Terkini

Lagu Bali: Dulu Risih Menyanyikannya, Kini Jadi Kebiasaan


Dulu, kaum muda Bali risih mendengar atau menyanyikan lagu daerahnya. Kesan kampungan begitu kuat. Namun, kini, menyanyikan lagu Bali sudah menjadi kebiasaan bahkan membanggakan bagi anak-anak muda Bali. Banyak penyanyi muda yang mencuat karena menyanyikan lagu-lagu Bali. 

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan "Kun" Adnyana pun punya penilaian khusus mengenai fenomena ini. "Lagu daerah Bali merupakan hilirisasi penguatan dan pemajuan kebudayaan yang paling dinikmati masyarakat Bali," ujarnya saat memberi sambutan pada kegiatan kriyaloka atau workshop mengenai lagu daerah Bali di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali di Denpasar, Rabu (11/3). 

Adnyana menilai Pulau Dewata memiliki kebanggaan bahwa budaya Bali juga dilestarikan lewat lagu-lagu yang mudah diterima oleh berbagai kalangan usia. Parade lagu daerah Bali di ajang PKB, menurut dia, juga menjadi wahana pembangunan karakter generasi muda Bali di masa depan.

Adnyana berharap materi lagu yang diciptakan pada parade lagu daerah Bali PKB tidak hanya bertutur tentang keindahan, tapi di dalamnya juga harus diselipkan tuntunan, etika, motivasi kehidupan yang optimistik, kegairahan semangat masyarakat. “Kami ingin tema-tema yang diangkat membangkitkan optimisme. Lagu seperti juga di masa lalu, memiliki peran menyemangati perjuangan kemerdekaan, persatuan dan pembangunan bangsa. Harapannya lagu daerah Bali juga ada pada titik itu,” kata Adnyana.

Narasumber workshop, I Gusti Putu Rakadhanu yang merupakan tokoh pencipta lagu daerah Bali dan telah puluhan tahun berkarya menceritakan sejarah perkembangan lagu daerah Bali diawali dengan terbentuknya Band Putra Dewata, pimpinan AA Made Cakra pada awal tahun 1960. Kemudian disusul I Gede Darna (Singaraja), dan pencipta-pencipta lainnya. Perkembangan lagu Bali tahun 1960 oleh Band Putra Dewata berlangsung hingga bulan September 1965. Sempat terhenti karena ada peristiwa G30S/PKI.

Beberapa tahun kemudian, antara 1969 dan 1970 bermunculan siaran langsung lagu-lagu ciptaan AA Made Cakra lewat stasiun-stasiun radio swasta yang hanya diiringi gitar tunggal. Perlahan band Putra Dewata kembali dibangkitkan. Semua lagu AA Made Cakra tersebut sangat kental dengan nuansa Bali dengan notasi pentatonis. Barulah kemudian muncul pencipta-pencipta lagu generasi milenial menggebrak Bali dengan lagu-lagu diatonis berbahasa Bali.

Pada tahun 1978, lanjut Rakadhanu, Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra mengadakan Lomba Cipta Lagu Bali. Dari lomba tersebut, lagu-lagu yang menang dijadikan lagu wajib dan lagu pilihan pada PKB. Lagu yang dilombakan diwajibkan menggunakan notasi laras pelog atau selendro, sesuai dengan laras gamelan Bali. Hal ini bertujuan agar identitas Bali tetap terjaga atau tidak punah. “Pendapat saya pribadi, juri harus peka dengan lirik. Liriknya harus berbahasa Bali, karena ini adalah parade lagu daerah Bali,” ungkapnya.

Terkait ajang parade lagu daerah Bali, Rakadhanu berharap juri yang terpilih tidak boleh merangkap menjadi pembina atau pelatih untuk menjaga independensi. “Juri tidak boleh menjadi pembina, juri tidak boleh menjadi pelatih. Kalau juri jadi pembina atau pelatih, bisa kacau,” katanya.

Rakadhanu pun bersyukur dengan diadakannya workshop, karena yang hadir adalah para peserta dan pembina. Dengan demikian kriteria penciptaan dan penilaian akan lebih sampai kepada peserta yang akan mengikuti parade lagu daerah Bali. “Dulu sewaktu saya menjuri, saya khawatir. Sebab saat technical meeting, yang datang malah kepala dinasnya, bukan peserta atau pelatihnya. Sehingga saat technical meeting terjadilah perubahan kriteria, dan itu pun tidak disampaikan kepada peserta dan pelatih di daerahnya. Akhirnya saat tampil, mereka masih menggunakan kriteria lama,” tandas Rakadhanu. (b.)

_______________________  

Teks dan Foto: Made Radheya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.