Terkini

Tiga Sulinggih Pimpin "Tawur Labuh Gentuh" di Pura Puseh-Bale Agung Desa Pakraman Kusamba


Upacara tawur labuh gentuh serangkaian Karya Mamungkah, Tawur Labuh Gentuh, Pedanan lan Ngenteg Linggih di Pura Puseh-Bale Agung Desa Pakraman Kusamba, Kamis, 29 Maret 2018 berlangsung khidmat. Upacara yang tergolong tingkatan utama ini di-puput (dipimpin) tiga orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Gria Aaan Klungkung yang sekaligus yajamana karya, Ida Pedanda Ketut Jelantik Sogata dari Gria Wanasari serta Ida Pedanda Gde Putra Kediri dari Gria Dawan Kaler.

Pjs. Bupati Klungkung, I Wayan Sugiada diwakili Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Sekretariat Kabupaten Klungkung, I Wayan Winata. Turut hadir juga, anggota DPRD Klungkung dari daerah pemilihan Kecamatan Dawan, Camat Dawan, Kapolsek Dawan, Danramil Dawan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Desa Pakraman serta para bendesa desa pakraman se-Kecamatan Dawan. Panglingsir Puri Klungkung, Ida Dalem Semaraputra dan panglingsir Puri Kusamba.

Tari wali Rejang Kesari turut menjadi bagian penting dalam Tawur Labuh Gentuh di Pura Puseh-Bale Agung Desa Pakraman Kusamba.

Bendesa Desa Pakraman Kusamba, AA Gede Raka Swastika menyampaikan terima kasih atas kehadiran para undangan dan krama Desa Pakraman Kusamba. Raka Swastika mengungkapkan karya mamungkah ini bertujuan mengukuhkan kebersamaan dan persatuan krama desa untuk mencapai tujuan akhir kasukertan (kesejahteraan) sekala lan niskala di Desa Pakraman Kusamba.

“Karya mamungkah terakhir kali dilaksanakan 25 tahun lalu. Kini kami laksanakan kembali berbarengan dengan selesainya perluasan palemahan pura serta rampungnya perbaikan palinggih,” beber Raka Swastika.

Krama istri Desa Pakraman Kusamba antusias ngayah menari Rejang Renteng.

Ketua Panitia Karya, I Nengah Sumarnaya juga menyampaikan terima kasih atas ayah-ayahan dan punia krama serta berbagai pihak terkait sehingga rangakaian karya yang dimulai 1 Januari 2018 lalu berjalan lancar. Anggaran karya senilai Rp 1,5 miliar bersumber dari swadaya krama berupa urunan 978 krama adat serta sumber-sumber pendanaan lain, seperti keuntungan LPD Desa Pakraman Kusamba senilai Rp 180 juta, bantuan keuangan khusus (BKK) dari Pemerintah Kabupaten Klungkung Rp 15 juta, BKK dari Pemerintah Provinsi Bali Rp 225 juta serta punia dari krama adat Rp 102 juta.

Pjs. Bupati Klungkung, I Wayan Sugiada dalam sambutannya yang dibacakan Kabag Kesra, I Wayan Winata menyatakan upacara ini sangat penting karena sebagai memiliki tujuan mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di desa pakraman secara sekala dan niskala. Pjs. Bupati Klungkung berharap upacara ini bisa menjadi landasan kuat untuk melaksanakan swadharmaning negara berdasarkan swadharmaning agama sesuai tuntunan sastra agama. “Upacara ini mesti makin memupuk kebersamaan dengan landasan sagilik-saguluk salulung sabayantaka sesuai tujuan agama Hindu, moksartam jagadhita ya ca iti dharma,” tandas Sugiada.

Puncak karya akan dilaksanakan bertepatan dengan pujawali di Pura Puseh-Bale Agung pada Buda Wage Ukir, Rabu, 4 April 2018 mendatang. Jumat, 30 Maret 2018 hari ini dilaksanakan prosesi nuur tirtha kahyangan jagat dan Gunung Semeru. Pada Minggu, 1 April 2018 dilanjutkan dengan melasti ke segara serta Ida Batara mamasar. Selasa, 3 April 2018 digelar mapepada karya. Puncak karya pada Rabu (4/4) mendatang di-puput enam sulinggih. 5-14 April 2018 dilaksanakan bhakti penganyar. Jumat, 13 April 2018 dilaksanakan penyenuk, makebat daun dan mangun ayu. Ida Batara masineb pada Redite Kliwon wuku Tolu, Minggu, 15 April 2018 mendatang. Rangkaian upacara karya diakhiri dengan maajar-ajar ke Pura Goa Lawah pada Buda Pon wuku Tolu, Rabu (18/4) mendatang. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.