Terkini

Hari Saraswati Berbarengan dengan Idul Adha, Harga Janur dan Kembang Melambung

Harga bahan-bahan kebutuhan upacara agama Hindu di Denpasar bebarapa hari terakhir, terutama menjelang hari Saraswati, Sabtu (5/10)  hingga Pagerwesi , Rabu (8/10) melambung. Harga janur dan bunga naik lebih dari 100%. Dampaknya, harga canang sari pun dua kali lipat dari biasanya. Kondisi ini diduga karena keterbatasan stok sejumlah kebutuhan upacara lantaran tiadanya pasokan barang-barang itu dari Jawa dan Lombok lantaran perayaan hari Idul Adha. 

Berdasarkan pantauan balisaja.com di Pasar Agung, Peguyangan Kangin, Denpasar, harga segabung janur mencapai Rp 50.000. Biasanya, harga segabung janur sekitar Rp 20.000-Rp 25.000. Begitu juga harga kembang yang biasanya Rp 15.000/kg kini melonjak menjadi Rp 30.000-Rp 40.000/kg. Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Badung dan sejumlah warung tradisional yang biasa menjual barang-barang kebutuhan upacara. 

Harga canang sari pun mau tidak mau ikut melonjak drastis. Jika biasanya canang sari isi 25 ceper seharga Rp 10.000-Rp 12.000, kini melonjak menjadi Rp 20.000. "Kalau sudah harga janur dan kembang melonjak, harga canang sari tak mungkin tidak naik. Saya susah sekarang berjualan. Kalau dijual mahal, pembeli kasihan, Kalau dijual murah, modal tidak tertutupi," kata salah seorang pedagang canang sari di kawasan Jalan Cekomaria, Denpasar Utara.

Seorang pedagang barang-barang kebutuhan upacara di Jalan A. Yani Utara Denpasar, Wayan Sudani mengaku sempat pikir-pikir membeli janur dan kembang di Pasar Badung untuk dijualnya kembali di warungnya. Bukan saja karena harganya melangit, juga karena stok yang terbatas. "Akhirnya berebut beli barang.Kalau sudah begitu, harganya gila-gilaan," kata Sudani. 

Selama ini, kata Sudani, janur dan kembang sebagian besar didatangkan dari luar Bali. Ketika para penyedia janur dan kembang di luar Bali itu menghentikan kiriman karena berhari raya, pasokan di Bali pun terganggu. Akhirnya, harga barang-barang itu langsung naik drastis. 

"Kebetulan sekarang hari raya Idul Adha berbarengan dengan hari Saraswati. Mungkin harga baru akan stabil setelah hari Pagerwesi nanti. Tapi masalahnya, kebutuhan terbesar umat kita saat ini justru sejak hari Saraswati hingga Pagerwesi. Apalagi Pagerwesi berbarengan dengan Purnama Kapat, kebutuhan bahan-bahan upacara jauh lebih tinggi. Banyak pura menggelar karya. Setelah itu, sudah mulai normal lagi," tutur Sudani.

Kebutuhan Bali terhadap sejumlah bahan-bahan sarana upacara, seperti janur, kembang, buah hingga daging memang cukup tinggi. Bali sendiri belum cukup mampu memenuhi sendiri kebutuhan itu sehingga terpaksa mendatangkannya dari luar. Kondisi ini seringkali membuat harga tidak stabil. 

Karena itu, Pemprov Bali sudah saatnya bersungguh-sungguh menggarap pertanian dengan mendorong kemandirian dalam memenuhi kebutuhan bahan-bahan upacara keagamaan di Bali.  Jika ini mau digarap sungguh-sungguh, Bali tak hanya bisa mandiri memenuhi kebutuhan bahan-bahan saana upacara, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi para penganggur. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.