Terkini

Sinergi Potensi Lokal Antardesa Wujudkan Kemandirian Pangan Bali

Terobosan LPD Kedonganan Songsong Kenormalan Baru



Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra (paling kanan) mehyerahkan paket bantuan kebutuhan pokok kepada nasabah krama tamiu LPD Kedonganan, Minggu (21/6).

Pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) memang merontokkan perekonomian masyarakat Bali yang bersandar pada sektor pariwisata. Namun, pandemi covid-19 juga membuka peluang untuk mulai serius mengurus kemandirian pangan Bali. Sinergi potensi lokal antardesa bisa dipertimbangkan untuk mewujudkan harapan kemandirian pangan Bali.


Langkah kecil sinergi potensi lokal antardesa itu mulai dirintis warga Desa Adat Kedonganan, Badung, dan warga Desa Adat Pemanis, Tabanan. Difasilitasi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan melalui program pemberian bantuan paket kebutuhan pokok bagi nasabah krama tamiu, warga di kedua desa berkolaborasi memenuhi paket bantuan itu. Warga Kedonganan menyediakan kebutuhan ikan laut pindang, sedangkan warga Pemanis menyediakan paket sayur mayur. Beras dan kopi juga didatangkan dari Tabanan tetapi dikemas di Kedonganan. Yang menarik, paket sayur mayur dari Pemanis dibungkus dengan kisa (sejenis tas anyaman daun kelapa muda).


Paket bantuan kebutuhan pokok bagi nasabah krama tamiu itu diserahkan Minggu (21/6) di Tenten Grosir Koperasi Tri Guna Artha Kedonganan. Nasabah krama tamiu yang menerima bantuan paket kebutuhan pokok itu sebanyak 700-an orang. Nasabah krama tamiu yang menerima bantuan paket kebutuhan pokok mesti memenuhi syarat khusus, yakni pemilik tabungan dengan nilai lebih besar atau sama dengan Rp 15 juta dan pemilik simpanan berjangka lebih besar atau sama dengan Rp 50 juta.


Paket bantuan kepada nasabah krama tamiu itu merupakan bagian dari program stimulus ekonomi yang dikeluarkan LPD Kedonganan sebagai respons terhadap keterpurukan ekonomi masyarakat setempat akibat covid-19. Sejak 9 April 2020 lalu, LPD Kedonganan memberikan tiga kali paket bantuan kebutuhan pokok kepada nasabah krama adat dan nasabah krama tamiu. Paket bantuan kepada nasabah krama adat diserahkan Minggu (14/9), sedangkan untuk nasabah krama tamiu diserahkan Minggu (21/6).


Ketua LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra mengungkapkan era kenormalan baru di masa pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) mesti dijadikan momentum untuk membangkitkan kembali ekonomi masyarakat adat Bali melalui pemberdayaan keunggulan potensi ekonomi lokal di masing-masing desa adat. Berbagai keunggulan potensi lokal itu dipasarkan melalui sinergi antardesa adat dalam konsep saling memenuhi kebutuhan krama di masing-masing desa adat dengan LPD sebagai fasilitator dalam aspek keuangan. Ini sebagai implementasi nilai-nilai kearifan lokal Bali berlandaskan ajaran agama Hindu, antara lain swadesi (mandiri, berdikari, menghargai dan mengutamakan potensi diri sendiri), satyagraha (mampu memenuhi kebutuhan sendiri), gilik saguluk (kebersamaan, kekeluargaan), para-sparo (musyawarah mufakat), salunglung sabayantaka (rasa senasib sepenanggungan), sarpana ya (seirama setujuan) serta pang pada payu (sama-sama menguntungkan).


“Kedonganan memiliki keunggulan potensi lokal dalam bidang perikanan. Sementara Desa Adat Pemanis di Penebel, Tabanan memiliki keunggulan potensi lokal dalam bidang pertanian. Produk perikanan di Kedonganan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan krama Desa Adat Pemanis, sedangkan produk pertanian di Pemanis dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan krama Desa Adat Kedonganan. Transaksi dilakukan melalui mediasi LPD di masing-masing desa adat,” beber Madra.


Dengan pola sinergi yang difasilitasi LPD semacam itu, keberadaan LPD tidak sekadar sebagai lembaga keuangan yang menjalankan fungsi intermediasi, melainkan juga berperan aktif menjadi motor penggerak perekonomian krama adat. Hal ini sejalan dengan kedudukan LPD sebagai baga artha (lembaga keuangan) padruwen desa adat yang yang mengelola artha brana (harta benda/kekayaan) dan pengelola dana punia padruwen desa adat.

 

Rintisan BUPDA


Sinergi antarusaha krama adat lintasdesa adat ini diharapkan menjadi semacam rintisan pembentukan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) di Desa Adat Kedonganan melalui fasilitasi LPD Kedonganan. BUPDA ini yang menjalankan fungsi penampungan produk lokal Kedonganan lalu menyalurkannya kepada krama Desa Adat Kedonganan dan krama di luar Kedonganan. Selain itu, BUPDA ini juga menampung dan menyalurkan produk lokal dari desa adat lain di Bali yang sesuai dengan kebutuhan krama Desa Adat Kedonganan.


Dalam Perda Provinsi Bali Nomor 4 tahun 2019 tentang Desa Adat, khususnya pasal 60 disebutkan bahwa desa adat memiliki utsaha (lembaga usaha) meliputi LPD dan BUPDA. Akan tetapi, ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman, mekanisme dan pendirian BUPDA akan diatur dengan perda. Karena itu, Madra mendorong agar Perda BUPDA bisa segera dibuat sebagai payung hukum bagi desa adat mendirikan BUPDA berbasis keunggulan produk lokal masing-masing desa adat.


Salah seorang warga Desa Adat Pemanis, Tabanan yang juga seorang perupa dan pemerhati situs bersejarah, I Made Bakti Wiyasa berterima kasih kepada LPD Kedonganan yang bersedia membangun sinergi dengan krama Desa Adat Pemanis dalam penyediaan bahan-bahan kebutuhan pokok bagi krama dan nasabah LPD Kedonganan. Upaya itu, menurut Bakti Wiyasa, mampu menggairahkan kembali perekonomian masyarakat di desanya yang berbasis pertanian.


“Para petani sayur di desa kami kini bisa tersenyum kembali karena hasil panennya dibeli, ibu-ibu PKK juga sumringah karena mendapat tambahan penghasilan. Begitu juga anak-anak muda dan para lansia yang bergairah kembali membuat anyaman kisa,” kata Bakti Wiyasa.


Madra memberi perhatian khusus pada penggunaan kisa untuk membungkus paket bantuan sayur mayur. Menurutnya, hal itu tidak saja bentuk dukungan kepada Peraturan Gubernur Bali mengenai pengurangan timbunan sampah plastik sekaligus memberdayakan potensi usaha anyaman krama Desa Adat Pemanis serta memberikan sentuhan seni berbasis kearifan lokal Bali. “Ini bisa dikembangkan sehingga kearifan lokal Bali berupa seni anyaman ini memiliki nilai tambah secara ekonomi bagi pelakunya,” imbuh Madra.


Salah seorang nasabah krama tamiu yang tinggal di Jimbaran, Wayan Ruma berterima kasih kepada LPD Kedonganan yang memberi perhatian kepada nasabah krama tamiu. Pemberian bantuan paket kebutuhan pokok itu sangat membantu bagi masyarakat untuk menyambung hidup.


Hal senada diungkapkan nasabah krama tamiu lain, Ni Made Parwati yang tinggal di Tanjung Benoa yang merasa sangat terbantu dengan pemberian paket kebutuhan pokok dari LPD Kedonganan. “Selama ini kami juga ikut mendapat paket daging babi saat Galungan. Kami merasa benar-benar diperhatikan, walau kami sebagai nasabah krama tamiu,” kata Parwati.  (b.)

_________________________________  


Teks dan foto: I Made Sujaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.