Terkini

Upacara Terakhir: Getir Pesisir Bali dalam Orkestrasi Kata Gm. Sukawidana

Penyair Gm. Sukawidana memberi pengantar pada peluncurdan dan bedah buku Upacara Terakhir karyanya sendiri di Jatijagat Kampung Puisi (JKP), Renon, Denpasar, Sabtu (14/3) malam. 
jika nanti teluk benoa ditimbun 
sungai-sungai kehilangan muara
ke mana sampan mesti menepi 
(kau dan aku kehilangan sumber mata air nenek moyang
di tanah sendiri) 

Bait itu petikan sajak "Upacara Muara Teluk Benoa" karya penyair Gm. Sukawidana yang dimuat dalam buku Upacara Terakhir. Buku kumpulan puisi terbaru karya penyair yang juga guru di SMPN 1 Denpasar itu diluncurkan sekaligus dibedah di Jatijagat Kampung Puisi (JKP) di Renon, Denpasar, Sabtu (14/3) malam. Penyair Tan Lioe Ie dan budayawan Hartanto Yudo Prasetyo tampil sebagai pembedah dengan dipandu penyair Wayan "Jengki" Sunarta. Sejumlah seniman, sastrawan, dan budayawan turut hadir, termasuk Umbu Landu Paranggi. 

Kritik sosial terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa memang memang mewarnai 40 sajak-sajak Gm. Sukawidana dalam Upacara Terakhir. Setidaknya ada empat sajaknya yang bertema reklamasi Teluk Benoa. 

Pesisir Bali memang menjadi wilayah yang digarap Gm. Sukawidana dalam sajak-sajaknya. Selain Teluk Benoa, penyair yang lebih suka disebut gelandangan ini juga menulis sajak tentang getir pesisir Serangan, Padanggalak, Pantai Lingga, Pelabuhan Buleleng hingga peladang garam pesisir Kusamba. Sajak-sajak GM tentang pesisir Bali merepresentasikan kegetiran karena wilayah yang secara kultural disakralkan oleh masyarakat Bali itu tiada henti digerus kuasa modal. 

"Serangan dan Teluk Benoa adalah masa kecil saya sampai saat ini. Saya banyak bergaul dengan orang-orang Serangan dan Teluk Benoa. Wilayah pencarian saya juga di sekitar Teluk Benoa. Bahkan di masa lau saya punya sampan untuk memancing di sana. Jadi akrab sekali," kata GM, panggilan akrabnya, saat memberi pengantar pada awal acara bedah bukunya. 

Ketika serangan dan Teluk Benoa menjadi ramai, muncul muncul respons-respons Gm. Sukawidana dalam bentuk narasi kau dan aku. "Entahlah kau itu sahabat saya di sini, entahkah itu orang-orang pesisir di sekitar tempat itu. Kau dan aku ini tidak imajiner. Dia nyata," imbuh Gm. Sukawidana.  

GM mengaku dirinya termasuk penyair yang tidak produktif. Dia sulit menulis puisi jika tidak bersentuhan langsung dengan subjek yang akan dijadikan puisi. "Saya kagum dengan teman-teman dengan berimajinasi saja sudah mampu membuat sebuah puisi. Tapi bagi saya hal itu mustahil saya lakukan. Saya harus bersentuhan dengan subjek yang akan jadikan puisi. Saya harus mengalami peristiwa itu. Saya merenungkan kemudian saya narasikan. Nah ketika menarasikan inilah permasalahan itu. Saya tidak bisa menarasikan aku sebagai aku saja tapi harus ada yang saya ajak berkomunikasi supaya harus ada kau dan aku. Puisi-puisi saya tidak sebatas narasi imajinasi, tetapi dia merupakan narasi dengan pengalaman-pengalaman saya berkaitan dengan apa yang saya ungkapkan," tutur GM.

Penyair Tan Lioe Ie (tengah) dan Hartanto Yudo Pfrasetyo (paling kanan) menjadi pembicara dipandu penyair Wayan "Jengki" Sunarta (paling kiri). 
Tan Lioe Ie juga mengakui kuatnya kritik sosial atas penjarahan tanah dan pesisir Bali dalam sajak-sajak Gm. Sukawidana. Tan Lioe Ie menyebut diksi dalam sajak-sajak GM Sukawidana menunjukkan kontras atas kapitalisme yang serakah, yang bersekongkol dengan penguasa yang buta yang menjarah tanah Bali. 

"Sangat tajam perjuangan GM lewat puisi-puisinya. Secara intrinsik GM sukses. Secara ekstrinsik, ada dua yang menjadi perhatiannya, yakni problem kapitalis serakah dan kritik terhadap itu serta romantisme kultural," kata Yokki, panggilan akrab Tan Lioe Ie. 

Tapi, kata Yokki, yang patut direnungkan yakni sisi romantisme kultural dalam sajak-sajak GM. Ketika pesisir atau tanah tidak hanya menjadi jarahan kapitalis yang berkolaborasi dengan penguasa itu, GM menghadirkan secara kontras simbol-simbol kultur. Namun, apakah benar generasi kini yang direpresentasikan GM dalam sajak-sajaknya sebagai Made Teruna dan Nyoman Bajang memang ingin kembali atau mempertahankan yang sudah ada. "Di sinilah kita perlu melakukan autokritik, tanpa mengatakan karya itu gagal secara estetik," kata Yokki. 

Hartanto menyebut sajak-sajak GM Sukawidana sebagai orkestrasi kata. Sajak-sajak GM sarat dengan kata 'identitas Bali' atau kata yang berciri khusus, mengidentifikasikan pemakainya pada manusia kultur Bali. Hal ini membuat pembaca yang tidak berlatar belakang kultur Bali tidak mudah memahami makna sajak-sajak GM. Namun, dalam menikmati puisi, hal itu tidak selalu penting, karena penikmat bisa mengidentifikasi perasaan dan suasana yang dibangun penyair dalam sajak-sajak itu. 

Menggunakan pendekatan symphonic poem, Hartanto merasakan 'kekentalan ekspresi' dari sajak-sajaknya yang lahir dari kegelisahan GM Sukawidana atas prubahan Bali yang begitu cepat. Terutama, wilayah pesisir seperti Teluk Benoa, Sanur, Buleleng, Pulau Serangan, dan sebagainya. Dalam sajak-sajaknya bisa dibaca kegelisahan GM Sukawidana akan perilaku para "developmentalis" dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ini tak hanya berlaku di Bali, tapi merupakan persoalan global. Acapkali konsep memang pembangunan lupa "mempertimbangkan" kepentingan masyarakat bahkan terkadang ada kecenderungan mengorbankannya, meski tidak semua konseptor berbuat demikian. 

"Seperti persoalan rencana reklamasi Teluk Benoa maupun pelabuhan Benoa. Rencana ini jelas merusak hutan mangrove berpuluh hektar dan memporak 'tata ruang kebudayaan' masyarakat," kata Hartanto.

Menurut Hartanto, sajak-sajak GM tentang Teluk Benoa menampakkan secara jelas ekspresi pesimisme Gm Sukawidana pada sesuatu yang tak mungkin dilawannya sendirian, kecuali menebar kesadaran pada generasi berikutnya. Melalui sajak-sajaknya, Gm Sukawidana seperti mengajak teruna-teruni 'pemuda-pemudi' Bali untuk lebih memahami ke-Bali-annya dengan meneladani maestro tabuh dari Desa Sesetan, Nyoman Rembang. (b.)

______________________________ 

Teks dan foto: I Made Sujaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.