Terkini

Penjualan Mikol Dibatasi, Mungkinkah Bali Dikecualikan?

Penolakan terhadap Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol terus menggelinding. Sejumlah kalangan di Bali, terutama pelaku pariwisata menuntut agar Bali dikecualikan dari Permendag itu karena bisa mematikan industri pariwisata di daerah ini. Mereka berharap warung-warung kecil tetap dapat memperdagangkan minuman beralkohol dengan kadar di bawah 5 persen.

Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Provinsi Bali, Perhimpunan Pedagang Pengecer (Warung, Kios, Grosir), Jejaring Sadar Wisata Badung, LPM Kuta, dan tokoh adat mendatangi DPRD Bali menyampaikan aspirasi menolak Permendag, pertengahan Maret lalu.



Wakil Ketua DPD Aprindo Bali, Wayan Wijana mengatakan pembatasan penjualan minuman beralkohol di bawah 5 persen akan mengancam pengusaha kecil. Dikatakan, di kawasan Badung Selatan saja ada ribuan pedagang kecil yang sehari-sehari menjual minuman beralkohol golongan A, seperti bir dan sejenisnya. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan ini per 16 April 2015, secara otomatis mereka tidak bisa bebas berjualan seperti sekarang ini. Minuman sejenis bir ini hanya bisa dijual pada hypermarket, hotel dan restoran/kafe dan tidak boleh dijual di minimarket, toko, dan warung tradisional.

Menurut Wijana, dalam survei yang dilakukan Aprindo, 78 persen penjualan minuman sejenis bir ini ada pada pedagang tradisional. Itu sebabnya, pedagang kecil kini resahan dengan peraturan menteri tersebut. Menurut Wijana, bukan hanya pedagang kecil di Badung Selatan saja yang kena dampaknya, tetapi seluruh Bali. Bukan saja dunia pariwisata, masyarakat lokal juga akan kena dampaknya. Secara ekonomi, masyarakat lokal juga akan dirugikan besar terbitnya peraturan itu .  

Ketua Pengelola Pantai Desa Adat Legian (PPDAL), Ir. Wayan Suarta, menuturkan, di Desa Adat Legian saja tercatat ada 660 pedagang yang kesehariannya menjual minumam sejenis bir pada wisatawan. Kalau sampai ini dilarang, kata dia, dipastikan bukan hanya pedagang yang protes,  wisatawan yang datang ke Bali juga akan ikut protes. Lantaran, sudah menjadi kebiasaan bagi wisatawan, duduk di pantai sambil melihat sunset (matahari terbenam) sambil minum bir.

Belakangan, Desa Adat Kuta juga menyuarakan hal serupa. Bendesa Adat Kuta, I Wayan Swarsa meminta agar diberikan perlakuan khusus. Selama ini, kata Swarsa, pihak desa adat setempat sudah mengawasi penjualan mikol di Kuta, terutama yang berkadar alkohol tinggi serta melarang adanya mabuk-mabukkan di pinggir jalan.
Kalangan DPRD Bali juga mendukung agar Bali dikecualikan dari Permedag itu. Ketua Komisi II DPRD Bali yang membidangi perindustrian, perdagangan dan pajak, I Ketut Suwandhi, mengatakan Permendag yang melarang penjualan mikol golongan A dengan kadar di bawah 5 persen seperti jenis bir di warung-warung adalah kebijakan yang kebablasan. Menurutnya, kebijakan itu mematikan masyarakat bawah.

Menurut Suwandhi, minuman jenis bir berbeda dengan minuman alkhohol lain seperti wine, atau miras yang kadar alkoholnya 40 persen. Lagi pula bir yang beredar di warung, toko-toko menggunakan label dan resmi pajaknya.

Anggota Fraksi Partai Demokrat, Utami Dwi Suryadi menyebut Permendag No. 6/2015 sebagai kebijakan diskriminatif. Dalam Permendag itu disebutkan minuman beralkohol hanya bisa dijual di hypermarket, hotel, dan restoran, sedangkan warung, kios dan pedagang kecil lainnya tidak boleh

 “Apa bedanya?  Masa yang satu boleh, yang lain tidak boleh. Kalau pun maksudnya membatasi, toh orang bisa membeli di hypermarket,” tandasnya seraya meminta agar peraturan menteri tidak mematikan usaha rakyat kecil.


Lantas, mungkinkah Bali dikecualikan? Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta saat simakrama di wantilan DPRD Bali, Sabtu (28/3) lalu berjanji akan mengkoordinasikan aspirasi masyarakat Bali itu ke kementerian terkait. Sudikerta menegaskan pihaknya mengusahakan agar kebijakan pemerintah tak sampai merugikan rakyat kecil. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.