Terkini

I Wayan Surpha, Mantan Sekjen PHDI Pusat Berpulang

I Wayan Surpha, S.H., mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat berpulang, Kamis (5/3) lalu. Mendiang lahir di Banjar Belaluan Sadmerta, Denpasar pada 1 Mei 1935 dan meninggal dalam usia 80 tahun.

Wayan Surpha meninggalkan seorang istri, Nengah Murtiasih Sulasmi dan tujuh orang anak: I Wayan Suambara, S.H., M.H., I Made Artana, I Nyoman, dr. I Ketut Suyasa, Sp.B. Sp.OT (K), Ir. Ni Luh Wayan Suparmi, M.M., I Made Sudharma, S.Sos., S.H., M.M., dan dr. Ni Nyoman Ayu Sutrini, M. Repro. Sp.KK.

Meski berkarier di kepolisian, Wayan Surpha lebih banyak menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan adat Bali dan agama Hindu. Itu sebabnya, dia lebih dikenal sebagai tokoh adat Bali dan agama Hindu.

Pada 1957-1960, Surpha menjadi instruktur di Sekolah Polisi Sukabumi, Jawa Barat. Selama 1960-1963, dia bertugas di Dinas Pengawasan Kesehatan Negara di KPKOM Jambi yang dilanjutkandi Irian Barat (Papua Barat) pada 1963-1967. Sesudah itu, Surpha bertugas di bagian Intel Komdak XV Bali selama 1967-1969. Pada 1969-1974 dikaryakan sebagai anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) Dati II Kabupaten Badung. Pada 1974-1986 didaulat sebagai Sekjen Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat.

Selama 1987-1992, terpilih sebagai anggota DPRD Bali dari Fraksi ABRI (saat itu TNI/ Polri belum dipisah). Sempat menjadi Ketua II PHDI Badung untuk periode 1968-1995. Di Desa Adat Denpasar, pernah menjabat sebagai Yowana Bendesa Adat dari 1970-1991, termasuk pernah memangku tugas sebagai Bendesa Adat Denpasar dari 1991 hingga 9 Januari 2001.

Di masa mudanya, mendiang mengabdikan dirinya dengan membantu polisi sebagai mata-mata saat menumpas gerombolan bersenjata di Bali pada 1955-1956. Di kepolisian, mendiang pensiun dengan pangkat terakhir AKP (Ajun Komisaris Polisi) atau saat itu masih disebut Kapten Polisi.

Di bidang keagamaan, begitu terpilih sebagai Sekjen PHDI Pusat, turut aktif dalam pembangunan gedung Parisada, termasuk mengusulkan Nyepi sebagai hari libur nasional, hingga restorasi Pura Besakih dari masa ke masa. Atas dedikasinya, almarhum juga dianugerahi beberapa penghargaan, seperti piagam tanda kehormatan  Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden Megawati Soekarnoputri pada 27 Juni 2002. Selaku mantan Sekjen PHDI Pusat, I Wayan Surpha juga dianugerahi  Penghargaan oleh Dirjen Hindu dan Budha, Departemen Agama RI, pada 17 Agustus 1995. Selain itu, dia juga mendapat penghargaan dari Dirjen Bimas Hindu dan Budha, Departemen Agama RI pada 18 Mei 2006 atas jasa-jasanya sebagai perintis pembangunan gedung Parisada dan pembina umat.

I Wayan Suambara, anak pertama almarhum yang juga Kepala Bappeda  dan Litbang Kabupaten Badung mengatakan ritual pranawa terhadap almarhum akan dimulai pada Senin, 9 Maret 2015 hari ini yang diawali dengan upacara nyiramin layon. Upacara pengabenan akan dilaksanakan Minggu, 15 Maret 2015. “Saat ini, jenazah masih disemayamkan di rumah duka, Jalan Dahlia Nomor 33, Denpasar,” ujar Suambara.


Sebagai wakil keluarga, Suambara menyampaikan terima kasih kepada kerabat, handai taulan dan semua pihak yang  turut membantu selama mendiang dirawat hingga berpulang. “Kami juga  menyampaikan permohonan  maaf bila selama hidup ayah kami mempunyai  kesalahan dan kekhilafan,” ungkapnya. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.