Terkini

”Ngampin", Ungkapan Syukur Atas Kelahiran Cicit

MADE Nadi, lelaki sepuh yang berusia sekitar 80-an tahun itu begitu riang melihat cicitnya yang baru sepekan lahir. Dia pun mendekati sang cicit sembari menyentuh bagian-bagian tubuh sang bayi dengan beberapa lembar daun sirih yang dilengkapi dengan buah pinang. Dari mulutnya meluncur doa penuh takzim agar sang bayi senantiasa sehat sejahtera serta sukses menjalani hidup dan kehidupan. Ritus sederhana itu diakhiri dengan menyelipkan lembaran uang kertas kepada sang bayi.

"Ne anggon bekel, apang nyidang meli gumi (ini pakai bekal, agar bisa membeli tanah)," kata Made nadi sembari mencium kening cicitnya yang digendong cucu-menantunya itu.
Apa yang dilakukan Made Nadi itu kerap disebut ngampin. Ini sebentuk tradisi Bali bagi orang-orang yang sudah berjuluk kumpi terhadap cicitnya yang baru lahir. Di beberapa desa, tradisi ini disebut meras.
"Ngampin itu tujuannya agar si cicit yang baru lahir tidak kumpinan. Kumpinan itu maksudnya kesakitan dalam mengarungi hidup dan kehidupan," kata Made Nadi menjelaskan maksud ngampin dalam bahasa Bali.
Sulit untuk melacak sumber sastra dari tradisi ngampin ini. Yang terjadi justru banyak orang tak mengenal lagi tradisi ini. Sebagian lagi menanggapi tradisi ini tak begitu serius.
Namun, bagi Putu Sudarta, tokoh masyarakat Busungbiu, Buleleng, tradisi ngampin merupakan ungkapan syukur orang tua, khususnya tetua di keluarga atas kelahiran generasi baru, seorang cicit. Ungkapan syukur itu disertai dengan doa dan pengharapan ke hadapan Yang Kuasa agar sang bayi diberkati keselamatan, kesehatan, kesejahteraan dan kesuksesan dalam mengarungi hidup dan kehidupan.
Bila memang bermakna ungkapan syukur, mengapa perlakuan istimewa ini diberikan pada cicit, bukan pada cucu? "Ya, karena cicit itu dianggap sama kedudukannya secara niskala dengan orang tua," kata Putu Sudarta.
Tradisi ngampin bukan hanya berlaku untuk kelahiran cicit. Kelahiran buyut dan generasi di bawahnya juga mendapat perlakuan sama. Sepanjang generasi tertua dalam keluarga masih ada saat kelahiran sang buyut, tradisi ini tetap dilaksanakan.
"Tidak semua orang bisa menyaksikan kelahiran cicit apalagi buyutnya. Jadi, kalau sampai melihat kelahiran sang cicit atau buyut, wajar ada ungkapan syukur yang cukup," imbuh Komang Suastika, warga Kusamba, Klungkung.
Artinya, tradisi ngampin menjadi semacam "jembatan" dalam alih generasi dalam masyarakat Bali. Generasi tua dengan penuh syukur menyambut sang penerus sembari berdoa kepada Yang Kuasa agar diberkati keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan.
Model semacam ini juga dijumpai dalam tradisi ngaben. Jika orang yang di-aben memiliki cicit, maka akan ada bagian ritual peperasan terhadap cicit-cicit itu. Ritual peperasan ini ditandai dengan sebentuk banten khusus lengkap dengan kober (bendera) peperasan bergambar dewa.
"Cicit-cicit itu dianggap bisa melapangkan jalan sang pitra atau pitara menuju alam sorga. Cicit-cicitnya inilah yang membukakan jalan itu," ujar Komang Suastika. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.