Terkini

Jalan Berliku Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Dewa Agung Istri Kanya

Mengenang 166 tahun Perang Kusamba, Senin, 25 Mei 2015 hari ini tentu juga berarti mengenang perjuangan seorang perempuan Bali hebat, Dewa Agung Istri Kanya. Raja putri inilah yang memimpin perlawanan rakyat Klungkung menentang invasi Belanda di Desa Kusamba. Bersama Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung, Dewa Agung Istri Kanya mengarsiteki penyerangan balasan terhadap Belanda di Kusanegara yang berujung pada gugurnya pimpinan ekspedisi Belanda, Jenderal AV Michiels.

Itu sebabnya, Pemkab Klungkung bersama masyarakat Klungkung secara resmi mengusulkan Dewa Agung Istri Kanya sebagai pahlawan nasional. Pengajuan gelar Pahlawan Nasional untuk Dewa Agung Istri Kanya sudah dilakukan tahun 2003 berdasarkan surat Gubernur Bali No : 465/415/Kesbang tertanggal 26 Agustus 2003. Ketika itu, usulan ditolak karena belum ada bangunan monumental atas nama Dewa Agung Istri Kanya, makam pahlawan dan sejumlah unsur lain.


Semasa Bupati Wayan Chandra, pada tahun 2009, usulan itu diperjuangkan lagi dengan rekomendasi Gubernur Bali, No 464.1/202.9/Dinsos tertanggal 27 Februari 2009. Saat itu, nama Dewa Agung Istri Kanya sudah diabadikan sebagai nama balai budaya di Kota Smarapura serta dibangun pula monument pahlawan di Desa Jumpai dengan menggunakan nama Dewa Agung Istri Kanya. Upaya kedua ini juga kembali kandas. Kementerian Sosial RI menyatakan perjuangan Dewa Agung Istri Kanya relatif singkat dan terbatas. Perjuangan mengusulkan gelar Pahlawan Nasional untuk Dewa Agung Istri Kanya ternyata tidak mudah, mesti meniti jalan berliku dan panjang. 

Para peneliti sejarah dari Unud sebetulnya sudah mengadakan penelitian untuk menentukan kelayakan Dewa Agung Istri Kanya diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Dua profesor sejarah dari Universitas Udayana (Unud), I Gede Parimarta dan AA Bagus Wirawan menilai Dewa Agung Istri Kanya layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Pasalnya, Dewa Agung Istri Kanya terbukti memiliki keberanian dan semangat patriotik dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. Bahkan, di bawah komandonya, laskar Klungkung berhasil menewaskan pemimpin pasukan Belanda, Jendral AV Michiels.


AA Bagus Wirawan menyatakan, memang perlawanan yang dipimpin Dewa Agung Istri Kanya berskala kecil dan terbatas. Tapi, berkat kelihaiannya dalam strategi perang, pasukannya bisa menewaskan pemimpin pasukan Belanda. Menurut Wirawan, perjuangan Dewa Agung Istri Kanya bisa disejajarkan dengan Pahlawan Nasional perempuan lain, seperti Tjoet Nya’ Dien. Bahkan, Dewa Agung Istri Kanya memiliki kelebihan lain karena selain sebagai raja juga menjadi rakawi atau sastrawan.

Menurut Wirawan, usulan gelar Pahlawan Nasional untuk Dewa Agung Istri Kanya harus terus diupayakan. Jika memang ada persyaratan yang belum dipenuhi, mesti dilengkapi. “Yang penting, semua pihak, pemerintah, pihak keluarga serta masyarakat harus sungguh-sungguh memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional untuk Dewa Agung Istri Kanya,” kata Wirawan. 


Mungkin Negara belum mengakui Dewa Agung Istri Kanya sebagai Pahlawan Nasional. Tapi, di hati masyarakat Klungkung, bahkan juga di hati masyarakat Bali, Dewa Agung Istri Kanya adalah seorang pahlawan. Terlebih lagi bagi perempuan Bali, Dewa Agung Istri Kanya dipandang sebagai salah satu simbol penting emansipasi perempuan Bali. (b.)

1 komentar:

  1. mari mulai peringati hari perang kusamba,,,waktu upacara bendera kita undang pejabat dari pusat,,,dengan begitu semoga gaungnya lebih nasional diliput srasiun tv nasional

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.