Terkini

Jengah Bali di Buleleng: Catatan HUT ke-412 Kota Singaraja

Buleleng seringkali disebut sebagai Bali yang lain. Pasalnya, di kabupaten yang terletak di sisi utara Pulau Bali ini ditemukan sejumlah perbedaan mencolok dengan Bali di bagian Selatan dan Timur.

Perbedaan paling nyata tentu saja arah utara-selatan. Utara di Bali Selatan adalah selatan di Buleleng. Begitu juga selatan di Bali Selatan adalah utara di Buleleng. Walaupun sejatinya, jika diselami lebih dalam, perbedaan utara dan selatan ini lebih karena cara pandang. Titik orientasi utara dan selatan bagi orang Buleleng juga sama. Gunung sebagai orientasi utara dan laut sebagai orientasi selatan. Di Buleleng, gunung memang berada di sebelah selatan dan laut di sebelah utara.

Buleleng juga mendapat julukan sebagai Bumi Panas. Tak hanya karena faktor alam yang sedikit lebih hangat dari Bali Selatan, Buleleng juga kerap kali lebih dulu “panas” dalam isu-isu sosial-politik. Kerap kali Buleleng membara dengan konflik politik lantaran perbedaan warna pilihan politik, bahkan sampai menelan korban jiwa. Kerusuhan Okober 1999 pascakekalahan Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden dari Gus Dur, Buleleng menjadi daerah pertama yang dilanda rusuh sosial sebelum merebak ke Denpasar dan sejumlah daerah lain di Bali.

Namun, jejak Buleleng tidaklah sepenuhnya buram. Justru, Buleleng mengguratkan sejarah penting bagi Bali karena menjadi daerah pertama yang bersentuhan dengan modernisme. Sebagai daerah pertama yang ditaklukkan Belanda, Buleleng paling awal menikmati perubahan.

Buleleng juga menjadi saksi dan pembuktian Bali pernah bersatu dan tak terkalahkan. Tahun 1841, Inggris mengurungkan niatnya menyerang Buleleng karena melihat kuatnya persatuan raja-raja Bali membantu Buleleng. Kala itu, Buleleng menjadi simbol persatuan Bali.

Persatuan itu kembali dikukuhkan saat Perang Jagaraga I tahun 1846. Ekspedisi khusus Belanda yang dipimpin Mayor Jenderal Jonkheer C. van der Wijck yang juga sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Darat Hindia Belanda dengan kekuatan sedikitnya 4 batalyon, 2.265 orang perwira, bintara dan prajurit, 156 ekor kuda lengkap dengan persenjataan senapan, meriam dan mortar, 500 orang pasukan bantuan dari Madura dan 500 orang kulit pengangkut tak mampu menembus benteng Jagaraga.

Pihak Jagaraga sudah menyiapkan diri untuk perang sejak dua tahun sebelumnya. Raja-raja Bali juga memberikan bantuan. Klungkung mengirimkan 1.650 prajurit pilihan yang dipimpin I Dewa Kteut Agung. Karangasem juga membantu dengan 1.200 prajurit serta Mengwi mengirimkan 600 orang prajuritnya.

Patih Jelantik menggunakan sistem pertahanan supit urang (makara wyuha) seperti digunakan Yudistira dalam Perang Bharatayudha ketika menghadapi Kurawa. Pada bagian kepala ditempati Patih Jelantik, Raja Buleleng dan para pengatur perang lainnya sebagai pusat komando. Pada ujung supit kiri dan kanan ditempatkan pasukan Buleleng dan Jagaraga yang gesit dan lincah serta sudah mengetahui keadaan. Pada bagian mulut yang berada di depan dan belakang tembok benteng ditempatkan pasukan campuran dari kerajaan-kerajaan sahabat. Benteng lambung barat dipercayakan kepada laskar Jembrana dan Mengwi. Sementara kekuatan benteng pada bagian badan dipercayakan kepada pasukan Klungkung, Gianyar dan Karangasem. Pada bagian ekor ditempatkan pasukan bantuan dan perbekalan.

Benteng yang kuat dan sistem pertahanan yang rapi ini ternyata membuahkan hasil. Pasukan Belanda bisa dihancurkan oleh laskar Bali. Pada 8 Juni 1848 terjadi pertempuran sengit di Desa Bungkulan dan sekitarnya. Dalam pertempuran ini, di pihak Belanda jatuh korban 8 orang tewas, 8 orang luka-luka, termasuk Letnan Wichers.

Keesokan harinya, pasukan Belanda berhasil masuk ke Jagaraga. Namun, Belanda gagal menembus benteng Jagaraga. Yang terjadi malah sebaliknya, banyak jatuh korban dari pihak Belanda. Pasukan Belanda kocar-kacir hingga akhirnya kembali ke Jawa.

Menurut laporan Kepala Staf Pasukan Ekspedisi Belanda, Letnan Kolonel J. van Swieten, di pihak Belanda jatuh korban 5 orang perwira, 94 orang bintara. Yang luka-luka 7 orang, 98 orang bintara dan prajurit. Korban di pihak Bali disebutkan 3 orang pedanda, 35 orang Brahmana, 163 orang bangsawan dan pembekel serta 2.000 orang pasukan.

Kekalahan di Jagaraga ini menjadi pukulan telak bagi pemerintah Belanda. Di seantero Hindia Belanda termasuk hingga ke Belanda kekalahan itu menjadi perbincangan.

Hanya sayangnya, ketika Belanda mengadakan serangan balasan pada pertengahan April 1849, Jagaraga tidak memperkuat benteng pertahanannya. Selain itu, sejumlah raja Bali juga tidak memberikan dukungan terhadap perjuangan Patih Gusti Jelantik. Malah beberapa kerajaan terang-terangan memilih berpihak dan membantu Belanda.

Di bawah pimpinan Mayor Jenderal Michiels, Belanda pun bisa menduduki benteng Jagaraga pada 16 April 1849. Patih Gusti Jelantik bersama Raja Buleleng juga akhirnya gugur karena adanya serangan mendadak di daerah Seraya.

Kendati begitu, kemenangan di Jagaraga pada 9 Juni 1848 merupakan sebuah kemenangan gemilang yang pantas dikenang. Kemenangan di Jagaraga lebih merupakan kemenangan harga diri. Kemenangan itu menunjukkan kematangan strategi dan siasat jitu pejuang Bali. Pada titik yang lain, Perang Jagaraga juga memperlihatkan persatuan di antara sejumlah kerajaan di Bali menentang invasi Belanda. Dan Buleleng menjadi simbol jengah, keberanian dan persatuan rakyat Bali menghadapi invasi asing.

Karena itu, bila hari ini, 30 Maret 2016 Kota Singaraja merayakan hari jadi ke-412, selayaknya bukan hanya menjadi kegembiraan warga Buleleng, tetapi juga tonggak refleksi seluruh orang Bali. Dirgahayu Kota Singaraja! (b.)


Teks: I Made Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.