Terkini

Jejak Islam di Pulau Dewa

Teks: I Made Sujaya, Foto: Repro Buku Kuta Berdaya

Amatlah menarik mengikuti jejak umat Islam di Bali. Bukan semata karena Pulau Dewa ini terbebas dari proses islamisasi seperti halnya kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa, juga munculnya berbagai tradisi baru sebagai bentuk akulturasi budaya antara Hindu (Bali) dengan Islam. Semua ini tak pelak menambah warna-warni toleransi yang tumbuh subur di Bali.

Tidak ada data pasti kapan sesungguhnya orang-orang Islam mulai datang ke Bali kemudian berkembang seperti sekarang. Namun, berbagai kalangan meyakini orang-orang Islam sudah datang ke Bali sejak zaman kerajaan Gelgel. Ini berkaitan erat dengan hancurnya kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa di bawah kendali Majapahit oleh kerajaan-kerajaan Islam pesisir. Ini diikuti dengan pengalihagamaan orang-orang Hindu menjadi Islam.

Pecalang dan umat muslim saat hari raya Nyepi di Kuta pada tahun 2004
Namun, bukan berarti Bali luput dari upaya-upaya penganut Islam di Jawa untuk mengislamkan penduduknya. Dalam cerita rakyat yang diyakini masyarakat Bali, pernah ada seorang muslim yang merupakan utusan dari Demak membujuk agar raja Gelgel, Dalem Waturenggong mau memeluk agama Islam. Dalem Waturenggong sendiri menyatakan bersedia memeluk agama Islam bila sang utusan bisa memotong bulu kaki sang raja. Sang utusan pun mencobanya dan ternyata bulu kaki sang raja tiada kunjung terpotong. Akhirnya, sang utusan itu pun lari ke daerah sekitar desa Satra, Klungkung, dan menyamar sebagai orang Hindu. Karena merasa kalah, sang utusan ini pun memeluk agama Hindu, namun sejumlah pantangan dalam Islam tetap ditaati seperti tidak makan daging babi.

Di Satra ada sebuah pelinggih yang dinamakan pelinggih Gujarat. Konon pelinggih itu dibuat sang utusan yang pernah menghadap Dalem Waturenggong itu. Di pelinggih itu, warga dilarang menghaturkan babi guling.

Sulit membuktikan sejauh mana kebenaran kisah ini. Namun, kisah sang utusan dari Demak itu tampaknya sangat simbolik. Pernyataan Dalem Waturenggong, bahwa bila sang utusan ingin raja dan rakyatnya memeluk Islam maka mesti bisa memotong bulu kaki sang raja merupakan sebuah pernyataan bahwa ingin mengislamkan Bali maka mesti mengalahkan pasukan kerajaan Bali terlebih dulu.

Sikap Waturenggong inilah yang menjadi faktor penting gagalnya Islamisasi di Bali. Sikap teguh untuk tidak akan meninggalkan Hindu ini juga terus dipegang raja-raja Bali sesudahnya termasuk ketika Bali pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Meski begitu, bukan berarti Bali tertutup dari pengaruh budaya luar. Bali sangat terbuka terhadap datangnya saudagar-saudagar muslim dan mereka disebut sebagai nyama selam (saudara dari umat Islam). Oleh raja-raja Bali pada sekitar abad ke-18-19, kelompok-kelompok muslim ini diberikan untuk menempati lahan-lahan kosong. Ini merupakan kompensasi dari bantuan yang diberikan kelompok-kelompok muslim itu dalam upaya mempertahankan kekuasaan para raja-raja itu.


Karena itulah, banyak ditemukan perkampungan-perkampungan khusus muslim di Bali. Misalnya, perkampungan Islam di Desa Pegayaman, Buleleng, Kampung Bugis di Serangan, Kampung Gelgel di Klungkung, Kampung Kusamba di Klungkung dan masih banyak lagi yang lain. Jika ditelusuri, leluhur kampung-kampung muslim itu pasti memiliki hubungan mesra dengan raja-raja yang pernah mengayominya.

Pola menetap kelompok-kelompok muslim di sejumlah tempat di Bali itu akhirnya melahirkan berbagai akulturasi budaya antara Bali dan Islam. Di Pegayaman misalnya, penduduk muslim di desa ini menggunakan nama-nama khas Bali untuk melengkapi nama mereka. Anak pertama dari keluarga muslim di desa ini akan menggunakan nama Wayan seperti lazimnya anak pertama di keluarga Hindu. Hanya bedanya, setelah nama Wayan itu diikuti dengan nama khas muslim. Misalnya, Wayan Muhamad Saleh.

Di Kuta, ada juga tokoh muslim yang namanya dilengkapi dengan gelar Gusti yakni Gusti Jonik, Gusti Mahmud serta Gusti Ali. Orang sempat mengira bahwa mereka adalah orang Bali yang beralih agama ke Islam. Padahal, menurut tokoh muslim Kuta, H. Agus Bambang Priyanto, S.H. yang kerap dipanggil Haji Bambang, itu merupakan gelar kehormatan yang diberikan Raja Pemecutan atas jasa-jasa tokoh muslim Kuta itu bagi kerajan Badung.

Tak hanya dalam hal pemakaian nama khas Bali, kaum muslim di Pegayaman  juga menggunakan sistem banjar seperti lazimnya di Bali. Mereka juga mengenal sistem pengairan subak serta menghimpun diri dalam sekaa manyi atau sekaa malapan. Bahkan, kesenian burda yang mereka miliki pun mengenakan pakaian adat Bali. Begitu juga sejumlah tarian khas yang mereka miliki seperti Tari Selendang, Tari Tampan, Tari Perkawinan serta Tari Pukul Dua, gerakannya merupakan kombinasi gerak-gerak silat dan tari Bali. Jangan dibilang lagi bahasa yang digunakan sudah bahasa Bali.

Dari segi sosial kemasyarakatan, hubungan harmonis antara kaum muslim dengan orang Bali (Hindu) juga tampak dari tradisi ngejot, suatu tradisi mendatangi tetangga dari umat lain yang tengah merayakan hari keagamaannya. Di Kuta, tradisi semacam ini masih dipelihara dengan adanya pemberian gulai kambing oleh kelompok muslim kepada tetangganya yang beragama Hindu ketika hari raya Islam tiba seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Malah, tatkala perayaan Nyepi, sekelompok umat Islam Kuta juga dilibatkan sebagai pecalang untuk mengawasi lingkungannya selama penyepian berlangsung.


“Sampai akhir tahun 1990-an, kami masih sering saling tengok bila ada yang menikah. Hanya belakangan saja hal itu berkurang, terutama ketika pengurus masjidnya berubah,” kata salah seorang warga Kuta, I Wayan Linggar Saputra. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.