Terkini

Pembelajaran Sejarah Lokal Kurang Diperhatikan




Pembelajaran sejarah menjadi media penting pendidikan karakter bagi anak-anak. Namun, kata dia, pembelajaran sejarah lokal yang justru sangat relevan dalam menanamkan karakter anak-anak, cenderung kurang mendapat perhatian. Pembelajaran sejarah di sekolah masih didominasi sejarah nasional. Memang, pelajaran sejarah nasional penting untuk memupuk semangat nasionalisme. Namun, keteladanan dari tokoh-tokoh sejarah lokal juga penting diperkenalkan kepada siswa.



Pandangan ini disampaikan guru besar Antropologi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Nengah Bawa Atmadja saat tampil sebagai pembicara dalam seminar nasional Bahasa dan Budaya 2016 yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, Jumat—Sabtu (7—8/10). Selain Bawa Atmadja, seminar juga menampilkan sejumlah pembicara lain, yakni guru besar Ilmu Linguistik Unud, I Wayan Pastika, guru besar Ilmu Sastra FIB UGM, Faruk, serta dosen FIB UGM, Daud Aris Tanudirdjo. Seminar yang dibuka Dekan FIB, NL Sutjiati Beratha itu diikuti para dosen, peneliti, pemerhati bahasa, sastra dan budaya serta mahasiswa S1, S2 dan S3. 

Nengah Bawa Atmadja (www.pasca.undiksha.ac.id)

Bawa Atmadja yang menyampaikan makalah bertajuk “Sejarah Lokal: Keteladanan dalam Tindakan sebagai Pendidikan Karakter” itu mengakui, pembelajaran sejarah lokal juga menghadapi kendala, terutama berkaitan dengan pluralitas nilai dalam memaknai peristiwa sejarah lokal. “Itulah tantangan pembelajaran sejarah lokal kita,” kata Bawa Atmadja.



Namun, menurut Bawa Atmadja, kunci utama pendidikan karakter sebetulnya terletak pada keteladanan, terutama di tingkat keluarga karena menjadi yang pertama dan utama dalam menempa karakter anak-anak. Jika kemudian dirasakan pendidikan karakter itu gagal, hal itu sesungguhnya karena miskinnya keteladanan.



Menurut Bawa Atmadja, anak-anak sangat dipengaruhi oleh teladan yang diberikan, baik guru, orang tua dan lingkungannya. “Satu contoh saja, kita menyuruh anak-anak tidak menonton televisi, tetapi kita sendiri menonton televisi pada saat yang sama. Itu jelas tidak menunjukkan keteladanan,” kata Bawa Atmadja.



Pastika yang berbicara dalam sesi berbeda menyajikan makalah berjudul, “Bahasa Politik Media Televisi Indonesia”. Dia menyebut bahasa politik di media televisi Indonesia kini cenderung mengalami tiga kelemahan, yakni lemah etika, lemah jati diri dan lemah pesan. Dalam aspek etika misalnya, menurut Pastika, seorang politikus juga perlu memahami etika kebahasaan saat menyampaikan pesan-pesan politiknya kepada masyarakat.



Di sisi lain, Pastika juga menyoroti kecenderungan penggunaan kata “kita” dalam wacana politik dan gejala makin berkurangnya penggunaan kata “kami”. Secara linguistik mungkin hal ini dipandang sebagai upaya membangun inklusivitas tindakan komunikasi. Namun, Pastika melihat di balik itu terjadi semacam “penyelewengan” demokratisasi linguistik elite politik untuk menghegemoni narasi politik masyarakat.



“Penggunaan kata kita tampaknya mengaburkan peran pelaku, yakni para elite politik. Manakala terjadi masalah atas keputusan atau kebijakan politik, rakyat ikut menjadi  pihak yang berkontribusi atas kesalahan itu. Sebaliknya, kalau positif atau menguntungkan, politikus itulah yang pertama menikmatinya,” kata Pastika.



Faruk berbicara mengenai eratnya relasi bahasa dan kekuasaan. Faruk mencontohkan konstruksi tentang modern dan tradisi sejatinya sangat erat dengan relasi kekuasaan. Tradisi merupakan konstruksi yang dilahirkan modern dengan melakukan praktik oposisi biner. Begitu juga konstruksi Barat dan Timur lahir dari konstruksi Barat untuk menegaskan posisi Barat.



“Sebelum adanya modern, tidak ada apa yang disebut sebagai tradisi. Orang modernlah yang menciptakan konstruksi tradisi untuk menegaskan bahwa modern itu berbeda. Kita hidup dalam konstruksi orang lain,” kata Faruk. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.