Terkini

Tiga Desa Ini Pantang Pelihara Babi Betina

Tiga desa ini letaknya berjauhan. Jimbaran di Badung Selatan, Desa Sidakarya di Denpasar Selatan dan Buahan di Payangan Gianyar. Tapi, tiga desa ini memiliki tradisi serupa: berpantang memelihara bangkung atau babi betina.


Orang Bali memelihara babi. (balisaja.com)

Jimbaran


Di Jimbaran, warga meyakini bila ada yang berani memelihara bangkung di wilayah Jimbaran, konon bangkung yang dipelihara itu kerap kali mamuduh atau berperilaku aneh. Bahkan, si pemilik bisa dicelakai oleh bangkung peliharaannya itu. “Uniknya, meskipun ada pantangan memelihara bangkung, warga Jimbaran tiada terhalang bila memelihara celeng (babi jantan),” kata seorang tokoh masyarakat Jimbaran, I Nyoman Predangga.

Tiada jelas mengapa muncul keyakinan semacam itu di Jimbaran. Menurut penuturan para tetua, konon, pantangan ini lahir karena Ida Batara di Pura Ulun Swi tiada berkenan jika ada warga Jimbaran memelihara babi betina. Mantan Bendesa Adat Jimbaran, I Gusti Putu Raka Antara menyatakan ancangan (makhluk halus yang menjadi abdi) di Pura Ulun Swi ada yang berwujud babi betina.

Dugaan ini didukung pula oleh pengalaman puluhan tahun silam yakni adanya sekelompok warga dari luar Jimbaran yang mengusung pelawatan barong bangkung melintasi wawengkon Desa Adat Jimbaran hendak menuju Pura Luhur Uluwatu. Ternyata, baru sampai di simpang empat pusat desa Jimbaran dekat Pura Ulun Swi, sang pengiring tersesat. Mereka terus berputar-putar di setra (kuburan) dan tak pernah sampai di Pura Uluwatu. Seorang warga Jimbaran kemudian melihat peristiwa ini dan memberitahukan bahwa tiada diperkenankan melintasi Jimbaran membawa pelawatan barong bangkung tersebut. Akhirnya, kelompok warga itu pun pulang kembali ke desanya.


Sidakarya


Perihal pantangan memelihara bangkung ini juga dimiliki warga Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Malah, bukan hanya bangkung yang pantang dipelihara warga Sidakarya tetapi juga sejumlah hewan piaraan lain seperti kuda, kambing, domba, monyet,  serta misa atau kerbau putih.

Tiada jelas, memang, apa penyebabnya hingga muncul pantangan semacam ini. Namun, seperti termuat dalam buku Babad Sidakarya susunan I Nyoman Kantun dan I Ketut Yadnya disebutkan munculnya pantangan terhadap hewan-hewan piaraan itu karena secara niskala diyakini sudah ada ancangan seperti hewan-hewan itu di desa ini. Karenanya, warga tidak patut lagi memelihara binatang tersebut karena merupakan unen-unen (makhluk halus yang menjadi penjaga) desa.


Buahan


Di Desa Buahan, Payangan, Gianyar, juga ada pantangan sejenis. Uniknya, tidak seluruh warga desa ini memiliki keyakinan tersebut. Hanya sebagian warga, khususnya yang tinggal di sebuah kawasan pemukiman di sebelah utara desa yang lazim dikenal warga setempat sebagai Pondok Leg.

Setiap warga yang tinggal di Pondok Leg memang tidak berani memelihara bangkung. Kalau saudara-saudara mereka yang tinggal di pusat desa Buahan tidak ada masalah memelihara bangkung.

Biasanya, kata salah seorang warga Pondok Leg, I Nyoman Suri, bila ada warga yang tinggal di Pondok Leg memelihara bangkungbangkung tersebut tidak kunjung buang (birahi). Sementara si pemilik akan merasa tidak tenang. Entah apa penyebabnya, warga setempat tak tahu. Tidak ada data dan informasi pasti yang bisa menjelaskan keunikan ini. Hanya memang, menurut cerita-cerita para panglingsir, pantangan ini berkaitan erat  dengan keberadaan sasuhunan di Pura Puseh Beras Membah yang merupakan penguasa di Pondok Leg.

Anehnya, kalau warga di Pondok Leg memelihara hewan piaraan tertentu seperti celeng (babi jantan) biasanya lebih cepat besar. Jika dibandingkan dengan warga di pusat desa, warga di Pondok Leg memiliki babi dengan berat badan yang agak lebih. (b.)

Teks dan Foto: Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.