Terkini

Saatnya Bali Tunjukkan Nyepi Sepenuh Hati

Suasana Nyepi di Pantai Kuta beberapa tahun lalu. 
Di tengah duka dunia atas pandemi coronavirus desease 2019 (covid-19),  masyarakat Bali kembali melaksanakan catur brata panyepian sebagai wujud perayaan hari suci Nyepi tahun baru Saka 1942. Selain tak keluar rumah atau bepergian (amati lelungan), masyarakat Bali juga tidak menyalakan api (amati gni), tidak bekerja (amati karya), bahkan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Selama Nyepi, Bandara Ngurah Rai Tuban juga ditutup selama 24 jam. 

Tentu, Nyepi kali ini tidak akan pernah dilupakan karena terjadi dalam suasana grubug agung (wabah yang meluas di seluruh dunia) covid-19. Sejumlah negara di dunia sudah lebih dulu melakukan 'nyepi' melalui kebijakan lockdown atau mengunci rapat pintu masuk dan keluar sebuah negara atau daerah untuk mencegah penyabaran virus korona. China yang menjadi negara pertama memiliki kasus covid-19 me-lockdown kota Wuhan sejak awal Januari lalu. Sejumlah negara lain yang memiliki kasus covid-19 cukup signifikan juga mengikuti langkah China, memilih lockdown atau 'nyepi', seperti Italia, Denmark, Spanyol, Perancis, Filipina, Malaysia dan sejumlah negara lain. Terakhir, Inggris juga akhirnya memutuskan 'nyepi'. 

Tentu orang Bali yang tak pernah menduga, tradisi Nyepi yang diwariskan leluhur mereka ternyata bisa menjadi solusi bagi dunia tatkala menghadapi pandemi penyakit menular berbahaya semacam covid-19. Selama ini, orang Bali berbangga karena tradisi Nyepi ternyata berkontribusi menurunkan emisi karbondioksida (CO2). Saat Konferensi Perubahan Iklim digelar di Nusa Dua akhir tahun 2007, filosofi tradisi Nyepi pun dipresentasikan sebagai sebuah kearifan lokal yang relevan dalam kampanye penurunan gas emisi CO2 untuk mengurangi dampak buruk pemanasan global. Ternyata Nyepi bukan sekadar sebuah upaya mengistirahatkan alam sehingga pencemaran lingkungan bisa dikurangi, tetapi juga penyembuhan terbaik ketika pandemi merajam dunia. Bahkan, berbagai negara di dunia itu tak hanya nyepi sehari seperti di Bali, tetapi berhari-hari, berminggu-minggu hingga hitungan bulan. 

Penutur kejernihan asal Desa Tajun, Buleleng, Gede Prama menulis di akunnya, Gede Prama's Compassion pada 18 Maret 2020, "Karena virus Corona, hari raya Nyepi jadi mendunia". "Sudah puluhan tahun sejumlah sahabat di Bali berjuang ke sana ke mari agar hari raya Nyepi bisa dilakukan lebih luas dari sekadar Bali saja. Dan ternyata belum berhasil. Anehnya, begitu dunia dibikin supertakut oleh virus corona, banyak kota-kota besar dunia jadi sepi. Persis sama dengan suasana jalanan di Bali ketika hari raya Nyepi." 

Boleh jadi juga ada rasa bangga di kalangan orang Bali terhadap tradisi Nyepi yang dilaksanakannya rutin saban penanggal apisan Sasih Kadasa, sekitar bulan Maret-April. Dosen sastra Bali di Fakultas lmu Budaya (FIB) Unud, Dewa Windu Sancaya juga menulis di dinding akun facebook-nya, "nyepi adalah jawaban masa silam untuk masa kini dan masa depan lingkungan alam yang lebih baik".

Indonesia, termasuk Bali, juga terpapar virus korona. Hingga Selasa (24/3) sore, dilaporkan tercatat 686 kasus positif covid-19, 55 di antaranya meninggal dunia dan 30 orang dinyatakan sembuh. Bali mencatat enam kasus positif covid-19 dengan dua di antaranya meninggal dunia. 

Desakan untuk lockdown, untuk nyepi, kepada pemerintah terus bergema di media sosial, tak terkecuali di Bali. Namun, Presiden Jokowi menyatakan tidak mengambil opsi itu dan lebih memilih melaksanakan social distancing atau physical distancing (pembatasan sosial atau pembatasan fisik di ruang publik). Gubernur Bali, Wayan Koster sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah mengikuti keputusan pemerintah pusat: tak ada lockdown untuk Bali selama masa siaga bencana covid-19.

Namun, Bali akan menutup diri atau 'lockdown' selama 24 jam penuh pada saat hari Nyepi, Rabu, 25 Maret 2020 pukul 06.00 wita hingga Kamis, 26 Maret 2020 pukul 06.00 wita. Tanpa ada virus korona pun tradisi ini tetap dilaksanakan di Bali. 

Belakangan, Gubernur Koster mengeluarkan imbauan agar masyarakat Bali tetap tinggal di rumah selama hari Ngembak Gni pada Kamis, 26 Maret 2020. Ini dimaknai oleh masyarakat Bali sebagai Nyepi yang diperpanjang atau Nyepi selama dua hari. Bahkan, Bupati Gianyar, Agus Mahayastra lebih tegas lagi merespons imbauan Gubernur Bali itu dengan mengeluarkan instruksi agar warga Gianyar berdiam diri di rumah pada Kamis, 26 Maret 2020. Untuk menjamin instruksi itu dilaksanakan, Bupati Agus Mahayastra menyatakan akan menutup perbatasan wilayahnya dengan kabupaten lain di Bali. Bupati Karangasem juga mengikuti langkah Bupati Gianyar, meskipun tanpa menyebut sebagai instruksi, melainkan imbauan. 

Berbagai imbauan dan instruksi itu tak lepas dari dinamika dalam masyarakat Bali selama ini menyikapi wabah virus korona. Kendati pengalaman buruk berbagai negara sudah begitu benderang, tak sedikit orang Bali yang masih yakin tanah kelahiran mereka tetap aman atau tak menyadari betapa berbahayanya wabah virus covid-19 ini. Anjuran bekerja, belajar, dan beribadah di rumah serta menjaga jarak fisik di ruang publik tergolong belum banyak oleh orang Bali. Bahkan, orang Bali sempat terjebak dalam perdebatan publik yang relatif hangat tentang bagaimana seyogyanya tradisi dan budaya Bali ditempatkan dalam masa siaga bencana covid-19, seperti pro dan kontra pengarakan ogoh-ogoh. Gubernur Bali akhirnya mengambil keputusan tegas melarang pengarang ogoh-ogoh dalam bentuk apa pun dan di mana pun selama masa siaga bencana covid-19. 

Tak pelak, Nyepi kali ini memang menjadi penting bagi masyarakat Bali. Pasalnya, Nyepi kali ini tak lagi hanya sebagai wujud ketaqwaan dan ketaatan menjalankan ajaran agama maupun merawat tradisi warisan leluhur, tetapi juga sebuah jalan keluar menyelamatkan umat manusia menghadapi pandemi covid-19 yang mematikan. Hanya diam di rumah, menghindar dari keramaian serta melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai cara terbaik memutus mata rantai penyebaran covid-19. Semangat diam di rumah, menyepi dan hening itu diwujudkan dalam tradisi Nyepi. Karena itu, kini saatnya masyarakat Bali menunjukkan bagaimana melakoni Nyepi sepenuh hati. Karena, hanya dengan nyepi, berdiam di rumah, kita bisa menyelamatkan diri, keluarga, lingkungan sekitar kita, dan bahkan dunia dari virus korona yang mematikan. (b.)
______________________________ 

Teks: I Made Sujaya
Foto: Istimewa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.