Terkini

Hanya Sekali Pada Abad Ini, Hari Saraswati Bertemu Hari Pendidikan Nasional

Perayaan Hari Saraswati tahun 2015 ini terasa istimewa. Pasalnya, peringatan hari suci yang di kalangan masyarakat Bali dimaknai sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan itu berbarengan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei

Perayaan Hari Saraswati dan Hari Pendidikan Nasional secara bersamaan sangat jarang terjadi bahkan langka. Sebelumnya, pertemuan hari raya Saraswati dan Hari Pendidikan Nasional terjadi di akhir abad ke-20, yakni tahun 1992. Pada abad ke-21 ini, peristiwa Hari Saraswati bertemu Hari Pendidikan Nasional hanya terjadi sekali, yakni pada tahun 2015 ini. 

Pertemuan perayaan Hari Saraswati dan Hari Pendidikan Nasional dipandang istimewa karena kedua perayaan itu memiliki makna yang tidak jauh berbeda. Yang satu dalam konteks tradisional Bali dan agama Hindu, yang satu dalam konteks tradisi nasional. 

Saat hari Saraswati, semua pustaka dikumpulkan lalu diberikan sesaji khusus banten Saraswati.
Hari Saraswati dirayakan umat Hindu Indonesia setiap 210 hari sekali tepatnya hari Saniscara (Sabtu) Umanis wuku Watugunung. Hari itu merupakan hari terakhir dalam siklus kalender Jawa-Bali. Orang-orang sering menyebutnya sistem pawukon.

Secara tradisional, saat Hari Saraswati, masyarakat Bali biasanya akan mengumpulkan seluruh pustaka suci yang dimiliki untuk diupacarai. Dengan sesaji khusus yang dikenal sebagai banten sesayut Saraswati, mereka berdoa memohon kepada Sang Hyang Aji Saraswati, Tuhan dalam manifestasi penguasa ilmu pengetahuan, agar dianugerahi kecerdasan dan kecemerlangan budi sebagai bekal mengarungi hidup dan kehidupan. 

(Baca: Saraswati, Hari Aksara ala Bali)

Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei di Indonesia secara resmi dituangkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959. Meskipun ditetapkan pada tahun 1959, secara efektif peringatan hari pendidikan nasional baru dilaksanakan tahun 1967 setelah Pak Harto menjadi Pejabat Presiden RI. Peringatan ini untuk mengenang jasa-jasa tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yang sebelumnya bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Pelopor dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa sekaligus mantan Menteri Pengajaran itu lahir pada 2 Mei 1889 dan wafat pada 26 April 1959. 

Dengan siklus kalender yang berbeda, pertemuan antara perayaan hari Saraswati dan Hari Pendidikan Nasional memang jarang terjadi. Jika dirunut sejak peringatan Hari Pendidikan Nasional mulai ditetapkan tahun 1959, berarti baru dua kali terjadi Hari Saraswati bertemu Hari Pendidikan Nasional. Pertemuan pertama terjadi pada 2 Mei 1992 atau 33 tahun setelah Hari Pendidikan Nasional ditetapkan. Itu terjadi pada tahun-tahun terakhir abad ke-20. Pertemuan kedua terjadi pada 2 Mei 2015 atau 56 tahun setelah Hari Pendidikan Nasional ditetapkan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai hal ini bisa dicek pada Kalender 301 tahun (tahun 1800-2100) yang disusun Tjokorda Rai Sudharta, I Goesti Oka Dhermawan dan W. Winda Winawan (Balai Pustaka, 2003). 

Hal semacam ini juga terjadi pada perayaan hari otonan (hari kelahiran berdasarkan kalender Jawa-Bali atau pawukon) dan hari ulang tahun (hari kelahiran berdasarkan kalender Masehi). Beberapa orang bisa merayakan hari otonan bersamaan dengan hari ulang tahun.  
Peristiwa ini terjadi karena siklus yang berbeda antara tahun Masehi dan sistem pawukon. Berdasarkan perhitungan, pertemuan antara hari otonan dan ulang tahun akan terjadi pada hari otonan ke-40 dan hari ulang tahun ke-23. Namun, umur satu tahun yang tidak persis 365 hari menyebabkan tidak selalu kedua perayaan itu bisa bertemu tepat waktu. Satu tahun Masehi terdiri atas 365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik, sedangkan satu siklus pawukon terjadi selama 210 hari. 

I Ketut Widana, seorang warga Denpasar, yang lahir pada 23 Agustus 1980 bertepatan dengan Saniscara Umanis wuku Medangkungan, merayakan hari otonan sekaligus ulang tahunnya pada 23 Agustus 2003. Namun, Ni Nyoman Suarniti, seorang warga Buleleng, yang lahir pada 21 Desember 1982 bertepatan dengan hari Anggara Umanis wuku Uye, merayakan hari otonan ke-40 jatuh pada 20 Desember 2005. Keesokan harinya, barulah ia merayakan ulang tahun ke-23. Widana pun tidak lagi menemukan peristiwa hari otonan-nya berbarengan dengan hari ulang tahun, meskipun pada siklus 23 tahun kemudian. Pada tahun 2026, hari otonan dan hari ulang tahunnya berselisih sehari. Sedangkan hari otonan dan hari ulang tahun Suarniti pada tahun 2028, pada siklus 23 tahun kemudian, berselisih dua hari.  (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.