Terkini

Asal-usul Kota Gianyar (2): Dari Beng ke Geriya Anyar

Kabar keberanian Dewa Manggis Kuning pun tercium ke seantero Bali. Penguasa Buleleng, Gusti Panji Sakti terusik dengan berita ini karena khawatir kehebatannya tersaingi. Panji Sakti pun menyerang Bengkel. Namun, serangan ini bisa dipatahkan Dewa Manggis Kuning yang memiliki senjata bertuah berupa tombak. Untuk mengenang peristiwa itu, tombak bertuah itu pun diberi nama “Baru Alis”. Inilah yang kemudian menjadi pusaka utama raja-raja Gianyar keturunan Dewa Manggis Kuning.

Keberhasilan Dewa Manggis Kuning pun menjadi buah bibir. Dia pun mulai termahsyur sebagai pemimpin yang cakap, berani dan memiliki senjata bertuah. Sejak itu pemondokan tempatnya tinggal bersama 40 pengikutnya di hutan Bengkel berkembang menjadi sebuah desa. Orang-orang menyebutnya Desa Beng. 


Dewa Gde Raka, Raja Gianyar 1896-1912 (sumber: Bali Pada Abad XIX)
Setelah meninggal, Dewa Manggis Kuning digantikan putranya, Dewa Manggis Pahang. Dewa Manggis Pahang kemudian digantikan putranya, Dewa Manggis Bengkel. Cucu Dewa Manggis Kuning ini menikahi seorang putri Raja Taman Bali, yang ketika itu tersohor sebagai kerajaan hebat di Bali. Dari perkawinan ini lahir beberapa orang putra, yang tertua bernama Dewa Manggis Jorog.

Dewa Manggis Jorog inilah yang memainkan peranan penting dalam kelahiran Kerajaan Gianyar. Atas desakan Raja Taman Bali, Dewa Manggis Jorog memindahkan tempat kediamannya ke salah satu tempat yang jaraknya sekitar dua kilometer sebelah selatan Desa Beng. Atas bantuan Raja Taman Bali, sekita tahun 1770 dibangun sebuah istana dan diberi nama Geriya Anyar yang berarti ‘tempat kediaman baru’. Desa yang muncul di sekitar istana baru itu kemudian terkenal dengan nama Gianyar.

Secara resmi, pemindahan Dewa Manggis Jorog ke istana baru di Gianyar dilakukan pada tahun 1771. Sejak itu pula, Gianyar bisa memperluas wilayah kekuasaannya dan menjadi kerajaan yang berwibawa dan diperhitungkan di Bali. Berkat kesuksesannya, Dewa Manggis Jorog dijuluki Dewa Manggis Sakti serta dianggap sebagai pendiri Kerajaan dan Kota Gianyar.

Tim peneliti yang berasal dari Fakultas Sastra Unud, di antaranya sejarawan Ida Bagus Sidemen dan Anak Agung Bagus Wirawan, merujuk sebuah pustaka, yakni Besrijving van de Poeri Agoeng te Gianyar yang menyebutkan hari petoyan/pemungkah di Merajan Agung Puri Agung Gianyar jatuh pada hari Sukra Wage, wuku Krulut, Sasih Kadasa. Tradisi upacara petoyan ini masih dilaksanakan hingga sekarang. Setelah ditelusuri menggunakan pendekatan tradisi wariga dari beberapa ahli wariga dan mensikronkan dengan program komputer, diketahui upacara pamlaspas atau pamungkah (semacam upacara peresmian secara tradisional sebuah tempat atau bangunan baru) Puri Gianyar pada tanggal 19 April 1771.

AA Bagus Wirawan menyatakan dipilihnya tonggak upacara pamlaspas, pamungkah atau patoyan Puri Gianyar sebagai tonggak kelahiran kota dilandasi  konsep kota keraton (puri) yang merupakan pusat pemerintahan negara kerajaan dengan seluruh bagian-bagian, baik dalam struktur fisik maupun pengembangannya. (b.)

Teks: Sujaya

1 komentar:

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.