Terkini

Kisah Cinta AA Ayu Oka-I Gusti Ngurah Made Agung di Balik Perang Puputan Badung

Teks: I Made Sujaya, Foto: Repro www.kitlv.nl

Jenazah Raja dan kerabat Puri Pemecutan serta para prajurit seusai perang Puputan Badung
KECAMUK perang Puputan Badung 107 tahun silam yang hari ini diperingati, ternyata mengguratkan sepenggal cerita menarik tentang sisi kodrati seorang IGusti Ngurah Made Agung yakni kisah cintanya dengan putri Puri Pemecutan, Anak Agung Ayu Oka. Kisah cinta dua sejoli ini disebut-sebut sejumlah sumber berakhir dengan pelaksanaan tradisi masatya. Anak Agung Ayu Oka melaksanakan kanya satya, menjemput kematian sebagai bukti kesetiaannya bagi sang kekasih yang juga Raja Badung.

Kisah masatya Anak Agung Ayu Oka ini diceritakan dalam Geguritan Bhuwana Winasa karya Ida Pedanda Ngurah. Dalam geguritan itu diceritakan Anak Agung Ayu Oka masatya sebelum perang di Pemecutan dimulai di hadapan ayahandanya, Raja Pemecutan, I Gusti Gde Ngurah Pemecutan.

Almarhum I Gusti Ngurah Oka Suparta pernah membuat tulisan khusus mengenai pelaksanaan tradisi masatya oleh Anak Agung Ayu Oka ini. Ngurah Oka Suparta menyebut tindakan itu sebagai kanya satya, kesetiaan yang dilakukan saat belum menikah. Lazimnya, masatya dilakukan oleh perempuan-perempuan yang menjadi istri raja saat jenazah rajanya dibakar.

Ngurah Oka Suparta agak jelas menyebut kanya satya Anak Agung Ayu Oka dilakukan terhadap kekasihnya, I Gusti Ngurah Made Agung yang telah mendahului gugur dalam perang di Puri Denpasar. Anak Agung Ayu Oka diceritakan sedih setelah mendengar sang kekasih gugur dalam perang tersebut.

Yang menarik disimak adalah buku tipis berjudul Kabut Cinta, Pelangi Asmara, Di Balik Asap Mesiu Perang Puputan Badung 1906 yang disusun I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, keturunan Pemecutan yang kini mengelola Museum Lukisan Sidik Jari. Buku ini menampilkan cerita yang agak romantis.

Diceritakan terjadi kisah cinta segi tiga yang melibatkan I Gusti Ngurah Made Agung dengan Anak Agung Ketut Bima dalam memperebutkan Anak Agung Ayu Oka. Menurut Ngurah Gede Pemecutan, Anak Agung Ayu Oka sebetulnya menaruh hati kepada Anak Agung Ketut Bima. Namun, karena perintah sang ayah, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, dia menerima dijodohkan dengan I Gusti Ngurah Made Agung.

Selanjutnya diceritakan Ngurah Gede Pemecutan terjadi persaingan untuk memikat hati Anak Agung Ayu Oka. Sampai akhirnya pecah perang Puputan Badung yang mendorong Anak Agung Ayu Oka masatya.

Namun Ngurah Gede Pemecutan menghadirkan kisah berbeda dengan sumber-sumber lainnya. Jika Geguritan Bhuwana Winasa dan Ngurah Oka Suparta menyebut Anak Agung Ayu Oka melaksanakan tradisi masatya di hadapan ayahandanya di Puri Pemecutan sebelum perang di Pemecutan dimulai, Ngurah Gede Pemecutan menyebut tradisi masatya itu dilaksanakan setelah Anak Agung Ayu Oka menyadari ayahandanya gugur dalam perang termasuk I Gusti Ngurah Ketut Bima serta I Gusti Ngurah Made Agung, kekasihnya atas perjodohan ayahandanya. Karenanya, apa yang diungkapkan Ngurah Gede Pemecutan memberi gambaran bahwa Anak Agung Ayu Oka melakukan kanya satya tidak saja untuk kekasihnya, I Gusti Ngurah Made Agung, tetapi juga untuk ayahnya, I Gusti Ngurah Gde Pemecutan dan I Gusti Ngurah Ketut Bima yang juga kekasihnya sebelum dijodohkan dengan I Gusti Ngurah Made Agung.

Mana yang benar tentu membutuhkan penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, penggalan kisah ini memberi gambaran meskipun Raja-raja Badung sepakat dengan Belanda menghapuskan tradisi masatya, toh kenyataannya tradisi itu tetap dilaksanakan. Puputan sendiri merupakan wujud pelaksanaan tradisi masatya keluarga, kerabat dan pengiring terhadap rajanya. (b.)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.