Home » » Ketika Nyepi Berbarengan dengan Hari Anggarakasih Julungwangi

Ketika Nyepi Berbarengan dengan Hari Anggarakasih Julungwangi

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Minggu, 10 Maret 2013 | 06.28


HARI Nyepi tahun baru Saka 1935 pada Selasa (12/3) mendatang bertepatan dengan hari Anggarakasih Julungwangi. Sejumlah pura, merajan, paibon atau dadia biasanya menggelar piodalan pada hari itu. Lantas, bagaimana semestinya piodalan dilaksanakan ketika hari itu bertepatan dengan hari Nyepi?
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, IGN Sudiana serta Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat Bidang Agama dan Lintasiman, I Ketut Wiana menyatakan antara Nyepi dan hari Anggarakasih Julungwangi sama-sama penting. Karena itu, kedua hari suci itu bisa sama-sama dilaksanakan. Akan tetapi, hari Nyepi tetap mesti diprioritaskan pelaksanaannya.
“Ini sudah menjadi ketentuan dalam Kesatuan Tafsir Agama Hindu sebagai pegangan pelaksanaan agama Hindu, termasuk hari raya Nyepi ketika berbarengan dengan hari raya lainnya,” kata Sudiana.
Selain Kesatuan Tafsir Agama Hindu, imbuh Wiana, dasar pemrioritasan pelaksanaan catur brata penyepian juga dilandasai sastra yakni lontar Wariga Gemet. Dalam lontar itu disebutkan wewaran alah dening wuku, wuku alah dening sasih. Hari Anggarakasih Julungwangi berdasarkan wewaran dan wuku, sedangkan Nyepi berdasarkan sasih.
“Karena itu, hari raya Nyepi mesti diprioritaskan pelaksanaannya ketika Nyepi bersamaan dengan piodalan atau pun otonan,” kata Wiana.
Baik Sudiana maupun Wiana menuturkan perayaan hari Nyepi berbarengan dengan hari raya lain sudah sering terjadi. Biasanya, umat memilih jalan tengah yakni piodalan Anggarakasih Julungwangi dilaksanakan subuh dan berakhir sebelum pukul 06.00 atau sebelum kulkul pemberitahuan hari Nyepi dibunyikan.
Piodalan-nya biasanya tidak nyejer tetapi langsung di-sineb sebelum Nyepi dimulai. Ini tentu sebuah harapan karena dalam beragama tidak boleh dipaksakan. Tapi, harapan ini memiliki dasar sastra agamanya,” kata Wiana.
Saat ditanya soal pilihan waktu sebelum pukul 06.00 untuk melaksanakan piodalan dengan ketepatan hari Anggarakasih sesuai tradisi waktu di Bali, Sudiana mengatakan waktu subuh sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 digolongkan sebagai dauh pisan. Dauh pisan masih termasuk dalam hari baru, sehingga sudah termasuk hari Anggarakasih.
Wiana menambahkan dalam konsep kewaktuan Hindu dikenal adanya Brahma Murta. Yang disebut Brahma Murta yakni matahari belum keluar tetapi sudah munculwarna kemerahan di ufuk timur. Ini menjadi peralihan hari kemarin dan hari ini (hari baru).
Justru, menurut Wiana, waktu subuh hingga matahari terbit itu digolongkan sebagai waktu satwika atau waktu terbaik untuk melaksanakan ritual agama. Karena ngodalin pada waktu itu tidak keliru justru paling baik.
“Ya, kalau pun agak molor sedikit misalnya lewat dari pukul 06.00 lagi sedikit, masih bisa ditoleransi. Kita beragama kan tidak boleh saklek. Agama Hindu di Bali semua fleksibel,” kata Wiana.
Dari segi sarana dan tingkatan ritual pun, imbuh Wiana, mesti dipilih yang sederhana agar sesuai dengan hakikat perayaan Nyepi. Piodalan jangan dilaksanakan berlebihan sehingga malah bisa tidak sejalan dengan Nyepi yang dirayakan beberapa jam kemudian.
Wiana mengingatkan kandungan ritual adalah spiritual. Karena itu, pemaknaan esensi ritual yang mesti dikedepankan. Dalam beragama pun dikenal dua konsep yakni cara prawerti yakni bhakti ke luar diri, dan nirwerti yakni bhakti ke dalam diri. Ketika hari raya bertepatan dengan Nyepi yang memfokuskan pada evaluasi ke dalam diri, seyogyanya dipilih jalan nirwerti.
“Persembahan dibuat yang sederhana, sesidan-sidan karena kita akan menuju suatu prosesi catur brata penyepian yang membutuhkan konsentrasi dan kesungguhan,” kata Wiana. 

Sejumlah Pura yang Melaksanakan Piodalan
Saat Anggarakasih Julungwangi
Berbarengan dengan hari Nyepi
Selasa, 12 Maret 2013

1. Pura Tirtaharum Tegalwangi, Bangli
2. Pura Beratan di Baturiti
3. Pura Batu Klotok di Klungkung
4. Pura Pasek Tohjiwa di Wanasari Tabanan
5. Pura Pasek Tangguntiti Jakatebel Tabanan
6. Pura Dalem Waturenggong Banjar Tarokaja Tegalalang
7. Pura Pasek Gelgel Tulikup Gianyar
8. Pura Manik Bingin di Desa Dukuh Sidemen

Teks dan Foto: I Made Sujaya
Bagikan Artikel Ini :

Poskan Komentar

Ikuti Kami di Facebook

 
Beranda | Tentang balisaja.com | Pengasuh | Iklan | Peta Situs
Hak Cipta © 2007. balisaja.com - Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Template Dimodifikasi Oleh balisaja.com Terima Kasih Kepada Mas Template
Diberdayakan Oleh Blogger