Terkini

Getir Air di Bumi Agama Tirtha

Sudah cukup lama para ahli memperingatkan Bali akan mengalami krisis air dalam waktu-waktu mendatang. Pembangunan yang mengabaikan spirit kealaman merupakan penyebab utama timbulnya masalah kesulitan air ini. Alih fungsi lahan hutan terus saja terjadi sehingga sumber-sumber air berkurang.

Seyogyanya generasi Bali kini belajar arif dari sejarah. Bagaimana para tetua Bali memandang air tak semata sebagai sumber peradaban tetapi juga sumber kehidupan. Karenanya, agama orang Bali pada mulanya disebut Gama Tirtha, agama air. Ritual-ritual di Bali yang demikian banyaknya pun dengan air suci.

Salah satu mata air di Desa Darmasaba, Badung. (Foto: sujaya)
Orang Bali sangat memuliakan sumber-sumber air seperti bulakan, beji, sungai, loloan hingga laut (samudera). Tradisi Bali selalu menempatkan sumber-sumber air itu sebagai kawasan suci, karenanya tiada berani dikotori, pantang dicemari.

Untuk kepentingan perekonomian masyarakat Bali yang pada mulanya berbasiskan kehidupan agraris (pertanian), dibuatkan sistem pengairan bernama subak. Dalam subak, pemanfaatan air diatur sedemikian rupa. Warga subak diajarkan bagaimana bersikap adil membagi air sebagai sumber kehidupan. Jika pembagian air tidak adil, maka konflik pun bisa muncul.

Pada masa lalu, konflik yang dipicu oleh masalah tata guna air kerap kali terjadi. Malah, masalah air pernah memicu perang antarkerajaan, seperti perang antara Badung dan Mengwi di akhir abad ke-19.  

Mayjend Rost van Tonningen dalam laporan umumnya saat memimpin ekspedisi ke Bali menjelang Puputan Badung juga menyebutkan air menjadi pemicu konflik atau pun dijadikan alat politik di tengah konflik antarkerajaan atau antardesa. Pada tahun 1905, terjadi penghentian irigasi ke sawah-sawah di Desa Tanggayuda dan Bunutin (Gianyar) yang dilakukan orang-orang Payangan sehingga seluruh kompleks persawahan itu tidak mendapat aliran air. Pemicunya adalah konflik antara orang-orang Desa Klusa yang berada dalam wilayah kekuasaan Gianyar dengan orang-orang Payangan yang dikuasai Klungkung.

Konflik serupa juga muncul antara Bangli, Klungkung dan Gianyar. Pipa aliran air Pejeng yang terletak di distrik Tampaksiring, daerah Klungkung, kira-kira 1 km dari perbatasan Gianyar dirusak sehingga aliran air kembali mengalir ke Sungai Kerisan. Aliran ait itu sangat dibutuhkan untuk mengairi sawah-sawah di Gianyar. Walaupun saluran air diperbaiki oleh anggota subak, tapi perusakan kembali terjadi.

Kini Bali juga masih mengalami kegetiran dalam masalah air. Itu sebabnya, Bali membutuhkan pemimpin yang memiliki kesadaran tentang air, sedalam-dalamnya, seutuh-utuhnya. (b.)


Teks: Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.