Terkini

Masih Sunyi, Jalan Pintas Penerbitan Buku di Bali


Langkah menerbitkan buku kini tidak serumit dulu. Orang kini sudah bisa menempuh jalan pintas untuk sampai menerbitkan buku. Kendati begitu, jalan pintas penerbitan buku di Bali masih sunyi. Yang berjalan di jalan pintas itu lebih banyak penulisnya dan belakangan penerbitnya. 

Pandangan ini dikemukakan sastrawan sekaligus penerbit Mahima Institute, Singaraja, Made Adnyana Ole saat menjadi narasumber dalam seminar dalam jaringan (sedaring) atau webinar bertajuk “Jalan Pintas Menerbitkan Buku” yang digelar Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Hiski) Bali dalam rangka pelantikan pengurus Hiski Komisariat Bali masa bakti 2020—2024, Jumat (7/8). Sedaring yang dimoderatori Sri Jayantini dari Universitas Mahasaraswati Denpasar itu juga menampilkan pembicara IB Jelantik Pidada Sutanegara dari penerbit Udayana University Press. Sedaring yang diikuti para pengurus dan anggota Hiski Bali ini juga diikuti seniman yang juga istri Gubernur Bali, Wayan Koster, Putu Putri Suastini Koster, Sekretaris Kota Denpasar, AA Ngurah Rai Iswara serta Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali, Toha Machsun.


Menurut Adnyana Ole, setidaknya ada lima penerbit kecil di Bali yang berjuang di jalan pintas itu, membangun budaya literasi masyarakat Bali. Kelima penerbit itu, yakni Buku Arti atau Prasasti yang dikelola sastrawan Gde Aryantha Soethama; penerbit Pustaka Larasan dan Cakra Press yang dikelola sejarawan Slamat Trisila, penerbit Pustaka Ekspresi yang dikelola sastrawan Bali modern, Made Sugianto; penerbit Pustaka Bali Seni yang dikelola sastrawan, Wayan Suardika, serta belakangan menyusul Mahima Institute. Mahima menjadi penerbit setelah membangun komunitas sastra, komunitas penulis.


“Karena ada perjuangan di situ, penerbit adalah pejuang literasi di tengah upaya pemerintah menggalakkan gerakan literasi,” kata Adnyana Ole.


Dalam pandangan Adnyana Ole, munculnya jalan pintas menerbitkan buku memang merupakan sebuah perjuangan untuk menjadikan daerah-daerah sebagai pusat literasi. Penerbitan buku tidak lagi menjadi dominasi penerbit-penerbit besar, penerbit-penerbit mayor yang umumnya berada di Jakarta. Penulis pun tidak perlu lagi mengalami proses menunggu lama kabar dari penerbit apakah naskahnya layak terbit atau tidak. Penulis kini bisa menggandeng penerbit-penerbit indie untuk menerbitkan bukunya.


Namun, menurut Adnyana Ole, jalan pintas penerbitan buku di Bali masih tetap sunyi karena adanya kendala distribusi. Ketika bukunya terbit, buku-buku itu tidak mudah untuk didistribusikan ke toko-toko buku besar. Penulis pun kebingungan hendak dipasarkan ke mana buku-bukunya.


“Karena itu, selain memberi bantuan kepada penulis, pemerintah perlu membangkitkan kembali toko-toko buku kecil yang memasarkan buku-buku karya penulis Bali,” kata Adnyana Ole.


IB Jelantik Pidada Sutanegara mengungkapkan era digital turut mendorong jalan pintas menerbitkan buku. Penulis kini bisa menerbitkan sendiri bukunya dengan catatan menguasai perangkat lunak desain buku. Bahkan, untuk menerbitkan buku elektronik atau e-book, orang bisa lakukan sendiri.


Kendati begitu, Jelantik Pidada menilai perlu ada kerja sama antara pemerintah, penulis buku, penerbit. Pemerintah diharapkan bisa memberikan stimulus bagi penulis dan penerbit untuk menggairahkan penerbitan buku di Bali. “Udayana University Press selalu terbuka untuk membantu menerbitkan naskah karya penulis-penulis Bali,” tandas Jelantik Pidada.


Adnyana Ole dan Jelantik Pidada menegaskan menulis dan menerbitkan buku itu penting artinya. Pasalnya, buku merupakan pameran atau etalase ilmu. Melalui buku, dunia ilmu pengetahuan terus tumbuh dan berkembang.


“Buku itu investasi ilmu untuk jangka panjang. Seorang dosen atau peneliti yang menulis buku akan bisa mengenalkan dirinya kepada orang lain di masa depan,” kata Adnyana Ole.


Hiski Bali, diharapkan Ole bisa turut berperan dalam gerakan literasi melalui penerbitan buku itu. Hiski Bali bisa mengambil peran menerbitkan buku-buku kritik sastra. Tidak perlu memikirkan buku itu laku atau tidak karena buku itu investasi ilmu untuk jangka panjang.


Pelantikan secara virtual pengusus Hiski Bali masa bakti 2020—2024 dilakukan Koordinator Bidang Pengembangan Hiski Pusat, Dr. I Ketut Sudewa mewakili Ketua Umum Hiski Pusat, Prof. Dr. Suwardi Endraswara. Ketua umum Hiski Bali, Dr. IGAA Mas Triadnyani didampingi Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. (Undiksha) sebagai ketua I, Dr. I Nyoman Suaka, M.Si. (IKIP Saraswati Tabanan) sebagai ketua II, Puji Retno Hardiningtyas, S.S., M.Hum. (Balai Bahasa Bali) sebagai sekretaris umum, Dr. I Gusti Agung Sri Jayantini, S.S., M.Hum., sebagai wakil sekretaris I, Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.S., M.Hum., sebagai wakil sekretaris II, Dr. Dra. Ni Wayan Sumitri, M.Si. (Universitas Mahadewa Indonesia) sebagai bendahara serta I Made Astika, S.Pd., M.A. (Undiksha), sebagai wakil bendahara. Pengurus inti ini juga dilengkapi dengan lima koordinator bidang, yakni penelitian dan publikasi ilmiah, pendidikan dan pelatihan, publikasi dan informasi, kerjasama, serta pertemuan ilmiah dan pementasan.


Putri Suastini Koster berharap Hiski Bali tidak hanya kelihatan gaungnya saat pelantikan atau ulang tahun. “Saya mengajak Hiski Bali untuk selalu hadir dalam berbagai perhelatan seni dan budaya, terutama dalam bidang keaksaraan atau literasi. Teman-teman Hiski saya harap mampu menggawangi, memberikan arah yang positif terhadap perkembangan sastra yang ada di Bali,” kata Putri Suastini. (b.)

______________________ 

Teks dan foto: Sujaya

 

1 komentar:

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.