Terkini

Dongeng-dongeng Paket Hemat Ala Made Taro

Upaya menghidupkan kembali tradisi mendongeng tidak saja menghadapi kendala rendahnya minat baca, melainkan juga kemalasan membaca teks panjang. Dunia digital yang serbainstan dan cepat menjadi pemicu utama. Kebiasaan membaca berita media daring yang serbaringkas membuat banyak orang tidak tertarik lagi menyelami kenikmatan membaca teks-teks panjang.

Dalam ranah lisan pun, orang enggan mendengar orang bercerita berlama-lama. Betapa pun menariknya sebuah cerita, begitu disampaikan dalam waktu yang lama, orang akhirnya tidak betah juga. Anak-anak kini lebih terpikat dengan pencerita yang berkisah secara singkat, padat, dan akurat.

Fenomena ini tampaknya dipahami betul pendongeng Made Taro. Setidaknya kesadaran ini tercermin dalam buku Medongeng Lima Menit yang terbit Februari 2017. Dongeng-dongeng yang awalnya dimuat di tabloid Tokoh dan Lintang ini seluruhnya ditulis sepanjang 1,5 halaman. Kalau dibacakan, menurut Made Taro dalam kata pengantar, dongeng ini hanya butuh waktu sekitar lima menit. Inilah dongeng-dongeng paket hemat ala Made Taro. Cara lain Made Taro melawan kemalasan membaca teks panjang.

Made Taro menyebut ‘mendongeng lima menit’ ini sebagai terobosan, model baru story telling. ‘Mendongeng lima menit’ dapat dilakukan secara lisan maupun dalam mewujud dalam kegiatan membaca maupun membacakan cerita untuk orang lain. Terobosan ini, menurut Made Taro, menyebabkan tradisi mendongeng tetap bisa dilaksanakan sebagai kegiatan komunikatif yang akrab, segar dan berisi di satu sisi, dan tidak terlampau menyita waktu anak-anak di sisi lain.

‘Mendongeng lima menit’ menghadapi tantangan menjaga keutuhan cerita. Karena itu, kemahiran sang pencerita mengolah cerita menjadi kunci. Dalam dongeng yang pendek, pencerita bukan hanya menyampaikan cerita secara singkat juga menjaga nafas dan karakteristik cerita.

Made Taro pun menyadari tantangan ini. Itu sebabnya, dalam kata pengantar, mantan redaktur cerpen di Bali Post Minggu ini menegaskan dongeng-dongeng dalam bukunya bukanlah sinopsis. Dia menyebut ‘mendongeng lima menit’ tetap mempertahankan keutuhan kisah, memelihara alur, karakter, konflik, problematika, suasana, tema, dan solusi.

Memang, dongeng-dongeng dalam buku ini memperlihatkan kerja keras penulisnya untuk menjaga cerita tetap utuh, tetapi teks tidak menjadi panjang. Made Taro menunjukkan kepiawainnya memilih intisari cerita tanpa kehilangan keindahannya sebagai dongeng. Dialog-dialog sarat pesan masih terselip dalam setiap cerita. Citra dan suasana cerita juga masih bisa dirasakan pembaca.

Dongeng “Ayam Petelur” misalnya, sesungguhnya merupakan cerita rakyat Bali yang sarat. Di tangan Made Taro, dongeng ini menjadi dongeng yang ringkas tetapi padat. Intisari cerita dan dialog-dialog pembangun suasana tetap bisa dijaga. Begitu juga dongeng “Guru dan Serigala” dari Cina yang begitu singkat, tetapi tetap mampu menyampaikan pesan moral.

Dongeng-dongeng dalam buku ini berasal dari Bali serta daerah lainnya di Indonesia, bahkan juga dari berbagai negara. Karena itu, para pembaca buku ini perlu juga memahami konteks budaya dari dongeng-dongeng itu. Misalnya, dongeng “Dongeng Kami Habis” dari Afrika. Bagi anak-anak Indonesia, dongeng ini tidak bisa serta merta dipahami karena konteks budaya yang berbeda.

Namun, buku Mendongeng Lima Menit sungguh menarik dan layak dimiliki. Buku ini amat membantu para orangtua yang ingin mendongeng untuk anak-anaknya tanpa membuat anak-anak bosan karena ceritanya yang panjang. (b.)


Teks: Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.