Terkini

Hari Ini 166 Tahun Lalu, Bali Pecundangi Belanda di Jagaraga

Teks: I Made Sujaya (Diolah dari berbagai sumber)
  
9 Juni 1848 atau 166 tahun silam, rakyat Bali mencatat prestasi gemilang. Laskar Buleleng didukung oleh laskar Klungkung, Karangasem serta Mengwi sukses mempecundangi pasukan Belanda yang bersenjata lebih lengkap dan modern di daerah Jagaraga. Prestasi yang merupakan buah dari kematangan strategi dan siasat jitu Patih Jelantik itu sempat mengguncang pemerintah kolonial Hindia Belanda bahkan hingga ke negeri asalnya di Belanda. 

Peristiwa bersejarah itu dicatat sebagai Perang Jagaraga. Mr.Ida Anak Agung Gde Agung dalam buku Bali Pada Abad XIX dan dr. Sugianto Sastrodiwiryo dalam buku Perang Jagaraga 1846--1849 menguraikan secara rinci jalannya perang hebat itu. Berikut ini disajikan petikannya dengan menggunakan sejumlah sumber, termaduk kedua buku itu. 


Perang Jagaraga dipicu perampasan sebuah perahu Makasar yang berlayar dengan bendera Belanda di daerah Sangsit. Penduduk setempat dikabarkan membunuh juragan perahu tersebut. Selain itu, ada juga peristiwa perampasan sebuah perahu mayang dari Banyuwangi yang juga berlayar dengan bendera Belanda oleh penduduk Desa Perancak, Jembrana. Kala itu, Jembrana berada di bawah kekuasaan Buleleng. 


Ilustrasi Perang Jagaraga (direpro dari buku Perang Jagaraga 1846-1849 yang disusun dr. Sugianto Sastrodiwiryo yang diterbitkan Pustaka Bali Post, 2011)

Tawan Karang 


Belanda menganggap peristiwa-peristiwa itu sebagai pelanggaran terhadap kontrak yang ditandatangani oleh Raja Buleleng tertanggal 8 Mei 1843 yang isinya menghapus aturan “tawan karang”. Lantaran kontrak yang dibuat itu belum diratifikasi, Belanda mencoba mengadakan pendekatan dengan Raja Buleleng, Gusti Ngurah Made Karangasem agar mau meratifikasi kontrak tersebut. Raja Buleleng yang didampingi Patih Gusti Ketut Jelantik menolak meratifikasi kontrak tersebut. Bahkan, perundingan utusan Belanda dengan Raja Buleleng makin memperparah ketegangan. Manakala perundingan menyinggung masalah pengakuan kedaulatan dan kekuasaan tertinggi Pemerintah Belanda, Patih Gusti Ketut Jelantik mengeluarkan kata-kata penolakan tegas sekaligus tantangan kepada Belanda. Kata-kata Jelantik itu dianggap sebagai penghinaan oleh Belanda dan memaksa Belanda untuk mengambil tindakan militer terhadap Buleleng (Baca “Merindukan Patih I Gusti Ketut Jelantik). 

Belanda pun mulai menyiapkan suatu ekspedisi militer ke Bulelang. Sementara Buleleng dengan dikoordinir Patih Jelantik sudah menyiapkan kubu-kubu pertahanan di wilayah Kerajaan Buleleng. Patih Jelantik yakin setelah perundingan yang gagal Belanda akan mengambil tindakan militer terhadap Belanda. 


Perang pun dimulai. Tanggal 28 Juni 1846, pasukan Belanda dipimpin Schoutbijnacht E.B. van den Bosch didaratkan di sebelah timur Buleleng. Pendaratan pasukan Belanda itu mendapat perlawanan hebat dari pasukan Buleleng. Namun, karena kalah dari segi persenjataan, pasukan Buleleng pun memilih mundur ke Jagaraga. Belanda menguasai penuh Kota Singaraja pada tanggal 29 Juni 1846. 


Dalam upaya menyusun kembali kekuatannya, Raja Buleleng bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda. Dalam perundingan itu, Raja Karangasem, Anak Agung Ngurah Gede Karangasem juga ikut. Isi perjanjian itu sepenuhnya merupakan penekanan pihak Belanda agar kedua kerajaan mengakui kerajaannya berada di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda serta menghapuskan hak tawan karang.


Kendati menandatangani perjanjian dengan Belanda, Raja Buleleng tidak pernah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Belanda. Malah, di bawah pimpinan Gusti Ketut Jelantik terus dibangun benteng pertahanan di Jagaraga. 


Merasa Raja Buleleng membangkang, Belanda pun memutuskan untuk menyerang Jagaraga. Belanda terbilang sangat serius dalam penyerangannya terhadap Jagaraga. Betapa tidak. Belanda menyiapkan suatu ekspedisi khusus yang dipimpin Mayor Jenderal Jonkheer C. van der Wijck yang juga sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Darat Hindia Belanda. Sedikitnya 4 batalyon dikerahkan dengan jumlah pasukan sebanyak 2.265 orang perwira, bintara dan prajurit, 156 ekor kuda lengkap dengan persenjataan senapan, meriam dan mortir. Ditambah lagi 500 orang pasukan bantuan dari Madura dan 500 orang kulit pengangkut. Total tenaga Belanda dalam ekspedisi ini sebanyak 3.265 orang. Seluruh pasukan Belanda itu diangkut dengan 9 kapal perang serta 9 kapal kecil yang dipersenjatai. 

Sistem Pertahanan Supit Urang


Pihak Jagaraga sudah menyiapkan diri untuk perang sejak dua tahun sebelumnya. Raja-raja Bali juga memberikan bantuan. Klungkung mengirimkan 1.650 prajurit pilihan yang dipimpin I Dewa Kteut Agung. Karangasem juga membantu dengan 1.200 prajurit serta Mengwi mengirimkan 600 orang prajuritnya. 

Patih Jelantik menggunakan sistem pertahanan supit urang (makara wyuha) seperti digunakan Yudistira dalam Perang Bharatayudha ketika menghadapi Kurawa. Pada bagian kepala ditempati Patih Jelantik, Raja Buleleng dan para pengatur perang lainnya sebagai pusat komando. Pada ujung supit kiri dan kanan ditempatkan pasukan Buleleng dan Jagaraga yang gesit dan lincah serta sudah mengetahui keadaan. Pada bagian mulut yang berada di depan dan belakang tembok benteng ditempatkan pasukan campuran dari kerajaan-kerajaan sahabat. Benteng lambung barat dipercayakan kepada laskar Jembrana dan Mengwi. Sementara kekuatan benteng pada bagian badan dipercayakan kepada pasukan Klungkung, Gianyar dan Karangasem. Pada bagian ekor ditempatkan pasukan bantuan dan perbekalan. 


Benteng yang kuat dan sistem pertahanan yang rapi ini ternyata membuahkan hasil. Pasukan Belanda bisa dihancurkan oleh laskar Bali. Pada 8 Juni 1848 terjadi pertempuran sengit di Desa Bungkulan dan sekitarnya. Dalam pertempuran ini, di pihak Belanda jatuh korban 8 orang tewas, 8 orang luka-luka, termasuk Letnan Wichers. 


Keesokan harinya, pasukan Belanda berhasil masuk ke Jagaraga. Namun, Belanda gagal menembus benteng Jagaraga. Yang terjadi malah sebaliknya, banyak jatuh korban dari pihak Belanda. Pasukan Belanda kocar-kacir hingga akhirnya kembali ke Jawa. 


Menurut laporan Kepala Staf Pasukan Ekspedisi Belanda, Letnan Kolonel J. van Swieten, di pihak Belanda jatuh korban 5 orang perwira, 94 orang bintara. Yang luka-luka 7 orang, 98 orang bintara dan prajurit. Korban di pihak Bali disebutkan 3 orang pedanda, 35 orang Brahmana, 163 orang bangsawan dan pembekel serta 2.000 orang pasukan. 


Kekalahan di Jagaraga ini menjadi pukulan telak bagi pemerintah Belanda. Di seantero Hindia Belanda termasuk hingga ke Belanda kekalahan itu menjadi perbincangan. 


Hanya sayangnya, ketika Belanda mengadakan serangan balasan pada pertengahan April 1849, Jagaraga tidak memperkuat benteng pertahanannya. Selain itu, sejumlah raja Bali juga tidak memberikan dukungan terhadap perjuangan Patih Gusti Jelantik. Malah beberapa kerajaan terang-terangan memilih berpihak dan membantu Belanda. 


Di bawah pimpinan Mayor Jenderal Michiels, Belanda pun bisa menduduki benteng Jagaraga pada 16 April 1849. Patih Gusti Jelantik bersama Raja Buleleng juga akhirnya gugur karena adanya serangan mendadak di daerah Seraya. 


Kendati begitu, kemenangan di Jagaraga pada 9 Juni 1848 merupakan sebuah kemenangan gemilang yang pantas dikenang. Kemenangan di Jagaraga lebih merupakan kemenangan harga diri. Kemenangan itu menunjukkan kematangan strategi dan siasat jitu pejuang Bali. Pada titik yang lain, Perang Jagaraga juga memperlihatkan persatuan di antara sejumlah kerajaan di Bali dalam menghadapi invasi Belanda


Setahun kemudian, rakyat Bali juga mempecudangi Belanda di Kusamba, Klungkung. Bahkan, di desa yang pernah menjadi pelabuhan terpenting di Bali Timur ini, Belanda kehilangan jenderal berprestasinya, Jendral AV Michiels. (Baca: Perang Kusamba, Kemenangan Gemilang Laskar Klungkung di Bumi Illang) (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.