Terkini

Aksara Bali Terpinggirkan, Bali Tercerabut Dari Akar Budayanya

Kegelisahan mengenai masa depan aksara Bali tiada pernah berhenti menghantui para penekun bahasa dan aksara Bali. Keberadaan aksara Bali semakin terpuruk ketika teks-teks beraksara Bali dengan bahasa Jawa Kuna ditranskripsikan ke dalam huruf Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Terbitnya teks-teks yang berhuruf Latin dengan bahasa Bali dan Indonesia menjadikan masyakat Bali semakin malas membaca teks-teks akar kebudayaan nenek moyangnya, yakni teks-teks beraksara Bali. “Pilihan teks berbahasa Latin seakan-akan memperparah posisi tawar aksara Bali sebagai dokumen pencatat warisan leluhur Bali untuk diminati oleh penuturnya,” kata Ketua Jurusan Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, I Wayan Suardiana saat seminar seri sastra di FIB Unud, beberapa waktu lalu.

I Wayan Suardiana (kanan) berbicara dalam seminar seri sastra, sosial, dan budaya di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud akhir tahun 2016.
Menurut Suardiana, dila divisualisasikan, kebudayaan Bali itu seperti pohon, aksara adalah akarnya, bahasa adalah batang dari pohon tersebut, daun dan rantingnya merupakan karya sastra, kemudian bunga dan buahnya adalah kesenian. Selama ini kebudayaan Bali lebih memperhatikan kesenian (tari, tabuh, pahat, lukis) tanpa banyak menyentuh akarnya, yakni aksara. Bahkan, pembelajaran aksara Bali (termasuk bahasanya) tahun 1970-an sampai tahun 1990-an hanya sampai kelas dua Sekolah Pendidikan Menengah (SMP). Keadaan itu semakin kerdil mengingat lama pelajaran juga hanya dua (2) jam seminggu.

Bentuk-bentuk aktivitas di luar membaca teks-teks berhuruf Bali bagi masyarakat Bali ke depan tentu merupakan kemerosotan laku budaya bagi penerus budaya Bali. Untuk itu, kata Suardiana, usaha menyelamatkan kebudayaan Bali penting dimulai dari membumikan aksara Bali bagi masyarakat Bali dan pengusaan bahasa yang tersurat dalam lontar (Bali Tengahan, Jawa Kuna, dan Sanskerta) mutlak dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran pada pendidikan forman dan non-formal di Bali!

Lebih jauh Suardiana menjelaskan, bila berpijak dari tahun 1970-an sebagai tonggak 'peminggiran' atau 'krisis' aksara Bali dalam ranah pendidikan dan kehidupan masyarakat Bali maka Bali telah tercerabut dari akar budayanya sekitar 46 tahun. “Kekeliruan kita dalam memaknai pesan moral dari pendiri FIB itu hendaknya jangan sampai berlarut-larut. Fritjop Capra memberikan pandangan bahwa memaknai krisis dalam konteks pemaknaan arti pentingnya pembelajaran aksara Bali bagi masyarakat Bali penting ditiru model yang digunakan masyarakat Cina. Menurut Capra, istilah yang mereka gunakan untuk 'krisis' -wei-ji- yang bermakna ‘bahaya" dan ‘kesempatan’,” kata Suardiana.  

Dalam konteks Bali, menurut Suardiana, kesempatan untuk membalikkan keadaan dari 'krisis' di bidang pemanfaatan aksara Bali dalam arti luas bagi suku Bali adalah adanya momentum yang tepat untuk menggerakkan komponen masyarakat Bali. Menggerakkan hasrat cinta terhadap aksara Bali, mampu membaca dengan fasih, serta mempunyai minat baca-tulis dengan huruf Bali secara intens dan masif adalah kewajiban komponen masyarakat Bali saat ini dan ke depan.

Wacana pelestarian akar kebudayaan Bali berupa aksara Bali sebetulnya sudah dilakukan sejak lama, setidak-tidaknya upaya pendirian Pusat Dokumentasi Lontar di Dinas kebudayaan Provinsi Bali adalah salah satu upaya selain upaya lainnya yang dilakukan oleh lembaga maupun perseorangan. Badan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali Provinsi Bali pun di tahun 1992 dibentuk yang diperkuat dengan  Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali dan tercatat dalam Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Peran Nomor: 384 Tahun 1992. Belakangan, tahun 2013 sejak gonjang-ganjingnya penerapan Kurikulum 2013 bagi dunia pendidikan dasar sampai menengah atas/Madrasah Aliyah (MA) yang mengintegrasikan pendidikan bahasa daerah ke dalam mata pelajaran kesenian, Gubernur Bali menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 20 Tahun 2013 tentang Bahasa, Aksara dan Sastra Daerah Bali pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Usaha di atas tidak serta merta membuat komponen masyarakat Bali berpihak pada akar peradabannya, yakni mau menyadari pentingnya untuk kembali kepada aksara Bali.

Gerakan sporadis untuk mendukung usaha-usaha penyelamatan budaya Bali dilakukan oleh tenaga kontrak Penyuluh Bahasa Bali yang direkrut pertengahan tahun 2016. Adapun jumlah mereka yang direkrut oleh Pemda Bali lewat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali sebanyak 716 orang yang ditempatkan di masing-masing Desa Dinas di seluruh Bali sejak bulan Juli 2016 yang lalu.

Usaha mereka yang mampu menggerakkan perhatian penentu kebijakan di Bali untuk ditindaklanjuti adalah pendataan lontar yang ada di masyarakat. Dari hasil pendataan Penyuluh Bahasa Bali itu terdata 8.000 cakep lontar yang tidak terawat milik masyarakat. “Dari jumlah tersebut 2.000 cakep dalam keadaan rusak dan hanya 6.000 cakep yang masih utuh,” beber Suardiana.

Gaung usaha-usaha pendataan lontar yang mereka lakukan di seluruh Bali dengan cepat direspons oleh penentu kebijakan di Bali. Buktinya, wacana pengangkatan guru-guru bahasa Bali telah muncul di media masa yang dipelopori oleh Bupati Badung, kemudian Wali Kota Denpasar juga berencana mengangkat tenaga guru bahasa Bali. Pada hari Minggu, 11 Desember 2016 diadakan acara Festival Nyastra massal di seluruh Bali oleh Penyuluh Bahasa Bali dan mampu mendatangkan peserta sebanyak 7.387 orang anak-anak SD kelas-4 sampai kelas-6. Adapun rinciannya sebagai berikut. Kabupaten Buleleng diikuti sebanyak 1.310, Jembrana 460 orang, Tabanan 635 orang, Badung 1.220 peserta, Denpasar 689 orang, Gianyar 560 peserta, Klungkung 1.013 peserta, Bangli 1.000 orang, Karangasem sebanyak 500 orang peserta.

Momentum ini, kata Suardiana, mesti dimanfaatkan untuk mengubah situasi krisis dalam perkembangan aksara Bali menjadi sebuah kesempatan. Upaya ini harus didukung oleh pemerintah dan masyarakat Bali. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.