Terkini

Masihkah Bali Tetap Bali?

Banyak orang kagum dan bangga kepada Bali. Tapi, tak sedikit pula yang risau dengan Bali. Yang menarik, mereka yang kagum dan cemas terhadap Bali seringkali dipersatukan dalam kecemasan yang sama saat memikirkan masa depan Bali. Kecemasan itu menyatu dalam pertanyaan, “masihkah Bali tetap Bali?”

Refleksi kecemasan terhadap Bali itu juga kembali terungkap dalam acara Pustaka Bentara bertajuk “Ketika Bali Tiada Lagi” yang digelar Bentara Budaya Bali, Gianyar, Minggu (9/4). Diskusi ini dirangkaikan dengan bedah buku Menitip Mayat di Bali karya Gde Aryantha Soethama.

Suasana diskusi "Ketika Bali Tiada Lagi" di Bentara Budaya Bali, Minggu (9/4). (sumber foto: www.fib.unud.ac.id)
Aryantha Soethama mengungkapkan tulisan-tulisannya dalam buku Menitip Mayat Bali atau pun buku-buku lain yang ditulisnya sesungguhnya diniatkan untuk mengajak orang Bali bercermin, mematut-matut diri, adakah Bali masih tetap Bali. Menurut mantan Pemimpin Redaksi Karya Bhakti dan wartawan majalah Sarad ini, banyak perubahan menerpa Bali dan hal itu senantiasa memunculkan pertanyaan masihkah Bali kini tetap disebut Bali. Ibu-ibu di Bali kini bangga membeli sesaji, bukan bangga karena membuat sesaji.

“Saya khawatir, suatu ketika Bali hanya akan disebut Bali karena upacaranya,” kata peraih Khatulistiwa Award 2006 ini.

Namun, Guru Besar Ilmu Sastra, Fakultas llmu Budaya (FIB), Universitas Udayana (Unud), I Nyoman Darma Putra yang membedah buku Aryantha Soethama mengatakan Bali tidak akan pernah tidak ada, karena Bali terus diciptakan dalam pengertian masing-masing.

“Banyak orang menciptakan Bali dengan caranya sendiri. Itu pula yang dilakukan Aryantha Soethama dalam buku Menitip Mayat di Bali,” kata Darma Putra.

Menurut Darma Putra, Bali memang tidak bisa menghindar dari sentuhan perubahan. Tapi, kata Ketua Program Studi Magister Pariwisata ini, Bali memiliki kekuatan penting, yakni selalu mampu berkolaborasi dengan kekuatan luar. Namun, Darma Putra berpandangan, pernyataan “Ketika Bali Tiada Lagi” dapat dibaca sebagai peringatan untuk menjaga Bali dengan cara masing-masing.

Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Ketut Sumadi menyatakan Bali selalu berubah mengikuti zaman. Buku-buku Aryantha Soethama mengajak masyarakat Bali merenungi perubahan yang terus mendera Bali.

Dosen Fakultas Pariwisata Unud, Yohanes Kristianto melihat pernyataan “Ketika Bali Tiada Bali” sebagai utopia. Menurutnya, pernyataan itu merefleksikan perubahan Bali yang justru membuatnya terasing dengan kebudayaannya sendiri. Kenyataannya, yang hadir adalah Bali yang lain. “Buku-buku Aryantha Soethama menghadirkan kesadaran kognisi dan kesadaran reflektif tentang Bali yang terus berubah,” kata Yohanes.


Peserta diskusi lainnya, Iwan mengatakan perubahan yang dialami Bali selalu bergerak dalam kutub positif dan negatif. Menghadapi perubahan itu, ada yang resah, ada juga yang tidak. “Yang jelas, kita siapkan diri menerima masa depan Bali,” kata Iwan. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.