Terkini

Gunung Agung Masuk Gunung Paling Berbahaya di Dunia, Begini Sejarah Letusannya

Gunung tertinggi di Bali, Gunung Agung, ternyata masuk dalam enam gunung paling berbahaya di dunia. Selain Gunung Agung, gunung berapi di Indonesia yang juga masuk predikat berbahaya, yakni Gunung Kelud di peringkat 10. 

Sebagaimana dilansir sejumlah media nasional, para pakar vulkanologi dari Universitas Manchester menyebut peringkat pertama gunung api paling berbahaya di dunia ditempati Gunung Suribachi di Jepang. Kedahsyatan letusan gunung ini diyakini menyamai Gunung Tambora pada tahun 1815. 

Gunung Agung (sumber: www.wikipedia.org)
Memang tidak ada penjelasan rinci mengapa Gunung Agung dimasukkan ke dalam daftar gunung api paling berbahaya di dunia. Namun, Gunung Agung memang dikategorikan sebagai gunung api aktif. Para pakar kegunungapian menyebut gunung dengan ketinggian 3.142 meter ini termasuk masih muda dengan tipe monoconic strato. Gunung strato berbentuk kerucut yang terbentuk karena materi letusan berupa campuran antara hasil arupsi afusif dan eksplosif. 

Letusan Pertama Kali

Jika menelusuri teks-teks tradisional Bali maupun sumber-sumber Barat, Gunung Agung terlihat tidak pernah diam. Berkali-kali, gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem ini memuntahkan laharnya. 

Majalah gumi Bali, Sarad No. 44, Desember 2003, mengutip teks Babad Gunung Agung mencatat letusan pertama kali Gunung Agung terjadi pada candrasangkala rudira bhumi yang ditafsirkan tahun  11 Saka atau 89 Masehi. Kedua meledak pada gni bhudara atau 13 Saka atau 92 Masehi. Konon, letusan Gunung Agung yang dalam teks-teks tradisional Bali disebut Gunung Tohlangkir itu disertai gempa hebat dan hujan selama dua bulan. 

Letusan kali pertama ini memang dikaitkan dengan mitologi turunnya Hyang Putra Jaya, Hyang Geni Jaya dan Dewi Danuh sebagai titah Hyang Pasupati di Puncak Gunung Semeru ke Balidwipamandala guna menstabilkan pulau ini yang disebut sedang menggang-menggung. Dalam mitologi ini lantas diceritakan Hyang Putra Jaya sebagai paling tua menempati Gunung Agung, Hyang Geni Jaya menmpati Gunung Lempuyang dan Dewi Danuh menemati Gunung Batur dengan Danau Baturnya. 

Babad Gunung Agung juga masih mencatat, Gunung Agung kembali meletus tahun 70 Saka atau 148 Masehi yang konon mengakibatkan di kawah Gunung Agung muncul air mengandung belerang (soladaka). Letusan keempat kali terjadi pada tahun 111 Saka atau 189 Masehi. 

Catatan tradisional mengenai aktivitas Gunung Bali juga ditemukan dalam teks Babad Gumi koleksi Puri Kanginan, Karangasem. Dalam teks ini dicatat Gunung Agung meletus pada tahun 1543, 1615-16, 1665, 1683-84 dan 1710-11.

Memang, sulit mencari bukti-bukti otentik atas catatan tradisional Bali itu. Terlebih lagi, sumber teks babad --yang umumnya diproduksi pada periode kolonialisasi Majapahit di Bali-- dalam studi sejarah dianggap kurang valid data historisnya. Penulis babad kerap kali tidak jelas, termasuk kapan ditulis dan di mana ditulis. Berbeda dengan prasasti-prasasti masa Bali Kuno yang relatif jelas menyebut nama raja yang mengeluarkan, tempat dikeluarkan prasasti dan tahun Saka-nya. 

Catatan yang agak akurat memang didapatkan dari sumber-sumber Barat. Catatan memadai pertama mengenai aktivitas Gunung Agung ditemukan tahun 1808. Letusan ini disertai uap dan abu vulkanik. 

Berselang 13 tahun kemudian, Gunung Agung kembali meletus pada 1821. Namun, tidak ada catatan memadai mengenai peristiwa ini. Dalam rentang waktu 22 tahun, Gunung Agung meletus lagi pada 25 September 1843. Kali ini, letusan didahului dengan sejumlah gempa bumi vulkanik. Letusan tahun ini pun disertai dengan keluarnya abu vulkanik, pasir dan batu apung. 

Pada awal abad ke-20, manakala Bali mulai ditaklukkan secara total oleh Belanda, letusan Gunung Agung beberapa kali terjadi. Sumber-sumber Barat mencatat Gunung Agung meletus tahun 1908, 1915, 1917 dan tentu saja yang letusan paling dahsyat tahun 1963. 

Pada tahun 1917, puncak letusan Gunung Agung terjadi hari Minggu, 21 Januari, pukul 16.50 waktu Bali. Letusan ini disertai gempa dahsyat selama 45 detik. Meski berdurasi pendek, gempa bumi ini menghancurkan 2.431 pura, merusak ribuan hektare lahan pertanian subur serta menewaskan 1.372 manusia. 


Letusan Terakhir

Letusan paling dahsyat yang paling diingat orang Bali, tentu saja peristiwa tahun 1963. 17 Maret 1963, tiga hari menjelang hari raya Galungan, Gunung Agung meletus disertai gempa bumi hebat. Bali Post mencatat letusan ini mengakibatkan 1.148 orang tewas dan 296 mengalami luka-luka. 820 orang meninggal karena terkena aliran lava, 163 mati karena semburan batuan dan hujan abu, dan 165 orang tewas akibat lahar. Selain itu, ribuan hewan piaraan mati, 17 desa hancur, lebih dari 50.000 hektare lahan subur terkubur muntahan lahar dan sekitar 350.000 hektare lahan lainnya rusak. 

Dampak letusan Gunung Agung tak hanya melantakkan jagat Bali, tetapi juga dirasakan hingga ke Pulau Jawa dan Lombok. Hujan pasir, abu dan debu meluas hingga Lombok di sisi timur dan Surabaya di sisi barat. (b.)

Teks: I Made Sujaya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.