Terkini

Kapan Berita Proklamasi RI Tiba di Bali?

Teks: I Made Sujaya, Foto: Repro buku Bali Berjuang (Pendit, 2008)

Poster perjuangan pemuda Bali karya pelukis Wayan Ngendon, 1945 
Meski Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dibacakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945, tapi berita Proklamasi tidak serta merta bisa sampai ke telinga rakyat di seluruh Indonesia. Dibutuhkan waktu yang lebih lama hingga berita itu sampai kepada rakyat di seluruh pelosok Indonesia. Hal ini tak terlepas dari kondisi sosial politik Indonesia kala itu yang masih dalam cengkeraman penjajah Jepang serta kondisi geografis Indonesia yang begitu luas serta medan yang berbeda-beda. 

Bali juga tak jauh berbeda. Berita Proklamasi RI secara resmi baru tiba di Bali pada hari Kamis, 23 Agustus 1945 bersamaan dengan kedatangan Mr. I Goesti Ketoet Poedja dari Jakarta. Poedja adalah satu-satunya orang Bali yang hadir saat Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Kehadiran Poedja di Pegangsaan Timur, Jakarta berkait erat dengan kedudukannya sebagai wakil Soenda Ketjil (Soenda Ketjil meliputi Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor) dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

Nyoman S. Pendit dalam buku Bali Berjuang menuliskan catatan yang agak lengkap mengenai penyampaian berita Proklamasi RI di Bali. Menurut Pendit, selang beberapa hari setelah 17 Agustus 1945, serdadu-serdadu Jepang masih terlihat angkuh menunjukkan kekuasaan mereka. Berita Proklamasi di Jakarta belum sampai ke Bali. Radio-radio yang ada saat itu ditutup rapat-rapat oleh Pemerintah Jepang. Bila pun mengudara, siarannya sepenuhnya berisi propaganda Pemerintah Jepang. Padahal, Kaisar Jepang sudah menyatakan kalah perang dan menyerah kepada Sekutu. 

Tapi, pemuda-pemuda pejuang di Bali sudah mengetahui Proklamasi RI melalui hubungan dengan rekan-rekannya di Jawa. Mereka pun meneruskan kabar ini secara bisik-bisik kepada pemuda-pemuda di desa-desa. Hanya saja, mereka masih menunggu kepastian kabar dari Mr. I Goesti Ketoet Poedja. 

Pada 21 Agustus 1945, barulah Pemerintah Jepang di Bali mengumumkan bahwa mereka telah menyerah kalah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Pengumuman itu juga disertai informasi mengenai adanya Proklamasi Indonesia Merdeka di Jakarta. 

Dua hari kemudian, 23 Agustus 1945, Mr. I Goesti Ketoet Poedja yang ditunggu-tunggu datang. Tapi, kedatangan Poedja tidak segera diberitahukan kepada pemuda-pemuda revolusioner. Baru keesokan harinya, 24 Agustus 1945, atas desakan para pemuda, Poedja menyampaikan perihal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 

Selain itu, Poedja juga menyampaikan pengangkatannya sebagai Gubernur Provinsi Soenda Ketjil serta mandat pengangkatan IBP Manoeaba sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Provinsi Soenda Ketjil. 

Namun, berita resmi Proklamasi Indonesia Merdeka dari Poedja tidak serta merta menimbulkan suasana gegap-gempita layaknya orang menyambut kemerdekaan. Banyak orang, baik dari kalangan elite maupun rakyat kebanyakan yang masih belum memahami apa yang sebetulnya sedang terjadi. Yang memahami keadaan pun masih diliputi beragam tanya, bagaimana peralihan kekuasaan akan dilakukan. Malah, tak sedikit yang waswas situasi akan semakin kacau-balau. 

Kenyataannya, langkah Mr. I Goesti Ketoet Poedja dan IBP Manoeaba bersama para pemuda pejuang untuk menegakkan kemerdekaan yang telah diproklamasikan penuh tantangan. Tidak semua orang bisa memahami makna kemerdekaan serta hubungan Bali dengan pemerintah pusat di Jakarta. Sejarah kemudian mencatat, perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Bali adalah juga perjuangan membangun kesadaran rakyat tentang makna kemerdekaan. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.