Terkini

Mengapa Anak yang Lahir Saat Wuku Wayang mesti Di-“bayuh”?

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Hari ini manusia Bali merayakan hari Tumpek Wayang. Hari Tumpek Wayang diidentikkan dengan sebuah tradisi, bayuh oton sapuh leger bagi anak yang lahir pada wuku Wayang.

Bagi anak yang lahir pada wuku Wayang diberikan bayuh oton yang khusus, sebab anak tersebut dianggap salah wadi atau lahir salah, sesuai dengan nama wuku. Menurut mitologi Kalapurana, anak ini dapat disantap oleh Batara Kala. Untuk menghindarinya perlu di-bayuh dengan panglukatan Sang Mpu Leger, yakni penglukatan dengan sarana tirtha Wayang.

(Baca: Berkarma Sesuai "Swadharma", Berdamai dengan Sang Kala)

Lontar Kalapurana mengisahkan Batara Siwa berputra dua orang, yaitu Batara Kala dan Dewa Kumara. Pada suatu ketika Batara Kala yang bertabiat seperti raksasa bertanya kepada ayahandanya, menanyakan siapa saja yang boleh disantapnya. Siwa menjelaskan bahwa yang boleh disantap adalah bila ada orang yang berjalan tepat tengah hari dan yang lahir pada wuku Wayang. Setelah mendengar hal itu, Batara Kala teringat bahwa adiknya, Dewa Kumara lahir pada hari Sabtu Kliwon wuku Wayang. Karena itu ia ingin menyantapnya, tetapi dilarang oleh Batara Siwa dengan alasan adiknya masih terlalu kecil. Setelah beberapa lama, datang lagi Batara Kala mohon agar adiknya bisa disantapnya, namun sebelumnya Batara Siwa telah menyuruh Dewa Kumara lari ke bumi. Mengetahui hal tersebut Batara Kala lalu mengejarnya ke Bumi. Untuk menghalangi tertangkapnya Dewa Kuamra, Batara Siwa dengan Batari Uma dengan mengendarai lembu putih turun. Ia ke dunia tepat tengah hari. Kala pun dihadangnya. Melihat hal ini Siwa pun mau disantap namun Siwa berkelit melalui teka-teki yang harus dikupas.

Kalau ia berhasil bisa menyantapnya. Akhirnya Batara Kala pun tidak berhasil mengupas teka-teki itu hingga akhirnya waktu telah condong ke barat. Sementara Dewa Kumara telah jauh larinya. Dengan sangat geramnya Bhatara Kala mengejarnya. Karena kepepet Dewa Kumara bersembunyi pada onggokan sampah. Sang Kala menerkamnya, dan Kumara pun berlari lagi. Batara Kala pun mengutuk orang ynag membuang sampah supaya terkena penyakit menular, sembari berlari mengejar Dewa Kumara.

Dewa Kumara lalu bersembunyi di tungku api di dapur orang. Dewa Kala melihatnya, lalu mengambil dari tungku api kanan. Kumara pun keluar melalui tungku api kiri, dan Kumara terlepas dari terkamanya. Dewa Kala lagi-lagi mengutuk orang, agar siapa saja yang tidak menutup tungku bila memasak akan mengalami kebakaran.

Sementara itu Dewa Kumara telah jauh pergi dan bertemu dengan pegelaran wayang. Dengan sedihnya ia mohon belas kasihan Ki Dalang agar sudi menyembunyikan dirinya sehingga tak ditemukan oleh Batara Kala. Ki Dalang belas kasihan lalu menyuruh Dewa Kumara masuk ke dalam bungbung gender-nya. Dewa Kumara sangat gembira mengikuti petunjuk Ki Dalang. Sementara Dewa Kala pun tiba. Ia melihat pajangan banten. Karena lapar, lalu ia menyantap habis bebantenan tersebut.

Setelah kenyang lalu ia bertanya kepada Ki Dalang, di mana Dewa Kumara  itu berada. Dengan tenang Ki Dalang menjawab dan menjelaskan bahwa Dewa Kumara ada pada perlindungannya. Bilamana Dewa Kala dapat mengembalikan banten itu dengan utuh, Dewa Kumara akan diserahkan. Kalau tidak, Dewa Kumara tidak boleh disantap.

Tentu saja Dewa Kala tak bisa mengembalikan banten yang telah disantapnya. Ia pun akhirnya menyerah. Dewa Kumara lalu dipulangkan ke sorga. Ki Dalang dan Dewa Kala bercakap-cakap dan mengadakan kesepakatan. Bilamana ada orang yang lahir pada wuku Wayang dan tidak dilukat dengan penglukatan Mpu Leger, boleh disantap oleh Dewa Kala. Dewa Kala pun menjadi senang.

Sejak itulah, setiap anak yang lahir pada wuku Wayang mesti di-bayuh dengan penglukatan wayang. Bayuh oton bagi anak yang lahir pada wuku Wayang memerlukan jenis upakara yang jauh lebih besar dan harus menanggap wayang serta diselesaikan oleh dalang yang ahli untuk itu. Dalang ini disebut Sang Mpu Leger. Pagelaran wayang bayuh oton biasanya menghambil cerita Batara Kala.

(Baca: Melihat Diri Sendiri dalam Wayang)

Menurut Wayan Budha Gautama dalam buku Rerahiyan, Hari Raya Umat Hindu, ada dua jenis pesucian bayuh oton wuku Wayang. Bagi yang lahir pada hari Minggu-Jumat wuku Wayang, pesucian dirinya disebut sudamala. Sedangkan yang lahir pada hari Sabtu wuku Wayang, pesucian dirinya disebut sapuh leger.  (b.)

Teks dan Foto: Ketut Jagra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.