Terkini

Mengenang Arsitek Taman Ayun di Wihara Dharmayana Kuta

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Kuta, tempat wisata paling tersohor di Bali, menyimpan cerita menarik tentang akulturasi etnis Bali yang mayoritas menganut agama Hindu dan etnis Tionghoa yang umumnya menganut agama Budha atau pun Konghucu. Di sini berdiri Wihara Dharmayana yang eksistensinya diakui sebagai salah satu pusat kegiatan agama Budha di Bali selain Brahmawihara Arama di Banjar, Buleleng. Itu sebabnya, wihara yang berlokasi di Jalan Blambangan, Kuta ini sering dikunjungi para bikkhu dari mancanegara. Bahkan, pada 7 Agustus 1982, pemimpin spiritual umat Budha dari Tibet, Dalai Lama pernah berkunjung ke sini. 

Menarik mengikuti sejarah Wihara Dharmayana. Menurut penuturan Pengurus Wihara Dharmayana, Luwih Berata serta buku Mengenal Wihara Dharmayana yang disusun Hindra Suarlim, sejarah wihara ini berkaitan erat dengan pendirian Taman Ayun di Mengwi. Sekitar abad ke-17, Raja Mengwi yang daerah kekuasaanya mencapai Blambangan (sekarang Banyuwangi di Jawa Timur) meminta agar dikirimi seorang ahli bangunan. Sang raja ingin membuat istana yang indah. Raja Blambangan mengutus seorang arsitek beretnis Tionghoa bernama Tan Hu Cin Jin. 

Sampai di Mengwi, Tan ditugasi membangun sebuah istana lengkap dengan taman yang indah tiada duanya di Mengwi. Setelah didesak raja, arsitek Tan menyanggupi membangun istana yang dilengkapi taman itu dalam waktu 40 hari. Namun, pembangunan taman menghadapi kendala dalam mengalirkan air ke dalam parit yang akan dijadikan telaga karena sumber air yang berada jauh di bawah parit. Tapi, kendala ini hanya ditanggapi santai oleh arsitek Tan. Malah, Tan yang juga seorang tabib itu lebih sibuk mengobati warga di sekitar yang sedang sakit. Sementara waktu pengerjaan tersisa 10 hari lagi. 

Raja pun marah dan menuduh arsitek Tan menghina raja. Arsitek Tan meminta waktu 7 hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaan. Raja dan pembesar kerajaan tak yakin Tan bisa menyelesaikan pekerjaannya. Permintaan tambahan waktu itu diyakini hanya taktik untuk bisa kabur. Namun, arsitek Tan dengan kekuatan gaibnya terbukti mampu menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu tiga hari. 

Istana yang dilengkapi taman indah bisa diselesaikan. Tapi, Patih Agung Kerajaan Mengwi waswas dengan perkembangan itu. Dia khawatir, Tan dengan kekuatan yang dimiliki dan pengaruh di kalangan rakyat Mengwi akan bisa mengambil alih kekuasaan raja. Karena itu, dalam persidangan yang didominasi Patih Agung, diputuskan untuk mengirim dua punggawa yang dikenal sakti, I Gusti Batan Tubuh dan I Gusti Den Kayu untuk membunuh arsitek Tan. 

Tan pun akhirnya meninggalkan Mengwi, kembali ke Blambangan. Tapi, dalam perjalanan, kedua punggawa itu justru berbalik mengasihi arsitek Tan. Bahkan, mereka menjadi pengikut Tan. Ketiganya dikisahkan mengalami moksa di Blambangan. “Ada bukti fisik mengenai hal ini berupa tiga buah patung, sebuah patung orang Cina dan dua buah lagi patung orang Bali. Ketiga patung ini disimpan dan dipuja dalam sebuah kongco bio di Banyuwangi,” tutur Luwih Berata. 

Orang-orang Tionghoa di Bali yang saat itu banyak berdagang ke Banyuwangi sering bersembahyang di kongco bio tersebut. Lama-kelaman, dibuatkanlah kongco bio serupa di Kuta dengan tujuan agar tidak jauh-jauh lagi bersembahyang ke Banyuwangi. Kongco bio inilah yang kemudian berkembang menjadi Wihara Dharmayana yang diwarisi hingga kini. 

Wihara ini, menurut Luwih Berata, berdiri di atas tanah pemberian Raja Pemecutan. Bangunannya sendiri diperkirakan pertama kali dipugar tahun 1876 sesuai tulisan Cina yang terdapat di dalam kongco bio. Hal ini tampak pada tiga lembar tui lian di wihara tersebut yang menunjuk angka 1876, 1879 dan tahun 1880.

Dari sinilah kemudian hubungan baik dengan warga Kuta terjalin. Mereka berbaur secara wajar. Seperti lazimnya orang-orang Cina di Bali, mereka pun menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa keseharian. Tak sedikit pula warga Tionghoa yang mengawini gadis Kuta begitu juga sebaliknya pemuda Kuta mengawini gadis Tionghoa. 

Hubungan harmonis ini pun melahirkan tradisi unik. Salah satunya yang masih dipelihara hingga kini, tiap kali perayaan Waisak, Cap Go Meh dan Sat Jit Konco (sejenis hari ulang tahun kongco bio), sekaa (kelompok penabuh) gong Banjar Pemamoran, Kuta, ngayah megambel (menabuh gamelan Bali) ke Wihara Dharmayana. 

Sebaliknya, warga etnis Tionghoa sendiri ada yang ikut mebanjar adat di Banjar Pemamoran. Bahkan, ada yang ikut nyungsung pelawatan barong dengan menjadi sadeg-patih. Padahal, mereka pun masih memelihara tradisi upacara warisan leluhurnya. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.