Terkini

Begini Kronologi Perang Puputan Margarana, 20 November 1946

Hari ini, 20 November, 69 tahun lalu, di ladang jagung Subak Uma Kaang, Kelaci, Desa Marga, Tabanan, sebuah peristiwa heroik-tragik terjadi. Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, pemimpin Laskar Ciung Wanara yang saat itu baru berumur 29 tahun, bertempur habis-habisan menghadapi tentara Belanda. Bersama 95 pemuda lainnya, Ngurah Rai gugur sebagai kusuma bangsa. 


Orang Bali mengenang peristiwa itu sebagai perang Puputan Margarana. Inilah tonggak penting perjuangan masyarakat Bali menegakkan Merah Putih di Pulau Dewata. Seperti apa kronologis perang Puputan Margarana? Berikut detik-detik peristiwa itu yang dikutip dari buku Bali Berjuang karya I Nyoman S. Pendit dan Tonggak-Tonggak Sejarah Pada Masa Revolusi Fisik di Bali Tahun 1945--1948 yang diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Denpasar bekerja sama dengan Yayasan Kebaktian Proklamasi Provinsi Bali. 

Poster "Trusang Mesiat Cening, Meme Ngastitiang" karya pelukis Wayan Ngendon, 1945 (Repro buku Bali Berjuang)

18 November 1946 
Malam hari 
Penyerbuan tangsi polisi Netherlands Indies Civil Admnistration (NICA) --pemerintahan sipil Hindia Belanda-- di Kota Tabanan. Para pemuda gerilyawan berhasil merampas senjata dan mesiu. Belanda NICA geram dan ingin membalas serangan para pemuda gerilyawan. 

19 November 1946 
Pagi hari 
Para pemuda gerilyawan berkumpul di Banjar Ole, Desa Marga, Tabanan. Di sinilah, Letkol I Gusti Ngurah Rai menyusun kembali induk pasukan Resimen Soenda Ketjil. Kala itu ada kekuatan sekitar 70 orang. Kekuatan ini masih didukung para pemuda desa yang pernah menerima latihan ketentaraan. 

19 November 1946 
Pukul 16.00
Pertunjukan kesenian Janger yang didatangkan dari Banjar Tunjuk. Penduduk dan para pemuda gerilyawan menikmati pertunjukan yang disertai demonstrasi permainan pencak silat. 

Pukul 18.00 
Semua anggota pasukan dan para perwira berkumpul di tempat Ngurah Rai. Selesai memberi perintah, Ngurah Rai mengajak seluruh pasukan bersembahyang di Pura Dalem Basa. 

Pukul 19.30 
Pasukan Ciung Wanara meninggalkan Banjar Ole menuju Kelaci. Di sini, mereka beristirahat. 

20 November 1946 
Pukul 06.00 
Jalan raya dari Desa Marga menuju Desa Tunjuk dilalui truk-truk pengangkut serdadu-serdadu NICA. Di Desa Marga, NICA meneror warga. Semua warga desa disuruh keluar rumah dan berkumpul di Pasar Marga. Warga dipaksa menyebutkan tempat para pemuda gerilyawan bersembunyi. Tapi, tak ada yang mau membuka mulut. 

Pukul 08.30 
Letkol Ngurah Rai memerintahkan semua pasukan mengalih ke arah utara. Di tengah-tengah sawah yang sedang ditumbuhi jagung muda dan ketela rambat berumur kurang lebih dua bulan, mereka mempersiapkan steling. Ada sekitar 94 orang anggota induk pasukan yang bergabung. Pada saat yang sama pasukan Belanda mulai banyak menyebar ke tengah-tengah sawah dan berbondong-bondong melewati persawahan Uma Kaang, tempat laskar Ciung Wanara bertahan. 

Pukul 09.00 
Bunyi tembakan pistol pertama dari Letkol Ngurah Rai meletus sebagai pertanda dimulainya tembakan kepada musuh. Bunyi letusan karaben, tembakan sten dan bren bersahut-sahutan. Serdadu Belanda di barisan terdepan berjatuhan, tewas diberondong peluru laskar Ciung Wanara. Serdadu Belanda di barisan belakang berupaya membalas sembari mundur ke jalan besar. Dalam waktu satu setengah jam, Belanda NICA tak dapat maju, malah banyak korban jatuh di pihak mereka. Belanda mundur sampai ke Desa Tunjuk di sebelah barat dan terus ke selatan Desa Marga. Pasukan Belanda yang ada di bagian timur sampai di Sungai Sungi. Untuk membuat medan agak lebih luas lagi, pasukan Ciung Wanara dibagi tiga barisan. Barisan depan, sayap kanan, dan sayap kiri, sedangkan pimpinan berada di tengah-tengah. 

Pukul 11.30 
Belanda mengirimkan bantuan pesawat udara untuk memastikan letak steling pasukan laskar Ciung Wanara. Mula-mula pesawat intai kecil. Tembak-menembak dengan laskar Ciung Wanara terjadi, baik dengan pesawat pengintai maupun pasukan Belanda di darat. 

Pukul 14.30
Pertempuran sengit masih terjadi. Belanda yang sudah mengetahui lokasi pasti pertahanan pasukan Ciung Wanara semakin menambah kekuatannya. Belanda mengerahkan pasukan dari berbagai pos di Bali mengepung pasukan Ciung Wanara dari semua jurusan. Bom-bom dijatuhkan hingga membuat kepulan asap tebal di areal pertempuran. Korban dari pihak laskar Ciung Wanara pun mulai berjatuhan. Mayor Sugianyar gugur tertembak. Ngurah Rai yang mengetahui hal ini pun memberikan perintah terakhir agar seluruh anak buahnya bertempur sampai titik darah penghabisan. Teriakan "Puputan, Puputan, Puputan!" pun bergema dari para pemuda sembari menyerbu pasukan Belanda. Tidak satu pun serdadu Belanda berani maju tetapi terus menembakkan senjatanya. Satu per satu para pemuda pun berguguran. 

Sore hari, suara tembakan dari para pemuda laskar Ciung Wanara tak terdengar lagi. Hampir semua pemuda gerilyawan itu gugur. Hanya beberapa yang masih hidup. Di antaranya, Gusti Konolan yang berhasil diselamatkan warga. Komandan Wagimin yang terluka parah tak sempat diselamatkan rakyat dihabisi Belanda karena tidak mau membuka mulut perihal di mana pemuda-pemuda gerilyawan lainnya berada. 

Malam hari, rakyat Desa Marga menghitung-hitung jumlah jenazah para pemuda yang bergelimpangan. Ditemukan 96 jenazah pemuda yang gugur yang pertempuran di ladang jagung itu. Namun, dilaporkan pula pihak Belanda kehilangan 400 serdadunya. 

Untuk mengenang peristiwa ini, pada tahun 1954 dibangun Monumen Puputan Margarana. Pembangunan dimulai 15 Mei 1954 dan diresmikan pada 20 November 1954. Ide pembuatan monumen dicetuskan I Nengah Wirtha Tamu (Pak Cilik), salah seorang pemimpin pejuang kemerdekaan RI, sedangkan pola dan bentuk bangunan dirancang Ida Bagus Kalem, pejuang yang juga gemar melukis. Monumen dibuat berbentuk candi bersusun delapan dengan tinggi 17 meter dan dilengkapi 45 anak tangga yang melambangkan hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.