Terkini

Di Balik Mitologi Kala Rahu dalam Fenomena Gerhana Bulan Total

Perhatian orang sejagad kini tertuju ke angkasa raya menyaksikan fenomena gerhana bulan total (blood moon) yang bakal terjadi, Sabtu (4/4) sore ini. Meski secara astronomi, gerhana bulan merupakan peristiwa alam biasa, masyarakat tetap saja memberi perhatian khusus pada peristiwa semacam ini. Terlebih lagi, hampir semua masyarakat di berbagai belahan dunia ini memiliki mitologi tersendiri mengenai terjadinya gerhana bulan. 


Masyarakat Bali juga memiliki mitologi khusus mengenai terjadinya gerhana bulan. Tradisi lisan di Bali menyebut terjadinya gerhana bulan karena bulan dimakan Kala Rahu, raksasa yang hanya memiliki kepala. Masyarakat Jawa juga mengenal mitologi serupa.

Lazada IndonesiaKisah Kala Rahu ini menjadi bagian akhir cerita Kurma Awatara (penjelmaan Dewa Wisnu sebagai kura-kura untuk menyelamatkan dunia). Dikisahkan, dalam upaya mendapatkan tirtha amertha (air keabadian), para dewa dan asura (raksasa) bekerja sama mengaduk lautan susu (Ksirarnawa) dengan cara memutar Gunung Mandara. Kala itulah, Dewa Wisnu menjelma kurma (kura-kura) untuk menahan pangkal gunung Mandara. Tirtha amertha pun didapat. Tapi, pertarungan terjadi antara para dewa dan asura untuk memperebutkan tirtha amertha itu. Dalam pertarungan itu, asura menang dan menguasai tirtha amertha.

Dewa Wisnu pun bersiasat untuk merebut kembali tirtha amertha. Sang Dewa pun berubah menjadi wanita cantik hingga bisa mengelabui para asura. Tirtha amertha pun kembali ke tangan para dewa.


Kini, para dewa berkumpul untuk menikmati tirtha amertha. Namun, ada seorang raksasa, Kala Rahu berhasil menyusup dengan menyamar sebagai dewa. Penyamarannya itu diketahui Dewa Chandra. Tatkala giliran meminum tirtha amertha sudah sampai ke Kala Rahu yang menyamar sebagai dewa, Dewa Chandra pun berteriak. “Dia bukan dewa, dia raksasa yang menyamar menjadi dewa!” teriak Dewa Chandra.

Para dewa pun terkejut. Tirtha amertha sudah diminum dewa palsu. Tapi, tirtha amertha itu baru sampai di tenggorokannya. Dewa Wisnu pun melepaskan senjata cakra sudarsana dan memenggal leher Kala Rahu. Tubuh Kala Rahu pun jatuh ke bumi, sedangkan kepalanya hingga bagian leher tetap abadi dan melayang-layang di angkasa karena sempat meminum tirtha amertha.

Merasa penyamarannya terbongkar, Kala Rahu marah besar. Dia pun bersumpah akan menyantap Dewa Chandra yang berwujud bulan. Sumpahnya itu memang terwujud. Tapi, karena Kala Rahu tidak memiliki tubuh, Dewa Chandra muncul kembali. Kejadian ini selalu berulang dan dikenal sebagai gerhana bulan.

Di masa lalu, masyarakat Bali dan Jawa, biasanya akan memukul kentongan saat gerhana bulan terjadi. Hal ini, konon, dimaksudkan untuk mengusir Kala Rahu agar tidak berlama-lama memakan sang rembulan.

Banyak orang kini tentu menganggap kisah ini sebuah dongeng yang tak masuk akal. Namun, dalam masyarakat tradisional, dongeng atau mitologi merupakan bentuk pengetahuan lokal yang penting sebagai cara untuk menjelaskan sebuah fenomena alam. Di balik mitologi kerap kali terselip pesan-pesan sosial-kultural yang sangat bergantung pada latar belakang budaya masyarakat pendukungnya.


Ada yang memaknai mitologi Kala Rahu sebagai pesan spiritual tentang pertarungan dalam diri manusia: sifat-sifat kedewaan dan keraksasaan. Manakala sifat-sifat keraksasan masih menguasai, keabadian tak akan didapat.

Namun, ada juga yang memaknai mitologi Kala Rahu sebagai simbolisasi kuasa waktu. Kala, dalam tradisi Bali, memang merepresentasikan sang waktu. Tiada yang mampu menahan kuasa waktu. (b.)


Teks: Ketut Jagra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.