Terkini

Kedonganan, Potret Sukses Ekonomi Kerakyatan Berbasis Adat Bali

25 tahun lalu, nama Kedonganan tidak begitu dikenal orang. Bila pun dikenal, desa pesisir di sebelah selatan Bandara Ngurah Rai Tuban ini lebih populer sebagai kampung nelayan yang kumuh. Di era tahun 80-an, citra Kedonganan kental sebagai desa yang miskin, paradoks dengan Kuta yang menikmati gemerlap industri pariwisata.

Tapi itu dulu. Kini, nama Kedonganan mulai berkibar. Desa yang luasnya hanya sekitar 190,75 ha ini belakangan justru dikenal sebagai contoh desa yang sukses mengembangan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas adat. Masyarakat Kedonganan kini mulai menikmati kemakmuran ekonomi. Gaya hidup warganya pun mulai berubah, tak beda jauh dengan warga desa-desa lain di Kecamatan Kuta yang lebih dulu mencicipi nikmat kue pariwisata.

Bendesa Adat Kedonganan menyerahkan hadiah utama undian jalan santai Selae Tiban LPD Kedonganan berupa satu unit sepeda motor kepada peserta yang beruntung , Minggu (27/12) di Pantai Kedonganan.
Kemajuan pesat Kedonganan itu ternyata didorong oleh sebuah lembaga keuangan komunitas adat Bali milik Desa Adat Kedonganan bernama LPD. Lembaga keuangan yang didirikan 9 September 1990 ini menjadi lokomotif pembangunan di Desa Adat Kedonganan, baik secara fisik maupun nonfisik.

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menyebut LPD sebagai tulang punggung, stabilisator dan penggerak perekonomian masyarakat Kedonganan sesuai konsep Tri Hita Karana. Di Kedonganan, kata Puja, ada tujuh pura yang menjadi tanggung jawab desa adat. “LPD-lah yang menjadi sumber keuangan, baik untuk pembangunan fisik maupun ritual,” kata Puja.

Tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig juga membenarkan peran besar LPD Kedonganan dalam mendorong perubahan di Desa Adat Kedonganan. Dari modal hanya sekitar Rp 2 juta kini menjadi Rp 266 miliar. “Dulu masyarakat Kedonganan sangat susah. Sekarang sudah luar biasa, bisa ngaben dan nyekah ngemasa tiap tiga tahun dan itu ditanggung LPD. Dulu pembangunan di desa itu harus urunan, sekarang ditanggung oleh LPD,” kata Ritig.

Yang monumental tentu saja pengembangan kawasan wisata Pantai Kedonganan sebagai kawasan wisata kuliner dengan menu khas ikan laut bakar. Pantai Kedonganan menjadi alternatif wisata kuliner ikan laut bakar selain Pantai Jimbaran. Yang menarik, 24 kafe ikan bakar di sepanjang Pantai Kedonganan itu dikembangkan dengan konsep ekonomi kerakyatan berbasis banjar sejak tahun 2007. Hampir seluruh krama (warga) Desa Adat Kedonganan memiliki saham atas kafe itu. Modal pendirian dan pengelolaan kafe itu berasal dari kredit yang disalurkan LPD Kedonganan senilai Rp 12 miliar atau Rp 500 juta per kafe. Kini, tiap bulan warga Kedonganan mendapatkan pendapatan pasif sedikitnya Rp 700.000 dari pengelolaan kafe. Kedonganan menjadi potret kemandirian ekonomi kerakyatan Bali.

Tahun ini, LPD Kedonganan berusia 25 tahun. Perayaan momentum istimewa ini dilakukan sejak Mei 2015 lalu dengan beragam kegiatan menarik. Panitia mengkampanyekan slogan "Selae Tiban (25 Tahun) LPD Kedonganan" untuk memberi kesan kultural yang kuat. Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, I Wayan Suriawan mengungkapkan perayaan HUT kali ini memang lebih istimewa dari biasanya. Selain rangkaian kegiatan yang panjang dan beragam, anggarannya pun cukup besar mencapai Rp 1,2 miliar. Undian berhadiah bagi nasabah kali ini berupa memberikan hadiah utama berupa satu unit mobil, lima unit sepeda motor dan puluhan hadiah menarik lain senilai total Rp 342 juta. Pemotongan tumpeng sudah dilaksanakan 9 September 2015 lalu, sedangkan puncak perayaan HUT digelar Minggu (27/12) diisi dengan jalan santai dan undian berhadiah bagi nasabah. 

"Melalui perayaan HUT ini kami ingin memantapkan trisukses LPD Kedonganan, yakni sukses parhyangan (keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan), sukses pawongan (keharmonisan hubungan manusia dengan manusia) dan sukses palemahan (keharmonisan hubungan manusia dengan alam)," kata Suriawan.

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra mengatakan perayaan 25 Tahun LPD Kedonganan ini ingin dijadikan momentum mengajak warga Kedonganan melakukan refleksi diri atas apa yang telah dicapai selama ini bersama LPD. Memang, diakui Madra, Kedonganan kini telah bangkit, menikmati kemajuan secara ekonomi, sosial dan budaya. Di tengah kemajuan itu, kata Madra, ada peran besar LPD.

Kini, krama Desa Adat Kedonganan tak lagi terbebani urunan merenovasi atau membangun pura, urunan biaya upacara di pura dan banjar, tak lagi dibebani biaya menyelenggarakan upacara ngaben dan nyekah ngemasa, rutin tiap tiga tahun. Bahkan, masyarakat Kedonganan hampir tidak pernah membayangkan memiliki pendapatan pasif dari pengelolaan kafe di Pantai Kedonganan.

Namun, Madra mengingatkan Kedonganan kini memasuki fase zona nyaman. Orang-orang tua di Bali menyebutnya zaman sarwaelah, serbamudah. Situasi serba elah (mudah) seringkali menjebak karena memunculkan sikap ngelahin (menggampangkan). Tak lagi memiliki semangat kerja keras dan keberanian mencoba tantangan baru dan berinovasi karena merasa segalanya sudah dimiliki, sudah tersedia.

"Dalam momentum Selae Tiban ini, kami mengajak seluruh krama dan prajuru Desa Adat Kedonganan untuk meninggalkan sikap ngelahin atas segala tugas, tanggung jawab dan swadharma kita selaku krama desa. Kita boleh bangga dan yakin dengan milik kita bersama bernama LPD, namun kita juga harus merawat semangat kerja keras yang serius, lurus dan tulus. Itulah cara terbaik untuk menjaga agar LPD Kedonganan tetap kuat sehingga tetap bisa menyangga adat dan budaya Bali di Desa Adat Kedonganan," kata Madra.

Menurut Madra, jika tidak disikapi secara hati-hati, zona nyaman yang dialami saat ini bisa menjerumuskan Kedonganan ke zona kemunduran bahkan kehancuran. Masa depan generasi Kedonganan, kata Madra, harus diselamatkan dengan perubahan kesadaran mengenai zona nyaman itu di kalangan generasi kini.

Selama 25 tahun, LPD Kedonganan sudah menghasilkan laba sekitar Rp 63 miliar. 20% dari laba itu diserahkan ke desa adat sebagai dana pembangunan dan 5% sebagai dana sosial. Di luar itu, LPD Kedonganan juga sudah menyalurkan labda (manfaat) dalam bentuk dana dan program penguatan Tri Hita Karana senilai Rp 20,7 miliar. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.