,7,Bali Herbal,3,Bali Hijau,2,Bali Iloe,60,BALI JANI,265,Bali Merawat Bumi,1,Bali Merenung,6,BALI MITOLOGI,2,BALI OPINI,12,Bali Pariwara,12,Bali Pujangga,1,Bali Pustaka,3,Bali Realita,2,Bali Sastra,1,Bali Simbol,2,Bali Spiritual,5,Bali Tempat Suci,2,Bali Terkini,5,Bali Tradisi,163,Bali Unik,3,BALI WISATA,15,Boga Bali,2,Buda Wage Kelawu,3,Buku Bali,6,Cakepan,6,Cerpen,3,Desa Mawacara,21,Dewasa Ayu,6,Dresta Bali,13,EKONOMI,1,Hari Soma Ribek,2,Keto Kone,4,Legenda Bali,3,Nyama Braya,12,Oka Rusmini,2,POLITIK,6,Puisi,4,Rerahinan,1,Sarwa Prani,4,SASULUH,4,Segara Giri,13,SEMETON,4,Sima Dresta,27,Sloka Bali,10,Timpal,10,Ulasan,3,Wali Bali,16,Widya Pataka,5,Wija Kasawur,4,WISATA DESA,5,Wisata Kuliner,1,
ltr
item
balisaja.com - Bernas dan khas Bali: Menjadi Bali, Menjadi Muslim
Menjadi Bali, Menjadi Muslim
Cerita kehangatan hubungan antara orang Bali dan Muslim di Bali. Di Bali, toleransi dilakoni dengan semangat interkultural yang kuat.
https://1.bp.blogspot.com/-TSYqzT5CtRM/YJx9RlweyMI/AAAAAAAABCo/PoLli9e-PCMS3Qw2AJnVniOOnxrIfcBRACLcBGAsYHQ/w640-h368/Multikulturalisme%2BBali.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-TSYqzT5CtRM/YJx9RlweyMI/AAAAAAAABCo/PoLli9e-PCMS3Qw2AJnVniOOnxrIfcBRACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h368/Multikulturalisme%2BBali.JPG
balisaja.com - Bernas dan khas Bali
https://www.balisaja.com/2021/05/menjadi-bali-menjadi-muslim.html
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/2021/05/menjadi-bali-menjadi-muslim.html
true
7771212736280013593
UTF-8
Loaded All Posts Mohon maaf, tidak ditemukan artikel yang cocok LIHAT SEMUA Baca Lengkap Balas Batalkan Balasan HAPUS Oleh BERANDA HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA Disarankan untuk Anda LABEL ARSIP TELUSURI SEMUA ARTIKEL Mohon maaf, tidak ada artikel yang sesuai pencarian Anda Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content