Terkini

Asal-usul Kota Gianyar (1): Dewa Manggis Kuning Sang Pembuka

Hari ini, Minggu, 19 April 2015, masyarakat Gianyar kini tengah merayakan hari jadi kotanya. Tahun ini, Kota Gianyar merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-244. Perayaan ini merujuk Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Gianyar No. 9 tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang Hari Jadi Kota Gianyar yang ditetapkan pada 19 April 1771. Seperti apa sejarah kelahiran Kota Gianyar?

Dalam sumber-sumber teks tradisional babad disebutkan, kelahiran Kota Gianyar berkaitan dengan kisah cinta Raja Gelgel, Dhalem Sagening dengan seorang putri cantik dari Desa Manggis. Hubungan asmara itu melahirkan seorang putra yang kemudian diasuh di Istana Gelgel.

Puri Gianyar akhir abad XIX (sumber: Bali Pada Abad XIX)
Sang putra raja pun tumbuh menjadi seorang pemuda tampan. Penguasa Kerajaan Badung, Gusti Tegeh Kuri tertarik dengan sang pemuda dan memohon kepada Raja Gelgel agar diizinkan mengajaknya ke Badung. Gusti Tegeh Kuri berharap sang putra Raja Gelgel akan menggantikan dirinya bila wafat nanti. Raja Gelgel pun menerima permintaan itu.

Saat tinggal di Badung, ketampanan sang putra raja memikat istri-istri Gusti Tegeh Kuri. Hal ini membuat khawatir sang penguasa Kerajaan Badung. Apalagi kemudian diketahui sang pemuda menjalin hubungan dengan salah seorang istri Gusti Tegeh Kuri. Raja Badung itu pun murka lalu memerintahkan untuk membunuh sang pemuda. Namun, putra Raja Gelgel itu berhasil melarikan diri ke Penatih dan bersembunyi di rumah Gusti Pahang Penatih.

Penguasa Penatih bersimpati dengan nasib sang putra Raja Gelgel itu. Dia pun menyerahkan putrinya, Gusti Ayu Pahang kepada sang pemuda. Putri Gusti Pahang Penatih inilah yang menemani pemuda itu menuju arah timur. Tiba di hutan Bengkel, pasangan ini membangun sebuah pondok. Peristiwa ini diduga terjadi sekitar tahun 1640.

Kemampuan bersosialisasi yang baik membuat sang pemuda dan istrinya disukai dan memiliki pengikut. Mula pertama, pengikutnya sebanyak 40 orang, berasal dari para pengalu, pedagang yang mengangkut dagangannya dengan kuda. Sang putra Raja Gelgel dianggap sebagai pemimpin mereka. Karena beribu seorang putri dari Manggis, dia pun disebut dengan nama Dewa Manggis. Dalam sejarah, Dewa Manggis kemudian dikenal dengan nama Dewa Manggis Kuning.

Tatkala terjadi pemberontakan Patih Agung Gusti Agung Maruti di Gelgel, Dewa Manggis ikut membantu Dewa Agung Jambe, kemenakannya, untuk mengembalikan kekuasaan Gelgel. Dengan pasukan 40 orang bekas pengalu yang bersamanya di hutan Bengkel, Dewa Manggis memperlihatkan keberaniannya mengusir musuh.

Namun, keperwiraan Dewa Manggis Kuning justru membuatnya diserang penguasa Buleleng, Panji Sakti. Apa penyebabnya? Bagaimana hasil pertempuran Dewa Manggis Kuning dengan Panji Sakti? Lanjutnya baca kisahnya DI SINI! (b.)


Teks: Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.