Terkini

Ini Tiga Sebab Bahasa Daerah Termarginalisasi

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, Ni Luh Sutjiati Berata menilai ada tiga alasan mengapa bahasa daerah atau lokal termarginalisasi dan atau mati. “Karena  penuturnya berkurang, penutur kurang bangga atau nyaman menggunakan, dan karena kawin campur,” ujar Sutjiati Berata saat membuka International Conference on Local Languages (Konferensi Internasional Bahasa-bahasa Lokal) yang diselenggaraan Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Unud bekerja sama dengan Asosiasi Peneliti Bahasa-bahasa Lokal (APBL), Jumat (23/2).

Karena itu, Sutjiati Berata mengajak para sarjana peneliti bahasa lokal untuk menjaga dan melestarikan bahasa-bahasa lokal. “Sudah banyak bahasa yang mati, dan itu tidak baik, karena membawa serta kebudayaannnya,” kata Sutjiati Berata.

Dekan FIB Unud, Ni Luh Sutjiati Berata saat memberikan sambutan pada pembukaan International Conference on Local Languages (Konferensi Internasional Bahasa-bahasa Lokal) yang diselenggaraan Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Unud bekerja sama dengan Asosiasi Peneliti Bahasa-bahasa Lokal (APBL), Jumat (23/2).
Konferensi yang diikuti 167 peserta dari Indonesia dan luar negeri itu membahas 121 makalah dalam bidang bahasa dan sastra yang berkaitan dengan bahasa-bahasa lokal. Menurut Ketua Panitia, Ida Ayu Laksmita Sari, koneferensi mengambil tema Empowerment and Preservation of Local Languages dengan mengundang pembicara kunci dan pembicara utama dari Jepang, Singapura, dan Indonesia, yakni Hara Mayuko (Associate Professor dari Osaka University), Cece Sobarna (guru besar Linguistik dari Universitas Padjajaran), I Nyoman Darma Putra (guru besar sastra dari Universitas Udayana).

Upaya penyelamatan bahasa daerah dari kepunahan juga menjadi perhatian pada pembicara. Salah seorang pembicara, Arga Maulana Pasanrangi dari Universitas Hasanuddin menyampaikan gagasan mengembangkan bahasa daerah dengan memperbanyak kegiatan seni pertunjukan, agar masyarakat mengenal dan mencintai bahasa daerahnya. “Pemerintah dan masyarakat memainkan peranan penting dalam hal ini,” ujar Pasanrangi dalam sidang pleno kedua, Sabtu (24/2).

Ulinsa dari Universitas Tadulako menyampaikan pentingnya penggunaan teknologi yang relevan untuk mengembangkan bahasa lokal, misalnya menyajikan cerita rakyat dengan teknik animasi sehingga menarik perhatian anak-anak dan generasi muda. “Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal komik Jepang,” ujar Ulinsa.

Adolfina Krisifu dari Papua menyampaikan tiga langkah utama yang bisa dilaksanakan untuk mengembangkan bahasa lokal, yaitu penelitian oleh kelompok akademis yang hasilnya bisa diberikan kepada pemerintah untuk menyusun kebijakan dan program nyata, penggunaan bahasa dalam berbagai ranah seperti pendidikan dan kegiatan agama, dan di tingkat keluarga.

Dosen Sastra Indonesia Unud, Maria Matildis Banda menyampaikan bahasa daerah memiliki kekayaan kosa kata dan konsep yang menarik diadopsi dalam penciptaan karya sastra dan karya sastra akan menghidupkannya. “Penting sekali langkah berkelanjutan untuk meneliti bahasa daerah sehingga tata bahasa bisa menjadi sarana bagi amsyarakat untuk mempelajarinya dalam waktu mendatang,” ujar dosen Sastra Indonesia FIB Unud yang banyak menulis novel. Dalam karya-karya novelnya berlatar belakang daerah-daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria banyak memanfaatkan kosa kata dan konsep lokal sesuai latar cerita.

Ketua APBL, I Made Budiarsa menyatakan usaha penyelamatan dan pengembangan bahasa lokal menjadi tujuan utama dari APLB, terutama dalam riset, berbagi dalam seminar, dan publikasi. Juni mendatang, APBL juga bakal menggelar konferensi di Kupang. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.