Terkini

Akhirnya, Denpasar Sepakati Tunda Pengarakan Ogoh-ogoh

Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra duduk bersama para bendesa dalam pertemuan di gedung Sewaka Dharma Denpasar, Jumat (20/3). Pertemuan itu menyepakati menunda pengarakan ogoh-ogoh karena suasana siaga bencana covid-19.
Kota Denpasar akhirnya sepakat menunda kegiatan pengarakan ogoh-ogoh selama masa siaga bencana coronavirus desease 2019 (covid-19). Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar akan memfasilitasi kegiatan sejenis festival ogoh-ogoh setelah masa siaga bencana covid-19 ini berlalu, mungkin antara bulan September atau Oktober 2020, tergantung perkembangan situasi. Bahkan, Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra berjanji Pemkot Denpasar siap memberikan bantuan Rp 10 juta kepada setiap banjar untuk kegiatan festival ogoh-ogoh itu kelak. Keputusan penundaan pengarakan ogoh-ogoh itu dicapai dalam pertemuan Walikota Denpasar dengan para bendesa adat se-Kota Denpasar dan Satuan Tugas (Satgas) Siaga Bencana Kota Denpasar di Gedung Swaka Dharma, Lumintang, Denpasar Jumat (20/3). 

"Ini bukan membatalkan tetapi menunda dalam keadaan siaga bencana karena ada covid-19," kata Rai Mantra. 

Rai Mantra mengajak semua pihak di Kota Denpasar, terutama anak-anak muda memahami penundaan ini semata-mata karena kondisi saat ini dalam status siaga bencana covid-19. Diingatkan Rai Mantra, covid-19 dengan segala risiko dan tantangannya harus diantisipasi dengan baik. Makanan pertama bagi covid-19 yakni kehilangan kesadaran tentang covid-19 itu sendiri. Padahal, tujuan hari suci Nyepi sejatinya meningkatkan kesadaran (cetana).

Menurut Rai Mantra, penundaan pengarakan ogoh-ogoh di Kota Denpasar juga didasari pertimbangan mencegah terjadinya pemindahan keramaian orang menonton pawai ogoh-ogoh di Denpasar karena di daerah lain dilarang. "Gianyar melarang, lalu kita tetap melaksanakan. Jelas yang nonton akan ke Denpasar. Keramaian di Gianyar pindah ke Denpasar. Sedangkan penanggulangan covid-19 itu caranya dengan menghindari keramaian karena keramaian itulah makanan terbesar covid-19. Memang harus ada satu keberanian," kata Rai Mantra. 

Rai Mantra memahami anak-anak muda di banjar-banjar akan kecewa dengan penundaan ini. Namun, Rai Mantra mengajak para bendesa bijaksana menyikapi hal seperti itu. Anak-anak muda itu mesti diberi pengertian bahwa dalam situasi siaga bencana, ada aturan yang harus ditaati. Kalau tak diikuti, tentu akan disalahkan. Dalam keadaan siaga bencana, semua orang harus tunduk kepada aturan. Artinya ada kesiapsiagaan dan menghindari hal-hal yang menjadi sumber penyebaran covid-19. 

"Sekali lagi ini bukan membatalkan, tetapi menunda. Nanti setelah situasi kembali pulih, mungkin bulan September-Oktober, mari kita buat festival ogoh-ogoh, misalnya. Atau, ogoh-ogoh night. Tiang siap membantu tiap STT Rp 10 juta untuk mendukung kegiatan itu," janji Rai Mantra. 

Rai Mantra juga menyatakan siap memfasilitasi pertemuan anak-anak muda yang masih belum bisa menerima kesepakatan penundaan pengarakan ogoh-ogoh itu dengan menyertakan ahli untuk menjelaskan masalah covid-19 sehingga keputusan penundaan pengarakan pada masa siaga bencana mesti diambil. "Kalau masih ada pertentangan di desa, kumpulkan di sini, nanti dijelaskan kembali kepada orang yang belum mengerti untuk memperkecil perdebatan. Ini juga agar bendesa lebih mudah mengatur. Jangan lelipi ngalih gegitik dalam situasi siaga bencana," tegas Rai Mantra. 

Bendesa Adat Pagan, Denpasar, I Wayan Subawa juga mengajak semua pihak, terutama anak-anak muda untuk mengikuti anjuran pemerintah. Memang, penundaan pengarakan ogoh-ogoh cukup berat. Namun, jika tetap memaksakan diri mengarak ogoh-ogoh, padahal dalam situasi siaga bencana covid-19 lalu setelah itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, justru akan berdampak buruk bagi adat dan budaya Bali. "Itu tidak baik bagi politik kultural kita di Bali," kata mantan Sekda Kabupaten Badung ini. 

Mengenai pelaksanaan melasti dan tawur agung kasanga, Rai Mantra mempersilakan melaksanakan sesuai SE dan dresta di masing-masing desa adat. Namun, pembatasan pelaksana dan peserta upacara mesti tetap dipertimbangkan.  

Pertemuan itu juga menghadirkan ahli virologi dari Unud yang juga Ketua yayasan Lingkar Sehat Foundation, Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp.MK. Sri Budayanti memberikan edukasi kepada para bendesa adat se-Kota Denpasar mengenai covid-19. 

Desa Adat Denpasar Lebih Dulu Melarang 

Sebelum kesepakatan penundaan pengarakan ogoh-ogoh dicapai, Bendesa Adat Denpasar sudah lebih dulu mengeluarkan Surat Edaran Nomor 36/DA-DPS/III/2020 perihal Larangan Pengarakan Ogoh-ogoh tertanggal 19 Maret 2020. Surat yang ditandatangani Bendesa Adat Denpasar, AAN Rai Sudarma itu merujuk kepada Surat Edaran Bersama Gubernur Bali, PHDI Bali dan MDP Bali yang dalam huruf b angka 3 menyebut, yang bertanggung jawab dalam hal tetap melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh adalah bendesa adat dan manggala banjar adat. Atas dasar itu, Bendesa Adat Denpasar dengan kerendahan hati mengajak warga Seka Teruna se-wewidangan Desa Adat Denpasar tinut atau turut elaksanakan imbauan, khusus pencegahan covid-19 yang melanda dunia saat ini, khususnya di Bali. 

Rai Sudarma menjelaskan alasan mengapa pengarakan ogoh-ogoh dilarang. Mesti diberi batas waktu pengarakan ogoh-ogoh dari pukul 17.00 hingga 19.00 wita, pihaknya yakin besar kemungkinan ketertiban dan ketepatan waktu pengarakan ogoh-ogoh tidak bisa tercapai. 

"Ketertiban dan ketepatan waktu tidak terwujud akan berdampak kepada imunitas (kekebalan tubuh), justru akan menurun karena sudah lelah. Apalagi kalau ada minum-minum, semoga saja tidak, itu malah memberi peluang masuknya virus ini," tandas mantan Kabag Hukum dan Kadis Pariwisata Kabupaten Badung ini. (b.)

____________________________________  

Teks dan foto: Made Radheya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.