Menguak Misteri “Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?

Nekara perunggu di Pura Penataran Sasih, Pejeng dipercaya masyarakat Bali sebagai bulan yang jatuh ke bumi. Apakah tafsiran yang relatif masuk akal?

Nekara perunggu di Pura Penataran Sasih, Pejang. (balisaja.com/koleksi foto Balai Cagar Budaya, Gianyar)


Oleh: MAS RUSCITADEWI

Gerhana bulan total kembali terjadi hari ini, Rabu, 26 Mei 2021. Peristiwa alam ini dapat dilihat dari wilayah Indonesia, termasuk di Bali. Gerhana bulan total kali ini terjadi bertepatan dengan Purnama Sadha sekaligus hari raya Waisak. Menurut perhitungan, gerhana bulan dimulai pukul 16.46.1 wita. Puncak gerhana pukul 19.18.6 wita dan berakhir pukul 18.27.9 wita.

Masyarakat Bali mempercayai gerhana bulan bukan sebuah peristiwa biasa. Mereka biasanya mengaitkan gerhana bulan dengan ramalan tentang peristiwa apa yang akan terjadi di dunia.

Masyarakat Bali juga memiliki mitologi gerhana bulan, termasuk mewarisi sebuah legenda tentang bulan yang jatuh di tanah Bali. “Bulan yang jatuh” itu kini tersimpan di Pejeng. Benarkah?

Cerita lisan “Bulan Pejeng” berkisah tentang seorang pencuri sakti yang mengencingi bulan agar bisa dengan leluasa mencuri. Bulan yang dikencingi pencuri itu, konon jatuh di Pejeng. Bulan yang jatuh itu diidentikkan dengan sebuah nekara perunggu besar yang kini tersimpan di Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng Tengah, Pejeng, Gianyar. Kata sasih pada nama pura ini diidentikan dengan bulan.

Tapi, tentu saja cerita nekara perunggu itu bukanlah bulan dalam artian yang sesungguhnya. Bisa saja bulan yang dimaksud adalah seorang gadis yang cantik, putih, dan lembut seperti cahaya bulan. Bisa jadi yang dimaksud pencuri adalah seorang lelaki yang telah mencuri hati para wanita, yang merasa terganggu dengan kehadiran wanita cantik seperti bulan itu. Mengeincingi si bulan, mungkin maksudnya mengawininya.

Tafsiran-tafsiran seperti ini, rasanya lebih masuk akal karena secara umum nekara perunggu dikenal sebagai mas kawin (benda seserahan untuk ikatan perkawinan). Hal ini juga sangat didukung oleh adanya prasasti-prasasti Bali dari zaman Bali Kuna, yang menyebut raja Jayapangus dengan kedua permaisurinya yang keturunan Dewi Bulan. Walaupun tak disebutkan dalam prasasti bahwa salah satu permaisuri Jayapangus berasal dari Cina, tetapi sebagian masyarakat Bali meyakini bahwa salah satu permaisuri raja Jayapangus adalah Khang Ching Wie yang berdarah Cina. Kita tahu, kebudayan pengolahan logam dan perunggu di Indonesia dan Bali khususnya berasal dari kebudayaan Dongson, Cina.

Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar dikenal dunia sejak 1705, ketika GE Rumphius berdasarkan penjelasan dari Hendrik Leydekker, menulis mengenai ''Bulan Pejeng'' yang sampai sekarang disimpan di Pura Penataran Sasih. Pejeng dikenal dari tulisan  ahli ilmu hayat ini disusul  dengan didirikannya Oudheidkundige Dienst (OD) atau Jawatan Purbakala di Batavia (Jakarta), oleh  Pemerintah Hindia Belanda. Sejak itu Desa Pejeng dan desa-desa sekitarnya, menjadi sasaran kegiatan Jawatan Purbakala. Salah satu kegiatan Jawatan Purbakala ialah kegiatan Inventarisasi Kepurbakalaan yang dilaksanakan oleh WF Stutterheim (1925-1927). Dalam inventarisasi peninggalan arkeologis di Pejeng salah satu peninggalanyang penting adalah nekara perunggu yang dikenal dengan sebutan "Bulan Pejeng", yang sampai kini masih menyisakan misteri, tentang siapa yang membuatnya, untuk apa, dan apa kaitanya denga desa Pejeng. 

Selain cerita mengenai bulan yang jatuh akibat dikencingi pencuri, ada juga sumber-sumber tradisional yang menyebut bahwa nekara perunggu itu adalah subeng (hiasan telinga) Kebo Iwa. Kedua cerita tradisional tersebut tentu saja sulit ditarik logikanya.

Tapi yang jelas, berdasarkan hasil-hasil penelitian arkeologi dapat diketahui bahwa "Bulan Pejeng" ini sesungguhnya adalah sebuah nekara  atau bejana yang terbuat dari perunggu yang tingginya 186,5 cm, dengan bidang pukul yang bergaris tengah 160 cm. Nekara ini berisikan hiasan dan salah satu hiasan yang khas dan menonjol adalag hiasan kedok muka yang disusun sepasang-sepasang dengan mata bulat membelalak dan memakai anting-anting.

Selain ukurannya yang besar dan tidak biasa, nekara perunggu ini diketahui merupakan hasil teknologi pengolahan logam yang mencapai puncaknya pada zaman perundagian, yakni pada akhir zaman prasejarah, yaitu sekitar 2000 tahun silam, jauh sebelum pengaruh agama Hindu sampai di Bali.

Para ahli arkeologi berpendapat, hiasan kedok muka ini berfungsi simbolis-magis sebagai lambang leluhur yang dapat berfungsi sebagai pelindung dan penolak bala. Pendapat-pendapat ini, tentu bisa membantah cerita tentang bulan yang jatuh ke bumi. Lantas apakah mungkin sebagai hiasan telinga seorang manusia? Tentu saja dalam ukuran yang wajar hal itu tidak masuk akal. Yang agak masuk akal adalah nekara perunggu Pejeng sebagai mas kawin. Tentang kebenaran ini tentu perlu diadakan penelitian lebih lanjut.  (b.)

__________________________________

Penyunting: I MADE SUJAYA

COMMENTS

BLOGGER: 1
  1. Jegeg sekadi bulan di Pejeng, kenten sai pireng tiyang��, tabik��

    BalasHapus
Terima kasih atas kesediaan Anda menulis komentar yang santun.

SLOKA BALI$type=blogging$m=0$cate=0$sn=0$rm=0$c=4$va=0

/fa-fire/PALING DICARI$type=one

Nama

Bale Bengong,8,BALI ADVERTORIAL,25,Bali Aga,7,BALI FIGUR,20,Bali Hari Suci,7,Bali Herbal,3,Bali Hijau,2,Bali Iloe,60,BALI JANI,265,Bali Merawat Bumi,1,Bali Merenung,6,BALI MITOLOGI,2,BALI OPINI,12,Bali Pariwara,12,Bali Pujangga,1,Bali Pustaka,3,Bali Realita,2,Bali Sastra,1,Bali Simbol,2,Bali Spiritual,5,Bali Tempat Suci,2,Bali Terkini,5,Bali Tradisi,163,Bali Unik,3,BALI WISATA,15,BALINESIA,1,Boga Bali,2,Buda Wage Kelawu,3,Buku Bali,6,Cakepan,6,Cerpen,4,Desa Mawacara,21,Dewasa Ayu,6,Dresta Bali,13,EKONOMI,1,Hari Soma Ribek,2,Keto Kone,4,Legenda Bali,3,Nyama Braya,12,Oka Rusmini,2,POLITIK,6,Puisi,4,Rerahinan,1,Sarwa Prani,4,SASULUH,4,Segara Giri,13,SEMETON,4,Sima Dresta,27,Sloka Bali,11,Timpal,10,Ulasan,3,Wali Bali,16,Widya Pataka,5,Wija Kasawur,4,WISATA DESA,5,Wisata Kuliner,1,
ltr
item
balisaja.com - Bernas dan khas Bali: Menguak Misteri “Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?
Menguak Misteri “Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?
Nekara perunggu di Pura Penataran Sasih, Pejeng dipercaya masyarakat Bali sebagai bulan yang jatuh ke bumi. Apakah tafsiran yang relatif masuk akal?
https://1.bp.blogspot.com/-AmWQPV5sihM/YKxN3BQtFAI/AAAAAAAABLM/2Ns6CbD4ctU78r4ugY3A_cGm0kKdZxRJgCLcBGAsYHQ/w640-h456/Bulan%2Bdi%2BPejeng-1.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-AmWQPV5sihM/YKxN3BQtFAI/AAAAAAAABLM/2Ns6CbD4ctU78r4ugY3A_cGm0kKdZxRJgCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h456/Bulan%2Bdi%2BPejeng-1.jpeg
balisaja.com - Bernas dan khas Bali
https://www.balisaja.com/2021/05/menguak-misteri-bulan-pejeng-bulan-yang.html
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/2021/05/menguak-misteri-bulan-pejeng-bulan-yang.html
true
7771212736280013593
UTF-8
Loaded All Posts Mohon maaf, tidak ditemukan artikel yang cocok LIHAT SEMUA Baca Lengkap Balas Batalkan Balasan HAPUS Oleh BERANDA HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA Disarankan untuk Anda LABEL ARSIP TELUSURI SEMUA ARTIKEL Mohon maaf, tidak ada artikel yang sesuai pencarian Anda Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content