Ruang Sejarah untuk yang Kalah

Oleh I Made Sujaya Sejarah senantiasa mencatat kegemilangan sang pemenang. Pihak yang kalah biasanya terabaikan, bahkan tidak punya tempat...

Oleh I Made Sujaya

Sejarah senantiasa mencatat kegemilangan sang pemenang. Pihak yang kalah biasanya terabaikan, bahkan tidak punya tempat dalam sejarah. Karena itu, sejarah pada suatu masa akan mengundang koreksi di masa yang lain.

Contoh teranyar tentu saja sejarah Orde Baru yang menempatkan Soeharto sebagai pemenang dalam pertarungan politik dengan Soekarno di akhir tahun 1960-an silam. Soeharto langsung menempatkan Soekarno sebagai pesakitan, sosoknya diasingkan dan secara perlahan perannya dihilangkan dalam sejarah. Sejarah Orde Baru adalah milik Soeharto semata, bukan milik Soekarno.

Seorang lelaki Bali memegang keris dalam suatu ritual. 

Bali sendiri mencatatkan sejarah liat tentang bagaimana sang pemenang memperlakukan yang kalah. Ketika para Arya dari Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajahmada mengalahkan kerajaan Bali Kuno, orang-orang Bali Kuno digusur. Tak cuma sentra kekuasaan diambil alih penguasa baru dari Majapahit, sistem sosial, keagamaan dan budaya Bali pun diganti dengan pola Majapahit. Bali yang sebelumnya kental dengan pola sosial desentralisasi diganti dengan pola sentralisasi.

Pemberangusan terhadap orang-orang kalah juga terjadi dalam masa-masa tumbuhnya kerajaan-kerajaan kecil di Bali pada abad XIX. Mengwi yang kalah ketika diserang Badung yang bersekongkol dengan Tabanan sekitar tahun 1891, raja dan keluarganya dihabisi dan wilayah kerajaannya dibagi-bagi. Begitu juga Jembrana yang dihancurkan Ubud, wilayah kerajaannya dibagi-bagi.

Yang paling mengerikan tentu saja pembantaian orang-orang PKI tahun 1965 ketika pecah peristiwa Gerakan 30 September. Kendati belum jelas PKI sebagai dalang dari peristiwa itu, PKI telah ditempatkan sebagai pihak yang kalah dan karenanya harus dihabisi.

Namun, Bali juga memiliki sejarah kearifan dalam memperlakukan pihak yang kalah. Raja Mengwi misalnya memperlakukan Pasek Badak, penguasa Desa Buduk yang dikalahkannya dengan terhormat. Pasek Badak dibuatkan pelinggih khusus plus disediakan penyungsung termasuk Raja Mengwi sendiri ikut menjadi penyungsung. Pelinggih ini kini terdapat di areal Pura Taman Ayun, Mengwi.

Belanda sendiri memilih untuk tidak menghabisi total raja-raja yang dikalahkannya. Raja-raja Bali itu masih diberikan hak untuk menjadi penguasa. Hanya hak-haknya yang dipreteli. Munculnya peristiwa puputan di Badung, Klungkung sejatinya tidaklah dikehendaki Belanda. Mereka menginginkan kerajaan-kerajaan itu jatuh tanpa harus terjadi pertumpahan darah. Malah, diharapkan terjadi kerja sama.

Memang, seyogyanya kita tidak selalu menempatkan pihak yang kalah sebagai kelompok yang mesti musnah. Mereka mesti diberikan ruang dalam sejarah, sama terhormatnya dengan mereka yang menjadi pemenang. Bukankah menang dan kalah adalah sesuatu yang senantiasa berdampingan. Yang satu menyebabkan yang lainnya ada. Tiada mungkin ada pemenang jika tidak ada yang mau mengaku kalah.

Tradisi Bali sendiri sudah mengajari kearifan semacam ini melalui konsep rwa binedha. Dua hal yang berbeda tetapi saling melengkapi. Kanan tiada mungkin hadir tanpa bagian yang kiri, siang mustahil ada tanpa malam, pria amatlah pincang jika tidak didampingi wanita.

Kesadaran tentang ruang sejarah bagi yang kalah ini penting untuk diingatkan kini manakala orang Bali disibukkan dengan kompetisi politik dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada). Bahwa kehormatan pemenang juga ditentukan oleh bagaimana sang pemenang menempatkan pihak yang kalah. Lebih penting dari itu, mesti disadari, pemenang dan pecundang sama-sama berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik.

_________________________________

Penulis, dosen IKIP PGRI Bali.

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Bale Bengong,7,BALI ADVERTORIAL,25,Bali Aga,7,BALI FIGUR,20,Bali Hari Suci,7,Bali Herbal,3,Bali Hijau,2,Bali Iloe,60,BALI JANI,265,Bali Merawat Bumi,1,Bali Merenung,6,BALI MITOLOGI,2,BALI OPINI,12,Bali Pariwara,12,Bali Pujangga,1,Bali Pustaka,3,Bali Realita,2,Bali Sastra,1,Bali Simbol,2,Bali Spiritual,5,Bali Tempat Suci,2,Bali Terkini,5,Bali Tradisi,163,Bali Unik,3,BALI WISATA,15,Boga Bali,2,Buda Wage Kelawu,3,Buku Bali,6,Cakepan,6,Cerpen,3,Desa Mawacara,21,Dewasa Ayu,6,Dresta Bali,13,EKONOMI,1,Hari Soma Ribek,2,Keto Kone,4,Legenda Bali,3,Nyama Braya,12,Oka Rusmini,2,POLITIK,6,Puisi,4,Rerahinan,1,Sarwa Prani,4,SASULUH,4,Segara Giri,13,SEMETON,4,Sima Dresta,27,Sloka Bali,10,Timpal,10,Ulasan,3,Wali Bali,16,Widya Pataka,5,Wija Kasawur,4,WISATA DESA,5,Wisata Kuliner,1,
ltr
item
balisaja.com - Bernas dan khas Bali: Ruang Sejarah untuk yang Kalah
Ruang Sejarah untuk yang Kalah
https://1.bp.blogspot.com/-pGrcyKyxbMk/YJ2-8z8sPRI/AAAAAAAABDc/-a601CIVhbUSGWNOmhoAnRJpgF0yXmRawCLcBGAsYHQ/w480-h640/keris%2Bbali.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-pGrcyKyxbMk/YJ2-8z8sPRI/AAAAAAAABDc/-a601CIVhbUSGWNOmhoAnRJpgF0yXmRawCLcBGAsYHQ/s72-w480-c-h640/keris%2Bbali.JPG
balisaja.com - Bernas dan khas Bali
https://www.balisaja.com/2008/01/ruang-sejarah-untuk-yang-kalah.html
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/
https://www.balisaja.com/2008/01/ruang-sejarah-untuk-yang-kalah.html
true
7771212736280013593
UTF-8
Loaded All Posts Mohon maaf, tidak ditemukan artikel yang cocok LIHAT SEMUA Baca Lengkap Balas Batalkan Balasan HAPUS Oleh BERANDA HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA Disarankan untuk Anda LABEL ARSIP TELUSURI SEMUA ARTIKEL Mohon maaf, tidak ada artikel yang sesuai pencarian Anda Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content