Terkini

Tradisi di Malam Hari Saraswati, "Ngukup Toya Kumkuman" untuk Banyupinaruh

Hari Saraswati yang dirayakan masyarakat Bali (Hindu), Sabtu (28/11) hari ini, kaya dengan tradisi. Selain tradisi "brata Saraswati" --pantangan membaca dan menulis yang bagi sebagian orang Bali juga disertai puasa-- sepanjang pagi hingga malam hari ini, ada juga tradisi unik ngukup toya kumkuman

Tradisi ini memang tidak begitu populer karena tak banyak yang melakukan. Biasanya, tradisi ini dilaksanakan di lingkungan griyaNgukup merupakan tradisi membuat air suci atau tirtha dengan cara mengasapi air menggunakan pasepan dan kemenyan. 

Saat hari Saraswati, biasanya malam hari, di beberapa keluarga di luar lingkungan griya juga melakukan kegiatan serupa. Tradisi ini lazim dilakukan di Bali Timur, terutama Klungkung dan Karangasem. 

Di Desa Kusamba, Klungkung, tradisi ini masih dijaga keluarga Ni Nyoman Tirtha. Saban malam hari Saraswati, dia dan keluarganya ngukup toya kumkuman, air khusus yang digunakan untuk malukat esok hari saat hari Banyupinaruh. 

"Tiang sejak masih kecil diajarkan melakukan tradisi seperti ini oleh ibu. Saya lanjutkan sampai saya menikah dan punya anak hingga kini," kata Tirtha.

Tradisi ngukup toya kumkuman yang dilakukan Tirtha cukup sederhana. "Kalau di griya mungkin berbeda atau lebih lengkap. Kalau saya di keluarga terbiasa dengan proses yang sederhana begini, sesuai ketersediaan bahan dan perlengkapan," kata Tirtha.

Ngukup toya kumkuman menggunakan sejumlah perlengkapan, di antaranya sebuah paso, dua buah jun berukuran sedang, kemenyan, pasepan,  dan tentu saja air secukupnya. Pasepan dinyalakan hingga terbentuk bara. Lalu di atas bara ditaburi kemenyan hingga keluar asap. Begitu asap keluar, tempat pasepan ditutup dengan sebuah jun. Setelah beberapa saat, jun penutup asap pasepan dibuka. Saat jun masih dipenuhi asap itulah, air ditungkan ke dalam jun. Proses ini diulang lagi menggunakan dua jun secara bergantian hingga air benar-benar menebarkan bau harum. 

"Tujuan ngukup memang membuat air menjadi harum," kata Tirtha. 

Memang, imbuh Tirtha, untuk membuat air menjadi berbau harum bisa dengan hanya menaburi bunga-bunga harum. Namun, kata Tirtha, keharuman yang ditimbulkan dari proses ngukup jauh lebih kuat. 

Setelah proses ngukup selesai, toya kumkuman itu akan ditaruh di sanggah/merajan atau di tempat khusus. Esok hari, sepulang dari malukat ke pantai atau sumber-sumber mataair, semua keluarga menyirami sekujur tubuhnya dengan toya kumkuman itu. Setelah itu, barulah melakukan persembahyangan dan nyurud nasi pradnyan dan loloh sad rasa sebagai pertanda berakhirnya rangkaian hari suci Saraswati. 

Penyempurnaan Diri


Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Made Wiradnyana menyatakan malukat ke pantai atau sumber mata air yang dilanjutkan dengan malukat menggunakan toya kumkuman merupakan simbolis pembersihan dan penyucian diri. Setelah menerima anugerah ilmu pengetahuan yang tiada henti mengalir dari Sang Hyang Aji Saraswati, Tuhan dalam manifestasi penguasa segala ilmu pengetahuan, manusia Bali-Hindu menyelam di samudera ilmu pengetahuan yang mahaluas (banyu pangweruh). Dari titik inilah, manusia Bali-Hindu menyampaikan pengharapan agar kembali suci, laksana bayi yang baru lahir.

Hari Saraswati dan Banyupinaruh, kata Wiradnyana, memang dua hari perayaan yang berkaitan erat atau nemugelang. Saraswati di hari akhir wuku, (Watugunung), sedangkan Banyupinaruh di hari pertama wuku (Sinta). Ini simbolis, manusia mengalami proses penyempurnaan diri terus-menerus. 


"Seperti Watugunung yang setelah mati dihidupkan kembali mencapai kesempurnaan hidup. Dan itu dicapai setelah dia bertemu kembali dengan ibunya sendiri. Ini disimboliskan dengan pertemuan Watugunung dan Sinta. Watugunung itu simbol benih, Sinta itu simbol tanah, simbol ibu," kata kandidat doktor di Program Studi Linguistik Unud. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.