Terkini

Seruan "Boikot Bali" Pascaeksekusi Mati Duo Bali Nine, Adakah Dampaknya?

Pascaeksekusi dua terpidana mati asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran yang dijuluki sebagai "duo Bali Nine", seruan "Boikot Bali" dan "Boikot Indonesia" menggema di media sosial. Banyak pengguna twitter dan facebook di Negeri Kangguru itu menulis tagar (hastag) #BoycotBali dan #BoycotIndonesia. Pemerintah Australia sendiri juga sudah menyatakan menarik duta besarnya di Indonesia pekan ini. Adakah seruan itu berdampak bagi pariwisata Bali

Australia masih menjadi negara asal wisatawan mancanegara yang paling banyak mengunjungi Bali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang dirilis awal Februari 2015 menunjukkan, sepanjang tahun 2014, jumlah wisatawan Australia ke Bali sebesar 27,88 persen. Di urutan kedua, Tiongkok 13,51 persen, disususl Malaysia 7,90 persen, Singapura 6,86 persen dan Jepang 6,29 persen.

Wisatawan asing di Pantai Kuta

Kalangan pelaku pariwisata menanggapi beragam kemungkinan dampak eksekusi mati dua warga Australia terhadap kunjungan wisatawan dari negara itu ke Pulau Dewata. Sejumlah pelaku pariwisata meyakini eksekusi mati itu pasti akan berpengaruh. Hal ini dilihat dari menguatnya reaksi negatif masyarakat Australia pada hari-hari menjelang eksekusi dilakukan.

Namun, tak sedikit yang yakin eksekusi mati terhadap duo Bali Nine bagi pariwisata Bali tidak akan begitu berdampak. Hal ini dikarenakan karakter wisatawan Australia yang memang sudah memiliki kedekatan emosional dengan Bali. Di Australia, Bali sering dianggap sebagai "rumah kedua". Biaya murah dan keramahan orang Bali menjadi daya tarik utama warga Australia sehingga tetap mengunjungi Bali. 

Itu sebabnya, Ketua Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali, Ketut Ardana, sebagaimana dilansir Antara Bali, yakin eksekusi mati duo Bali Nine tidak akan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan Australia ke Bali. Menurutnya, kecaman atas eksekusi mati itu hanya bersifat sementara dan situasi akan kembali normal. Ardana menyebut belum ada wisatawan Australia yang mengajukan pembatalan kunjungan ke Bali setelah eksekusi mati dilakukan. 

Keyakinan Asita Bali juga diperkuat kabar dari Australia sendiri. The Sydney Morning Herald dalam situsnya mengabarkan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan pemboikotan kunjungan terhadap objek wisata di Indonesia, terutama Bali. Maskapai penerbangan Qantas dan agen perjalanan wisata daring, Webjet, justru mencatat permintaan penerbangan ke Bali justru meningkat sekitar 42% selama empat minggu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.  (b.)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.