Melihat Diri Sendiri dalam Wayang

Makna Tumpek Wayang


Memaknai Hari Suci Tumpek Wayang


Sabtu, 13 Desember 2008 ini, umat Hindu kembali merayakan hari suci Tumpek Wayang. Pada hari itu diupacarai berbagai jenis alat-alat tetabuhan atau reringgitan seperti gong, gender, gambang, genta, gendongan termasuk wayang. Pemujaan ditujukan kepada Tuhan dalam manifestasi sebagai Hyang Iswara.

W. Watra dalam buku Filsafat Wayang dalam Panca Yadnya menyebutkan wayang berkisar pada masalah bayangan. Bicara masalah bayangan, harus ada cahaya. Berbicara masalah cahaya harus ada sumber cahaya. Sumber cahaya paling hakiki adalah Tuhan yang di Bali dikenal sebagai Hyang.


Karenanya, menurut Watra, wayang adalah bayangan akibat adanya sinar, antara gelap dan terang (rwa bhineda). Wayang ada karena cahaya dari Hyang (Tuhan). 

Dari pandangan itu, Tumpek Wayang dapat dimaknai secara lahir dan batin. Menurut I Gusti Ketut Widana, secara lahir Tumpek Wayang merupakan bentuk permohonan bagi mereka yang menjalani profesi pewayangan sehingga dapat menjadi dalang metaksu yang mampu menjembatani alam wayang yang abstrak ke dalam alam nyata melalui pementasan tokoh-tokoh pewayngan yang dipertontonkan untuk diambil nilai-nilai tuntunannya. 

Secara batin, melalui perayaan Tumpek Wayang kita akan selalu disadarkan bahwa hidup ini sebenarnya merupakan sebuah panggung wayang. Keberadaan kita, peranan yang didapat dan dilakukan dan ke mana akhirnya tujuan kita sudah diatur dan ditentukan oleh sang Dalang Agung yakni Hyang Widi. 

"Karena itu, kita diingatkan terus untuk senantiasa mendekatkan diri pada Hyang Widhi agar memperoleh jagadhita dan moksa, kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin," urai Widana. 

Selain itu, masih menurut Widana, Tumpek Wayang juga sejatinya mengajak umat untuk selalu bercermin pada wayang dengan segala tokoh dan perannya. Apakah kita seperti Dharmawangsa, Arjuna, Bima atau masih seperti Sekuni, Duryadana. Bercermin pada wayang itu penting untuk memperbaiki citra diri atau menyempurnakan karma masing-masing. 

IBG Agastia dalam kumpulan tulisannya, Wija Kasawur menulis, dengan menonton wayang sesungguhnya kita dapat menonton diri kita, kita dapat menghadirkan diri kita di hadapan kita. Makna pertempuran antara Rama dengan Rawana, Pandawa dengan Korawa, antara dharma dengan adharma, susila dengan asusila sesungguhnya adalah pertempuran yang terjadi dalam diri kita, pertempuran yang tak henti-hentinya. 

Karenanya, dapat dimengerti mengapa kemudian wayang mendapat posisi terhormat dalam kebudyaaan Hindu di Nusantara. Wayang menjadi salah satu sarana "pembebasan" diri. Di kalangan masyarakat Indonesia, wayang memiliki fungsi ruwat. Terlebih lagi di Bali, wayang menjadi sarana penyucian yang penting. Wayang, khususnya wayang lemah merupakan salah satu bagian penting wali dalam setiap karya berskala besar. Begitu juga anak yang lahir pada wuku Wayang akan di-bayuh dengan tirtha panglukatan wayang. 

I Gusti Ketut Widana sendiri melihat setiap perangkat dalam pementasan wayang memiliki makna tersendiri. Kelir wayang merupakan simbol ruang, alam permukaan bumi sebagai lambang badan jasmani yang akan menampakkan bayangan hari dan menggambarkan gejolak Tri Guna. Lampu belencong melambangkan matahari yaitu sinar hidup yang terpancar dari Hyang Widhi dan juga merupakan sinarnya Jiwatman yang memberikan sinar kepada Tri Guna. Dalang merupakan simbol dari bayangan Hyang Widhi yang berkuasa atas segala tokoh dan peran yang dimainkan manusia. Dalang juga merupakan jiwatma yang memberikan sinar/kekuatan melalui suksma sarira sehingga sthula sarira menjadi hidup dan dinamis. 

Wayang sendiri tidak lain sebagai lambang dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, amnusia, hewan dan tumbuh-tumnbuhan, masing-masing menjalani proses lahir, hidup dan mati sesuai kehendak-Nya. Gedong (tempat wayang) sendiri merupakan simbol Tri Kona (lahir, hidup, mati). Gender yang mengiringi pementasan wayang merupakan simbolik irama dinamis dari perjalanan zaman, juga merupakan suara suksma tentang kehidupan dan kematian.(*)

Teks dan foto: Ketut Jagra

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Bale Bengong,8,BALI ADVERTORIAL,25,Bali Aga,7,BALI FIGUR,20,Bali Hari Suci,7,Bali Herbal,3,Bali Hijau,2,Bali Iloe,60,BALI JANI,265,Bali Merawat Bumi,1,Bali Merenung,6,BALI MITOLOGI,2,BALI OPINI,12,Bali Pariwara,12,Bali Pujangga,1,Bali Pustaka,3,Bali Realita,2,Bali Sastra,1,Bali Simbol,2,Bali Spiritual,5,Bali Tempat Suci,2,Bali Terkini,5,Bali Tradisi,163,Bali Unik,3,BALI WISATA,15,BALINESIA,1,Boga Bali,2,Buda Wage Kelawu,3,Buku Bali,6,Cakepan,6,Cerpen,4,Desa Mawacara,21,Dewasa Ayu,6,Dresta Bali,13,EKONOMI,1,Hari Soma Ribek,2,Keto Kone,4,Legenda Bali,3,Nyama Braya,12,Oka Rusmini,2,POLITIK,6,Puisi,4,Rerahinan,1,Sarwa Prani,4,SASULUH,4,Segara Giri,13,SEMETON,4,Sima Dresta,27,Sloka Bali,11,Timpal,10,Ulasan,3,Wali Bali,16,Widya Pataka,5,Wija Kasawur,4,WISATA DESA,5,Wisata Kuliner,1,
ltr
item
balisaja.com - Bernas dan khas Bali: Melihat Diri Sendiri dalam Wayang
Melihat Diri Sendiri dalam Wayang
Makna Tumpek Wayang
http://4.bp.blogspot.com/_vbTJAqnzRlk/SUHuZH6k4MI/AAAAAAAAAgU/NFf7XLZZvSA/s320/Wayang-1.jpg
http://4.bp.blogspot.com/_vbTJAqnzRlk/SUHuZH6k4MI/AAAAAAAAAgU/NFf7XLZZvSA/s72-c/Wayang-1.jpg
balisaja.com - Bernas dan khas Bali
https://www.balisaja.com/2008/12/melihat-diri-sendiri-dalam-wayang.html
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/2008/12/melihat-diri-sendiri-dalam-wayang.html
true
7771212736280013593
UTF-8
Loaded All Posts Mohon maaf, tidak ditemukan artikel yang cocok LIHAT SEMUA Baca Lengkap Balas Batalkan Balasan HAPUS Oleh BERANDA HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA Disarankan untuk Anda LABEL ARSIP TELUSURI SEMUA ARTIKEL Mohon maaf, tidak ada artikel yang sesuai pencarian Anda Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content