Terkini

Benarkah Orang Bali "Belog Ajum"?

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Saat masih hidup, tokoh Bali yang dikenal kerap berbicara vokal, Made Kembar Kerepun mengatakan orang Bali sangat sulit menerima kritik dari orang lain. Hal ini yang menyebabkan orang Bali sulit melakukan introspeksi diri. Sebaliknya, orang Bali sangat suka dipuji bahkan sangat suka memuji diri sendiri.

Orang Bali dalam suatu pementasan seni
Dengan karakter seperti itu menjadikan orang Bali cenderung menganggap tradisi dan budaya yang telah diwarisi dari leluhurnya dulu merupakan yang terbaik di antara tradisi yang dimiliki daerah lain. Pada akhirnya agak sulit memunculkan sikap untuk berubah. Selain itu, lantaran suka dipuji dan memuji diri sendiri, orang Bali seringkali sulit untuk objektif menilai diri sendiri.

Pengamat adat Bali, Wayan P. Windia mengatakan jika orang Bali dikatakan suka dipuji memang tidak keliru. Namun, dirinya kurang sepakat jika orang Bali dianggap belog ajum (bodoh tapi suka dipuji-puji).

“Sifat suka dipuji itu khas karakter seniman. Seniman di mana pun memang seperti itu, demen ajum (senang dipuji),” kata Windia.

Orang Bali, kata Windia, kebanyakan merupakan seniman, baik seniman tari, tabuh, melukis, matembang dan lainnya. Seniman memiliki karakter khas kreatif. Namun, menurut Windia, setiap manusia pasti memiliki karakter suka dipuji.

Sejarawan Unud, I Gede Parimarta juga sependapat dengan Windia. Jika dikatakan demen ajum, siapa pun pasti memiliki karakter seperti itu. Namun, jika dikatakan belog ajum, mesti didiskusikan kembali tudingan itu.

“Memang benar ada orang-orang Bali yang belog ajum. Akan tetapi, jika menyatakan sebagian besar orang Bali seperti itu tentu kurang tepat,” kata Parimarta.

Dosen Antropologi Universitas Udayana, IBG Pujaastawa menyatakan bukan semua orang Bali demen ajum. Pasalnya, hingga kini masih ada warisan nilai-nilai yang hingga kini masih dijadikan pegangan hingga kini yakni eda ngaden awak bisa, tidak menganggap diri bisa. Dari sinilah kemudian lahir karya seni di Bali, seperti tarian, tabuh atau pun karya sastra yang tidak mencantumkan nama pengarang atau pembuatnya.

“Hingga kini kita masih menemukan banyak lontar dengan kualitas kandungan sastra yang tinggi tetapi tidak diketahui pengarangnya. Ini membuktikan tidak semua orang Bali demen ajum,” kata Pujaastawa.

Namun, Pujaastawa mengingatkan pentingnya orang Bali untuk tidak sampai lupa diri karena senantiasa dipuja-puji orang. Dalam persaingan global yang semakin ketat yang disertai serbuan kapitalisme dan konsumerisme yang sangat kuat, orang Bali mesti senantiasa menyadari posisi dan potensinya serta bisa cerdas dan cerdik menyikapi perkembangan yang terjadi.


“Sikap lupa diri karena pujian atau pun membiarkan diri terperosok dalam karakter suka memuji-muji diri sendiri, menghilangkan kemungkinan untuk jernih melihat kenyataan yang terjadi,” tandas Pujaastawa. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.