Terkini

Ingin Memahami Bali, Begini Resep Penekun Sastra Jawa Kuno

Dari Acara Seminar dan Bedah Buku Karya IBM Dharma Palguna


Banyak orang menyebut Bali ini penuh misteri. Tidak sedikit orang menganggap Bali ini kaya rahasia. Sejak lama, orang-orang Bali dan orang-orang luar Bali mencoba memahami pulau alit ini. Namun, sungguh tidak mudah memahami kesejatian Pulau Dewata ini. 

Sejumlah intelektual Bali, bertahun-tahun lalu menawarkan cara lain memahami Bali, yakni menjaga jarak dengan Bali. Orang-orang Bali, yang pernah tinggal di luar Bali, bisa melihat Bali dengan lebih jernih, terbebas dari subjektivitas sebagai orang Bali. 

IBM Dharma Palguna
Penekun sastra Jawa Kuno, IBM Dharma Palguna, menjadi satu di antara sejumlah intelektual Bali yang menawarkan cara memahami Bali dengan jalan menjaga jarak secara sadar dengan Bali. "Saya tidak melihat apa-apa saat ada di Bali. Saya baru melihat Bali saat tidak ada di Bali," kata Dharma Palguna dalam acara seminar dan bedah buku karyanya di Inna Bali Hotel, Denpasar, Rabu (30/12). 

Namun, seberapa jarak yang harus diciptakan dengan Bali untuk bisa memahami Bali, Dharma Palguna mengakui hal itu sebagai sesuatu yang sulit dijawab. "Yen bes paek sing tepuk apa, yen bes joh sing ngenah apa. (Jika terlalu dekat tidak melihat apa-apa, tapi jika terlalu jauh juga tidak kelihatan apa)," kata Dharma Palguna yang cukup lama tinggal dan bekerja di luar Bali.

Yang jelas, kata Dharma Palguna, menciptakan jarak secara sadar untuk memahami sesuatu ini amat penting. Mengutip penyair Kahlil Gibran, Dharma Palguna menyatakan gedung yang kokoh tidak dibangun dari pilar-pilar yang rapat, melainkan karena pilar-pilar itu memiliki jarak satu sama lain. 

Dharma Palguna mengkritik banyak orang kini tersesat di belantara sastra dan tidak tahu jalan pulang. Dalam tradisi kesusastraan Bali, tatkala tersesat di belantara sastra, orang dianjurkan naik ke pohon tertinggi. Menurut jebolan Fakultas Sastra Universitas Udayana ini, pohon tertinggi itu tiada lain tatwa

Menurut Dharma Palguna, sastra Jawa Kuno yang menjadi sumber mata air peradaban Bali ibarat pohon besar yang telah tumbuh dan bertahan selama belasan abad. Akar pohon yang kokoh ini, diyakini Dharma Palguna, tumbuh di Bali, bukan di luar apalagi di seberang pulau yang jauh. Karena itu, jika ingin memahami pohon yang bernama Bali harus dicari dari kesusastraan yang ada di Bali. 

Penyair sastra Bali modern yang terkenal dengan buku kumpulan puisi Lawat-lawat Suwung ini pun menyinggung pandangan yang kini cukup populer di Bali mengenai zaman Kali Yuga yang karena dimaknai sebagai zaman kehancuran lantas dilihat sebagai zaman yang buruk. Justru, kata Dharma Palguna, zaman Kali Yuga inilah zaman paling indah. Kali Yuga adalah zaman yang paling dekat dengan Kerta Yuga. Dharma Palguna menganalogikan malam sebagai waktu yang paling indah karena dari malamlah orang bisa memasuki pagi.

"Itulah yang dalam tradisi kesusastraan Jawa Kuno disebut sebagai amuter tutur. Saya memahaminya sebagai upaya membalikkan pikiran," kata doktor ilmu sastra di Faculteit der Letteren, Rijksuniversiteit, Leiden, Belanda pada tahun 1999. 

Agar upaya membalikkan pikiran itu memiliki makna, konsep amuter tutur mesti dilengkapi dengan konsep pinahayu. Dalam pandangan Dharma Palguna, pinahayu tiada lain memfokuskan diri pada tujuan diri. "Kita semua punya tujuan, tapi tidak semua orang tahu tujuannya," kata penulis esai di berbagai media massa ini. 

Dharma Palguna menilai amuter tutur pinahayu sebagai manajemen konflik ala orang Bali. Memahami sesuatu dilakukan dengan membalikkannya. "Ketika Anda menderita, tekuni penderitaan itu. Tatkala Anda takut, nikmati ketakutan itu," ujar Dharma Palguna. 

Buku karya Dharma Palguna yang dibedah dalam acara ini sebanyak enam buah. Keenam buku itu, Dharma SunyaHoma DhyatmikaPerempuan ShaktiWatulumbang Watumadeg Buku 1Watulumbang Watumadeg Buku 2, dan Bhisma Parwa Jawa Kuno. Buku-buku ini diterbitkan tahun ini oleh Yayasan Bali Lestari, sebuah yayasan sosial, keagamaan dan kemanusiaan yang berpusat di Mambal, Abiansemal, Badung. Pembina yayasan ini, IB Pada Kesuma, seorang politisi Partai Golkar yang kini duduk sebagai anggota DPRD Bali. 

I Wayan Juniarta yang menjadi pembedah menyebut buku-buku Dharma Palguna, meskipun menggali kekayaan spiritual dalam teks-teks Jawa Kuno tidaklah tampil sebagai karya yang dogmatis atau pun indoktrinasi. Justru, ciri khas buku-buku karya Dharma Palguna sebagai seorang intelektual Bali yang tiada henti bertanya. (b.) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.