Terkini

Jika Dikelola Benar, Upacara Agama Bisa Wujudkan Kemandirian Ekonomi Bali

Desa Adat Kedonganan Gelar Karya Padudusan Pura Dalem


Penilaian terhadap pelaksanaan upacara keagamaan di Bali sebaiknya dilakukan secara holistik, adil dan tidak gegabah. Memang, di satu sisi berbagai ritual keagamaan di Bali terasa menelan biaya besar, tetapi menyebutnya sebagai pemiskinan masyarakat Bali merupakan penilaian yang cenderung bersifat politis sehingga perlu didiskusikan lagi. Pelaksanaan upacara keagamaan Hindu di Bali kenyataannya menjadi salah satu faktor penting yang mendorong perekonomian masyarakat di Pulau Dewata ini. Justru, jika dikelola dengan benar, upacara keagamaan Hindu bisa melahirkan kemandirian ekonomi masyarakat Bali. 

Pandangan ini dikemukakan tokoh masyarakat Kedonganan yang juga Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menjawab pertanyaan balisaja.com di sela-sela puncak upacara Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan-Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan, Selasa (21/7). Dalam karya yang diikuti ribuan krama desa adat setempat, Madra juga menjadi manggala prawartaka (ketua panitia)

Karya Padudusan Agung Pura Dalem Desa Adat Kedonganan
(balisaja.com/sujaya)
Madra mencontohkan karya yang digelar di desanya itu. Upacara tingkatan madyaning utama itu memang menelan biaya sekitar Rp 3 miliar. Namun, dampak pelaksanaan upacara itu cukup kompleks. Masyarakat penyedia bahan-bahan sesaji dan sarana upacara lainnya ikut kecipratan rezeki. Belanja berbagai keperluan upacara itu mendorong bergeraknya kegiatan ekonomi masyarakat. 

"Jika dikelola dengan benar, upacara semacam ini bisa mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Bali. Petani Bali bisa hidup, peternak Bali bergairah, para undagi dan sarati banten juga menikmati buah dari kompetensinya," kata jebolan Magister Manajemen Undiknas Denpasar ini. 

Sayangnya, kata Madra, masyarakat Bali tak mampu menangkap peluang emas di depan mata itu. Pertanian dan peternakan diabaikan sehingga kebutuhan sarana upacara yang bersumber dari dua bidang itu akhirnya banyak yang mesti didatangkan dari luar Bali. Di sisi lain, masyarakat enggan menguasai keterampilan sebagai undagi dan sarati banten sehingga kompetensi itu hanya dimiliki kelompok tertentu. Pada saat yang sama, tumbuh sikap pragmatis-konsumtif yang begitu kuat ditingkahi keinginan suka pamer dalam melaksanakan upacara. 

"Upacara keagamaan di Bali yang sambung-menyambung sepanjang tahun sesungguhnya memang sebuah strategi kebudayaan untuk menjaga kemandirian ekonomi masyarakat Bali. Kalau pariwisata bisa oleng karena isu sensitif, tapi kebutuhan sarana upacara di Bali tidak ada matinya," kata Madra.

Belum lagi aspek sosiologis upacara keagamaan yang mendorong tumbuh kuatnya modal sosial orang Bali, seperti semangat kebersamaan, kekeluargaan, keikhlasan dan ketakwaan. Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan Kedonganan ini, kata Madra, mampu merawat sekaligus menyalurkan energi kolektivitas dan pengabdian krama Desa Adat Kedonganan. 

Madra memahami kritik terhadap pelaksanaan ritual di Bali yang berbiaya besar sebagai bentuk evaluasi ke dalam bagi orang Bali. Hanya saja, Madra mengingatkan agar solusi yang diambil tidak bersifat pragmatis, hanya berdasarkan pertimbangan aspek biaya. 

"Sudut pandangnya semestinya membangun kemandirian ekonomi masyarakat Bali dari aspek upacara keagamaan. Dengan catatan, berbagai kelemahan internal orang Bali harus pelan-pelan kita benai," kata Madra. 

Selaku regulator, menurut Madra, Pemerintah Bali, baik di provinsi maupun kabupaten mesti berjuang agar perputaran uang dari sektor upacara keagamaan ini bisa lebih banyak dinikmati orang Bali. Pemerintah Bali bisa mengoptimalkan peran desa adat atau banjar sebagai basis kolektivitas masyarakat Bali. 

"Sebagai lembaga khusus yang mewadahi duwe desa adat, LPD yang ada di masing-masing desa adat bisa dijadikan motor penggeraknya," kata Madra. 

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan dilaksanakan serangkaian telah usainya renovasi Pura Dalem dan pemugaran Pura Mrajapati setempat sejak awal tahun 2015 lalu. Selain itu, menurut Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, upacara ini digelar sesuai petunjuk lontar Dewa Tattwa yang menyebutkan pura atau parhyangan yang dipugar, direnovasi atau pun telah mencapai usia selama-lamanya 30 tahun, mesti melaksanakan upacara penyucian kembali, seperti padudusan, ngenteg linggih dan mupuk padagingan

Puja menambahkan meski menelan biaya besar, upacara ini tidak seluruhnya menggunakan kas desa adat. Sebagian di antaranya berasal dari dana punia krama yang dilandasi ketulusan dan keikhlasn serta dari hasil pengelolaan dana krama di LPD Desa Adat Kedonganan. 

Rangkaian upacara sudah dimulai sejak 1 Juni lalu dan berakhir pada 1 September mendatang. Upacara di-puput 15 sulinggih dengan yajamana karya Ida Pedanda Putra Telaga dari Griya Gulingan Sanur.

Ida Pedanda Putra Telaga menjelaskan Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan memiliki makna menyucikan kembali serta memperkokoh stana Ida Batara di Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Melalui ritual ini, selanjutnya bisa memunculkan semangat dan kesadaran baru yang memperkuat keyakinan (sradha) dan ketakwaan (bhakti) krama desa ke hadapan Sang Pencipta. (b.)

Teks dan Foto: Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.