Terkini

Industri Penerbitan Buku di Bali Masih Kalah Jauh dari Yogya

Industri penerbitan buku di Bali masih kalah jauh dari Yogyakarta. Hal ini terbukti dari minimnya jumlah judul buku baru yang terbit serta rendahnya oplah cetak buku-buku yang terbit. Tiap tahun, judul buku baru yang terbit di Bali berkisar antara 15-20 judul buku per tahun dengan oplah rata-rata per judul antara 500-1.000 eksemplar. 

Hal ini dikemukakan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Alit D.M., di sela-sela seminar industri perbukuan Bali yang dilaksanakan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Provinsi Bali serangkaian acara penganugerahan penghargaan Widya Pataka bagi penulis Bali di UPT Balai Pengembangan Sanggar Kegiatan Belajar (BPKB), Sesetan, Denpasar, Selasa (18/11). 



"Buku-buku Bali yang terbit kini lebih banyak cetak ulang. Kalau judul baru masih sangat minim, paling-paling di kisaran 10-15 judul," kata Ngurah Alit.

Dari segi tema, pasar buku di Bali madih didominasi tema-tema adat dan budaya Bali. 

Hal senada dikemukakan pengelola Penerbit Pustaka Larasan Denpasar, Slamat Trisila. Di Yogya, kata Slamat, hampir setiap minggu terbit satu judul buku baru. Di Bali, buku baru yang terbit sekitar 10-20 judul per tahun. 

Beberapa faktor penyebab rendahnya daya serap buku di Bali, di antaranya minat baca dan minat beli masyarakat yang masih rendah. Kini, minat baca tergantikan dengan gadget. Di sisi lain, kata Ngurah Alit, persepsi masyarakat tentang buku masih belum menggembirakan. 

"Kalau soal harga buku yang mahal, saya kira relatif. Orang lebih royal menggunakan uangnya untuk membeli pulsa ponsel dan internet tetapi berat hati menyisihkan uangnya untuk membeli buku. Jadi, persoalannya bukan pada harga buku yang mahal, tapi minat beli yang rendah," kata Slamat. 

Di sisi lain, kata Slamat, kebijakan pemerintah juga masih setengah hati berpihak pada industri perbukuan. Dia mencontohkan, pelaku industri perbukuan dibebani berbagai pajak, mulai dari pajak kertas, pajak penjualan buku dan pajak penghasilan. Itu yang membuat harga buku yang menjadi mahal. Padahal, keuntungan penerbit buku tidak lebih dari 20%, sedangkan royalti yang diterima penulis buku hanya 10%. Persentase lebih besar justru diterima distributor dan toko buku, sekitar 35%-50%. 

"Padahal, industri penerbitan buku bukan persoalan bisnis semata. Ini kegiatan yang sarat dengan idealisme untuk mencerdaskan masyarakat. Kalau di Malaysia, pemerintahnya lebih bersahabat dengan industri perbukuan. Pajak kertas dan penjualan buku dibebaskan sehingga harga buku menjadi terjangkau," kata Slamat.

Jika pemerintah ingin membantu industri penerbitan buku, imbuh Slamat dan Ngurah Alit, pajak berlapis terhadap industri perbukuan mesti dihapus. Selain itu, pemerintah juga bisa mengalokasikan anggaran lebih besar untuk pengadaan buku. Buku-buku tentang Bali, terlebih lagi yang diterbitkan pengarang Bali, dibeli pemerintah lalu didistribusikan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah, desa dan kabupaten/kota. 

Dukungan bagi Pemda Bali untuk membeli buku-buku Bali karya pengarang atau penulis buku disampaikan Made Taro, seorang pengarang Bali yang juga melakoni kegiatan penerbitan buku secara mandiri atau indie. "Kalau pemerintah ingin menolong pengarang atau penulis Bali, ya, belilah buku-buku karya mereka," tandas Made Taro.

Kepala Bapusipda Bali, Luh Putu Haryani mengatakan pihaknya senantiasa memiliki program dan anggaran pengadaan buku, termasuk buku-buku muatan lokal Bali. Saat ini, persentase buku muatan lokal Bali sekitar 25-30%. Dia meminta penerbit Bali bisa mengirimkan katalog buku yang diterbitkan sehingga bisa dimasukkan dalam daftar buku yang akan diadakan oleh Bapusipda Bali. (b.)


1 komentar:

  1. Terima kasih untuk informasinya.

    Kami, Penerbit Visi Press. Menerbitkan buku-buku bernafaskan Rohani Kristen.
    Untuk informasi lainnya tentang kami, silakan kunjungi website kami di
    http://visichristianstore.com/?page_id=5854

    Tuhan memberkati :)

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.