Artikel Terbaru

Menapak Jejak Rsi Markandeya di Pura Agung Gunung Raung Taro

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Jumat, 25 Maret 2011 | 10.51


Teks dan Foto: I Made Sujaya


PURA Agung Gunung Raung di Desa Taro, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar sejatinya merupakan salah satu pura penyungsungan jagat. Di pura ini bisa dirunut jejak perjalanan suci Maharsi Markandeya tatkala menyebarkan agama Hindu di Bali pada sekitar abad ke-8. Ada sejumlah keunikan yang dimiliki pura ini. Mulai dari pintu masuk sebanyak empat buah, hingga adanya pantangan membawa segala perhiasan emas. 
 


Pura Agung Gunung Raung mewariskan jejak Maharsi Markandeya ketika mengadakan perjalanan suci menyebarkan agama Hindu ke Bali. Pura ini didirikan sang rsi berbarengan pembukaan Desa Sarwa Ada yang menjadi cikal bakal Desa Taro kini. 

Dalam lontar Bhuwana Tattwa Maharsi Markandeya disebutkan Pura Agung Gunung Raung merupakan pemindahan dari Pura Gunung Raung di Jawa Timur. Pura itu juga dibangun oleh Mharsi Markandeya sendiri. 

Namun, sebelum tiba di Taro dan membangun Pura Agung Gunung Raung, Maharsi Markandeya sempat juga beristirhat sejenak di Brasela yang bertetangga dengan Taro. Karena tempat ini dirasa kurang tinggi, sang rsi melanjutkan mencari tempat ke arah utara yakni Taro. Meski begitu, sebagai penanda sang rsi pernah berjejak di tempat ini dibangun Pura Mas Merenteng. 

Pura Agung Gunung Agung sendiri, menurut Jro Mangku Ktut Soebandi dalam bukunya Sejarah Pembangunan Pura-pura di Bali merupakan pura penyungsungan jagat. Hanya memang, pengemong pura ini dari masyarakat Desa Taro khususnya Desa Adat Taro Kaja yang berjumlah sekitar 227 kepala keluarga (KK). Meski begitu, warga dari desa-desa lain seperti Desa Sukawana, Blantih, Pengotan, Selulung, Jagaraga, Bayung Gede, Ubud dan lainnya ikut nyungsung pura ini. 

Yang cukup unik, pura ini memiliki pemedal atau pintu masuk sebanyak empat buah di empat penjuru mata angin yakni timur, barat, utara dan selatan. Lazimnya, pura lainnya di Bali hanya memiliki pintu masuk satu atau dua. 

Namun, pemedal yang kerap digunakan umat hanyalah pemedal sisi utara dan selatan. Pemedal sisi timur tiada berani dilintasi karena ada pantangan tiada boleh mengenakan perhiasan emas. Entah karena apa, bila ada yang mengenakan perhiasan emas seperti kalung emas atau cincin emas, perhiasan itu kerap hilang. Sementara pemedal sisi barat praktis tidak pernah dimanfaatkan karena berhadapan dengan hutan seluas 40 are.

Tak cuma itu, padmasana agung berada di madyaning natah (di tengah-tengah). Biasanya padmasana itu berada di sisi kaja kangin (timur laut). Di sisi kaja kangin berdiri Pura Dalem Purwa. 

Keunikan lain, di dekat pemedal Pura Agung Gunung Raung juga terdapat dua buah titi gonggang (jembatan yang labil). Masyarakat Desa Taro meyakini titi gonggang itu sebagai tempat bagi orang yang ingin bersumpah. Misalnya ada orang yang belum membayar tetapi mengaku membayar, akhirnya bersumpah kepada orang yang dibayari. Di titi gonggang itulah bisanya sumpah itu dilaksanakan. Bila orang tersebut bisa melewati titi gonggang berarti orang itu memang benar, bila jatuh berarti orang itu salah. 

Pujawali di Pura Agung Gunung Raung sendiri dilaksanakan tiap Buda Kliwon Ugu. Dulu, pujawali dilaksanakan cuma sehari dan puncaknya mesti tengah malam. Namun, semenjak Pura Agung Gunung Raung banyak didatangi umat yang hendak tangkil, Ida Batara kini nyejer selama tiga hari. Ini atas petunjuk Penglingsir Puri Ubud, (alm.) Tjokorda Gde Suyasa. Tahun ini, di Pura Agung Gunung Raung dilaksanakan Karya Panca Wali Krama. 

Meski begitu, pajenengan-pajenengan yang banyak terdapat di Pura Agung Gunung Raung yang juga kerap diberikan upacara patirthaan masih dilaksanakan sehari. (b.)

Foto Bertiga bisa Celaka?

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Selasa, 15 Maret 2011 | 18.29



Teks dan Foto: I Made Sujaya

Saat Umanis Galungan baru-baru ini, Wayan Tuwah Aukud mengajak keluarganya malali (liburan) ke Kebun Raya Bedugul, Tabanan. Selain istri dan putri semata wayangnya, Wayan juga mengajak ayah dan ibunya. Setelah seharian bersembahyang keliling pura di hari Galungan, Wayan ingin mengajak keluarganya bersantai ria, menikmati sejuknya hawa Kebun Raya Bedugul.


Seperti lazimnya orang berlibur, Wayan pun tak lupa membawa kamera saku digital untuk mengabadikan momen-momen menarik selama malali. Wayan memang selalu ingat dengan benda yang satu itu. Menurut Wayan, setiap momen kebersamaan dengan keluarga pantas untuk diabadikan.

Begitu tiba di Bedugul, Wayan sudah jeprat sana, jepret sini. Putrinya yang baru duduk di kelas IV SD itu tiada henti disuruhnya berpose di depan kamera, lalu dijepretnya. Semua yang menyaksikan ikut senang. Apalagi ulah Putu Diantini –begitu nama putri Wayan—bergaya di depan kamera cukup lucu.

Sampailah kemudian saat Putu Diantini ingin berpose diapit oleh kakek dan neneknya. Tentu saja kakek dan nenek itu girang ingin berfoto bersama cucu kesayangannya. Namun, baru saja Wayan hendak menjepretkan kamera, istrinya, Nyoman Nuratni berteriak, “Jangan!”

“Lo, kenapa, Man?” tanya Wayan.


“Tak boleh berfoto bertiga,” kata Nyoman. 

“Memangnya kenapa?” Wayan penasaran. 

“Yang berada di tengah-tengah bisa celaka,” ujar Nyoman. 

“Ah, itu hanya tahyul,” tepis Wayan. 

Ayah dan ibu Wayan terpengaruh dengan apa yang dikatakan menantunya. Mereka pun menolak difoto bertiga. 

“Betul itu, Yan. Tak boleh berfoto bertiga. Bapa juga pernah dengar begitu,” ujar sang Ayah dengan mimik serius. 

“Kalau gitu tak jadi dong ambil fotonya?” tanya Wayan. 

“Jadi, tapi jangan bertiga. Kita berlima saja. Ayah, ibumu, kamu, istrimu dan Putu. Suruh orang lain menjepretkan kameranya,” saran sang Ayah. 

Namun, belum niat untuk berfoto berlima itu dilaksanakan, putri Wayan sudah keburu menangis. Dia tak mau berfoto berlima. Dia ngotot minta difoto dengan diapit kakek dan neneknya. 

“”Pokoknya Putu mau difoto diapit kakek ama nenek,” kata Putu dengan tampang cemberut. 

“Tapi, kata kakek dan ibu, tak boleh berfoto bertiga. Nanti Putu yang ada di tengah-tengah bisa celaka,” bujuk sang Ayah. 

“Celaka gimana? Masa Cuma berfoto bisa celaka? Putu nggak percaya. Bapak bohong,” kata Putu tak percaya. 

Agar tak terus-terusan ngambek, Wayan pun mau menuruti keinginan putrinya itu. Namun, Wayan menyiasati dengan menjepretkan kamera saat ada seseorang melintas di belakang putrinya dan kedua orang tuanya. 

Begitu hasilnya dilihat di kamera, Putu kembali ngambek. Pasalnya, dilihat ada orang lewat di belakangnya. Putu ingin difoto ulang. 

Wayan saling pandang dengan ayah, ibu dan istrinya. Mereka diliputi rasa waswas karena takut putrinya akan celaka setelah difoto bertiga. 

Namun, demi mencegah putrinya ngambek kembali, Wayan kembali memfoto putrinya bersama kedua orangtuanya. Sayangnya, begitu akan memencet tombol klik, ternyata kameranya macet. Baterai kamera pun dibuka lalu dipasang lagi, tetapi kamera tetap tak bisa dijepretkan. 

“Wah, kameranya rusak, Tu,” kata Wayan. 

Dengan wajah cemberut, Putu mengambil kamera itu dari tangan ayahnya. Dia ingin tahu bahwa kamera itu memang benar-benar rusak. Setelah membolak-balik sendiri, Putu pun percaya kamera itu rusak. 

“Yah, nggak jadi deh fotonya. Nanti aja ya, Pak,” kata Putu setengah kecewa. 

Wayan juga penasaran mengapa kameranya tiba-tiba macet. Dia pun bertanya dalam diri, “Mungkinkah karena memang tak boleh berfoto bertiga?” Namun, dalam hati dia merasa plong. Dia merasa seperti baru saja terbebas dari bayang-bayang bahaya. (*)

Pura Besakih: Hulu Bali yang tiada Henti Bersaksi

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Sabtu, 12 Maret 2011 | 20.50


Teks dan Foto: I Made Sujaya


Pura Besakih pekan-pekan ini kembali menyedot perhatian umat Hindu di Bali. Bertepatan dengan Purnama Kadasa, Sabtu (19/3) mendatang, kembali dilaksanakan Karya Batara Turun Kabeh. Inilah ritual tahunan yang dipersepsikan sebagai momentun mendoakan semesta alam agar tetap degdeg, landuh.



Secara spritual, Pura Besakih diyakini sebagai hulu Bali. Namun, secara historis Pura Besakih merupakan saksi sejarah yang paling setia. Pura ini menjadi saksi penting perjalanan panjang sejarah Bali. 


Pura yang terletak di lereng Gunung Agung ini disebut-sebut sebagai pura terbesar. Fox dalam buku Pura Besakih menyebutkan Pura Besakih sekarang adalah gugusan 86 buah pura. Terdiri dari 18 pura umum, 4 pura catur lawa, 11 padharman, 6 pura non-padharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 buah pura lainnya. 

Gugusan pura yang demikian banyak itu mengindikasikan Pura Besakih tidak dibangun sekaligus. Pura ini dibangun melalui proses yang panjang, berabad-abad, sepanjang perjalanan agama Hindu di Bali. 

Hingga kini belum terurai jelas kapan sejatinya Pura Besakih mulai didirikan. Sumber-sumber tradisional menyebut pura ini didirikan oleh Maharsi Markandeya. Menurut mitologi, awalnya Markandeya menuju Gunung Tolangkir atau Gunung Agung mengajak 800 orang pengikutnya. Dengan tujuan untuk membuka pemukiman, para pengikutnya pun merabas hutan. Tak dinyana, banyak pengikutnya meninggal dunia terkena penyakit atau dimakan binatang buas. 

Berikutnya, Sang Rsi kembali mengajak pengikut sebanyak 400 orang dari Desa Aga, Jawa Timur. Kedatangannya yang kedua kali ini sukses setelah sang yogin menghaturkan upacara, memohon ke hadapan Ida Batara. Karena sukses, di tempat merabas hutan itulah kemudian Maharsi Markandeya menanam kendi berisi air dan lima unsur logam seperti perak, emas, tembaga, besi dan perunggu yang dikenal dengan istilah Pancadatu lengkap dengan sarana sesajen. Tempat penanaman panca datu itu kemudian diyakini sebagai tempat berdirinya Pura Besakih. Besakih berasal dari kata basuki yang berarti selamat. 

Namun, sejumlah pakar menduga awal didirikan, Pura Besakih bukanlah pura jagat, bukan pula pusat ritual serta bukan yang terbesar. Kemungkinan, kala itu Besakih hanya berwujud pura alit tempat pemujaan leluhur raja-raja yang berkuasa, sebagaimana gunung dikonsepsikan sebagai tempat bersemayamnya pada leluhur. 

Memang, Dr. Goris dalam penelitiannya yang dikutip IB Agastya dalam tulisan "Belajar dari Sejarah Pura Besakih" berkesimpulan bahwa letak yang saat ini disebut sebagai pura di Besakih pada zaman prasejarah merupakan limah berundag. Konsep spiritual dari kebudayaan zaman prasejarah memang ditandai dengan pemungsian tempat tinggi sebagai tempat pemujaan. Makin tinggi suatu tempat, makin suci. 

Perkembangan fungsi dan fisik Pura Besakih, usai Dharma Palguna, terjadi dalam perjalanan waktu selanjutnya. Perkembangan itu ditentukan oleh strategi pembangunan spiritual kala itu atau pun karena alasan alam. Di antara demikian banyak perkembangan fisik Pura Besakih, pendirian padmasana tiga sebagai sthana Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa dapat dibaca sebagai puncak perkembangannya dalam konteks agama. Padmasana tiga itu, selain menempatkan Pura Besakih sebagai kahyangan jagat, juga sebagai tanda Siwaisme yang mendapat tempatnya di Bali. 

Sampai di sini bisa ditarik simpulan Pura Besakih memang menjadi saksi sejarah penting perkembangan Bali dari konteks spiritual. Dari tempat inilah bisa diketahui bagaimana perjalanan panjang agama Hindu di Bali. 

Tak hanya itu, secara politik, sosial dan kultural, Pura Besakih menjadi pusat orientasi dari zaman ke zaman. Pada zaman Raja Sri Kesari Warmadewa (913 M), Besakih menjadi tempat sembahyang untuk raja-raja silsilah Warmadewa. Diduga, pada zaman Anak Wungsu (1049-1077), Besakih juga memiliki fungsi yang sama. Tradisi ini kemungkinan dilanjutkan oleh raja-raja Gelgel atau kemudian Klungkung. 

Pada masa Belanda, Besakih sempat diabaikan. Sampai akhirnya terjadi gempa bumi dahsyat 21 Januari 1917 yang ikut merusak bangunan Pura Besakih. Sejak kejadian itu, perhatian kembali dipusatkan ke Pura Besakih. Bersama raja-raja Bali, pemerintah kolonial kembali membangun Pura Besakih. Setelah kemerdekaan RI, Pura Besakih tanggung jawab terhadap Pura Besakih dibebankan kepada negara yakni pemerintah Bali. 

Begitulah Pura Besakih merentang perjalanan sejarah Bali. Sebagai hulu Bali, Pura Besakih memang paling setia bersaksi mengikuti perkembangan sejarah Bali. (b.)

“Tibah ” (Mengkudu), Obat Maag dan Darah Tinggi

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Selasa, 08 Maret 2011 | 11.10



Teks dan Foto: I Made Sujaya 

Anda sakit maag? Jangan buru-buru membeli obat kemasan. Ada baiknya Anda memetik buah tibah (bahasa Bali) atau mengkudu (Morinda Citrifolia L) yang ada di pekarangan atau kebun. Jika tidak, Anda bisa membelinya di pasar-pasar tradisional.



Tibah memang salah satu buah yang memiliki khasiat obat mujarab. Lontar Taru Premana menyebut daun, buah dan akar tibah berkhasiat dumelada (sedang). Maag adalah salah satu sakit yang bisa disembuhkan dengan buah ini. 

Cara mengolahnya ada tiga. Cara pertama, ambil buah tibah yang sudah tua sebanyak tujuh buah dicampur dengan adas pulawaras lima biji, kedaung tunggal tiga biji kemudian diongseng atau nyahnyah. Setelah itu, semua ramuan ditumbuk. Airnya disaring, baru diminum. 

Cara kedua, ambil dua atau tiga buah tibah yang sudah masak. Selanjutnya diremas-remas diisi dengan garam serta cuka secukupnya. Disi juga lombok seperti membuat rujak cair. Isi air secukupnya kemudian diminum. Ini juga baik untuk obat kelelahan. 

Masih untuk mengobati sakit maag, ada cara yang ketiga. Buah tibah, kerikan kulit jeruk, rimpang kunir digerus halus. Selanjutnya disaring dan diisi madu. Air saringannya itulah yang diminum. 

Selain untuk mengobati sakit maag, tibah juga dapat digunakan untuk menurunkan darah tinggi. Menurut Dra. I Gusti Segatri Putra dalam buku Taru Premana: Khasiat Tanaman untuk Obat Tradisional, cara pengolahanya, ambil beberapa buah tibah yang sudah masak, kemudian diremas-remas, diisi dengan air matang secukupnya. Setelah itu disaring airnya untuk kemudian diminum. Dianjurkan diminum dua kali sehari. 

Ada juga khasiat lain dari tibah yakni mengobati penyakit bayi kejang (stuip, tetanus). Seperti ditulis Prof. Dr. I Gusti Ngurah Nala dalam buku Usada Bali, bahan-bahan yang dibutuhkan hanyalah buah mengkudu dan garam. Caranya, buah tibah dibelah dua. Isi belahan itu kemudian ditekan-tekankan pada garam hingga akhirnya garam larut ke dalam isi belahan buah. Isi belahan buah tibah itulah yang kemudian dioleskan pada mulut atau bibir bayi. 

Selain untuk obat, tibah juga kerap dimanfaatkan untuk kelengkapan upakara (seaji) saat upacara ngaben, khususnya upacara papegatan, caru loloh segara agung, bhuta yadnya dan lainnya. 

Tibah tergolong habitus pohon dengan tinggi 4-8 meter. Batangnya bekayu bulat dan kulit kasar. Percabangannya monopodial, berdaun tunggal bulat telor dengan ujung meruncing tepi rata. Bunganya majemuk dengan bentuk bongkol bertangkai. Buah bongkol permukaan tidak teratur, berdaging dengan panjang 5-10 cm dan berwarna hijau kekuningan. 

Tibah memiliki adaptasi yang luas terhadap kondisi lingkungan. Pohon tibah dapat tumnbuh pada daerah dengan ketinggian 0-700 meter di atas permukaan laut. (b.)

Pura Kancing Gumi: Penjaga Kestabilan Bali


Teks dan Foto: I Made Sujaya

Pura Kancing Gumi sejatinya menjadi salah satu pura yang memegang arti penting dalam bentang kosmologi-spiritual Bali. Seperti namanya, pura ini merupakan kunci yang menentukan kestabilan Pulau Bali bahkan dunia. Karenanya, di kalangan warga Desa Adat Batu Lantang, pura ini diyakini sebagai penekek jagat (penguat atau penjaga stabilitas dunia).


Memang, ihwal kelahiran Pura Kancing Gumi dikaitkan dengan mitos masa-masa awal terjadinya Pulau Bali yang tidak stabil. Sebagaimana ditulis dalam sumber-sumber susastra tradisional seperti lontar atau pun purana, awalnya keadaan Pulau Bali dan Lombok sangatlah labil juga sepi tanpa penghuni. Ibarat perahu tanpa pengemudi, keadaan pulau ini oleng tidak menentu arahnya. 

Keadaan ini membuat Batara Hyang Pasupati kasihan dan ingin menstabilkannya. Kala itu di Bali baru terdapat empat gunung yakni Gunung Lempuyang di timur, Gunung Andakasa di selatan, Gunung Batukaru di barat dan Gunung Beratan di utara. Akhirnya, untuk menstabilkan Pulau Bali, Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Semeru di Jawa Timur dan menancapkannya di Pulau Bali dan Lombok. Keadaan Pulau Bali dan Lombok pun stabil. 

Selanjutnya, dalam Dewa Purana disebutkan, setelah keadaan Pulau Bali stabil, Bhatara Hyang Pasupati menyebarkan amertha berupa lingga-lingga. Sebagai pacek (pancang) gumi Bali ditancapkan sebuah lingga di sebuah pebukitan yang belakangan dikenal dengan nama Batu Lantang. Lingga itulah kemudian dikenal sebagai Hyang Gunung Alas atau Hyang Kancing Gumi. Sumber-sumber sejarah menyebutkan, sebelum dikenal istilah pura di Bali lebih dikenal istilah hyang. 

"Di Bali memang disebarkan banyak lingga. Akan tetapi, lingga di Pura Kancing Gumi ini memiliki peranan khusus sebagai panekek jagat," ujar Pemangku Pura Kancing Gumi, Jero Mangku Putu Cinta. 

Meski begitu, hingga kini masih sulit dilacak kapan sejatinya Pura Kancing Gumi ini didirikan. Hanya saja, berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Denpasar dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali-NTB-NTT-Timtim yang dilaksanakan tahun 1991 menyimpulkan lingga yang berada di areal pura merupakan sebuah menhir. Menhir merupakan bentuk megalitik dari zaman prasejarah yang umumnya difungsikan sebagai tempat pemujaan. 

Struktur Pura Kancing Gumi sangatlah sederhana. Areal pura tidak lebih dari empat are dengan dibatasi tembok penyengker (pembatas). Awalnya, pembatasnya hanyalah ancak saji (pagar dari bambu). Pelinggih atau bangunan suci utama berupa lingga yang berupa patahan batu berjumlah sembilan. Ada juga gedong sari, catu meres, catu mujung, bale pengaruman serta padma yang baru didirikan saat pelaksanaan karya agung. Yang agak unik, Pura Kancing Gumi berada dalam satu areal dengan Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Penataran Agung. 

Pengempon utama Pura Kancing Gumi yakni sekitar 42 kepala keluarga (KK) dari Desa Adat Batu Lantang. Namun, karena status pura ini kahyangan jagat, saban kali pujawali, banyak umat dari pelosok Bali berduyun-duyun tangkil ke pura ini.

Secara fungsional, bagi warga Desa Adat Batu Lantang, Pura Kancing Gumi juga menjadi tempat untuk memohon keselamatan bagi yang sakit. Begitu juga binatang piaraan atau pun tetanaman di sawah dan ladang yang diserang hama. Pun, bila terjadi musim keramau yang berkepanjangan, ke pura inilah warga setempat memohon hujan. Sebaliknya juga memohon menolak hujan jika sedang dilaksanakan upacara besar. (b.)

Cara Tenganan Menjaga Hutan

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Senin, 07 Maret 2011 | 17.42

Menelusuri Keunikan Desa Tenganan Pagringsingan (2)


PENGARANG I Gde Aryantha Soethama pernah menulis, bila ingin belajar tentang bagaimana upaya pelestarian lingkungan dilakoni dengan penuh ketulusan, bergurulah ke Tenganan. Tak keliru, memang. Tenganan Pagringsingan, sebuah desa kuna yang terletak sekitar 65 kilometer ke arah timur dari Kota Denpasar sejak berabad-abad silam berhasil menjaga kelestarian alam di desanya. Keberhasilan ini dikarenakan ketulusan warga desa ini untuk menaati tradisi dan aturan-aturan yang diwarisi dari para leluhurnya.
Dalam awig-awig Desa Adat Tenganan Pegringsingan, kelestarian dan keseimbangan lingkungan sangat dijaga. Karenanya, awig-awig itu melarang warganya menebang pohon sembarangan. Apalagi jika pohon itu masih dalam keadaan hidup. Kecuali untuk kayu bakar, dibolehkan menebang kayu yang masih hidup asalkan bukan dari jenis kayu untuk bahan bangunan.

“Setiap pohon yang akan ditebang untuk bahan bangunan mesti melalui rapat desa terlebih dahulu. Bila rapat desa memutuskan pohon itu boleh ditebang, baru bisa dilakukan,” tutur Jro Mangku Widia.
Bila pohon masih dalam keadaan berdaun (hidup), warga yang ingin menebang pohon mesti meminta pemeriksaan kepada Kelian Desa. Selanjutnya, Kelian Desa mengutus tiga orang untuk memeriksa pohon tersebut. Komposisi pemeriksa itu, seorang dari Bahan Luanan, seorang dari Bahan Duluan/Keliang Desa serta seorang dari Bahan Tebenan.
“Bila hasil pemeriksaan menyebutkan 80 persen dari pohon itu sudah mati hanya 20 persen masih hidup serta bukan poros kayu utama, barulah bisa disetujui untuk ditebang. Itu pun harus ketiga pemeriksa menyetujui. Kalau salah satu tidak menyetujui, penebangan ditangguhkan beberapa bulan lagi,” kata Mangku Widia.
Namun, Desa Adat Tenganan Pageringsingan memiliki aturan yang membolehkan penebangan kayu untuk alasan-alasan khusus. Ada istilah panaho yakni boleh menebang pohon untuk kepentingan melindungi tanaman lain. Namun, si pemilik mesti menyetor setengah dari harga kayu tersebut ke desa setelah dipotong ongkos tukang. Ada lagi istilah pengapih yakni penjarangan suatu jenis pohon. Misalnya, dalam satu lokasi tumbuh tiga pohon dalam satu jenis,pohon tersebut boleh ditebang.
Namun, penentuan boleh ditebang ini diputuskan oleh tiga pemeriksa yang diutus oleh Keliang Desa dengan memperhatikan fungsi dan peruntukannya, sehingga keinginan pribadi bisa ditekan. Selain itu, juga memperlambat penggundulan hutan.
Ada juga istilah tumapung yakni berupa hak istimewa yang diberikan kepada seseorang yang baru kawin. Menurut aturan di desa ini, tiga bulan setelah upacara pernikahan, sang pengantin mesti berpisah dari orangtuanya dan membangun rumah tangga baru. Pihak desa memberikan keluarga baru itu kapling tanah seluas 2,432 are. Untuk membangun rumah di atas tanah itu, si pengantin dibolehkan menebang pohon kayu tetapi hanya secukupnya.

Empat Jenis Buah tak boleh Dipetik


Tidak cuma penebangan pohon kayu yang ditaur secara ketat di Desa Tenganan Pegringsingan. Memetik buah-buahan pun tidak boleh sembarangan. Menurut Mangku Widia, ada empat macam buah-buahan yang tidak boleh dipetik pemiliknya, baik milik desa atau pun milik perorangan. Keempat buah-buahan itu yakni durian, pangi, kemiri dan teep.
“Hanya jika buah itu jatuh boleh diambil. Itu pun bukan harus pemiliknya yang boleh mengambil, siapa pun pun boleh mengambil, khususnya siapa yang datang dan rajin mencari, itulah yang berhak,” kata Mangku Widia.
Bila memotong pohon larangan seperti nangka, cempaka, durian, kemiri, pangi, teep, jaka (aren) di sebelah barat sungai dan di utara desa, kayu tersebut di-daut (diambil) kembali dan harus dibayar seharga kayu ditambah dengan denda. Bila orang dari luar desa memungut empat buah yang dilarang didenda 10 catu (setara dengan 25 kilogram beras). Bila memetik didenda 10 catu (setara 25 kilogram beras) ditambah harga buah yang dipetik. Denda-denda tersebut akan didistribusikan dengan perhitungan, 50 persen ke desa dan 50 persen lagi diberikan untuk si pelapor. Identitas si pelapor juga dirahasiakan.
Pantangan unik lainnya di Desa Tenganan Pegringsingan yang terkait dengan upaya menjaga kelestarian flora, warga tidak diperkenankan menjual atau memberikan ijuk kepada orang lain. Akan tetapi, bila menjual tali ijuk dibolehkan. Mangku Widia menduga larangan ini dimaksudkan untuk tidak mengganggu kehidupan pohon enau sebagai penghasil ijuk. Sementara pohon enau sendiri menjadi tanaman pokok di hutan Tenganan.
Warga Tenganan Pegringsingan juga dilarang membuat arak dan gula. Namun, bila membuat tuak atau air nira dibolehkan. Membuat batu bata merah pun tak diperkenankan. Mangku Widia menduga larangan ini dimaksudkan untuk mencegah penggunaan kayu api yang berlebihan.
Namun, yang cukup unik, awig-awig Desa Tenganan Pegringsingan juga melarang warganya menanam pohon tarum. Padahal, tarum merupakan bahan yang digunakan untuk mewarnai kain gringsing khususnya warna biru. Karena itu, warga Tenganan Pegringsingan mesti mencari pohon tarum ini ke luar desa. “Barangkali makna larangan tidak boleh menanam pohon tarum itu agar warga Tenganan Pegringsingan mau bekerja sama dengan warga luar desa,” kata Mangku Widia.
Selain tarum, dulu pernah ada aturan yang melarang warga Tenganan Pegringsingan menanam bawang merah maupun bawang putih. Tak jelas kenapa muncul larangan semacam itu. Nuja menduga ini merupakan pembagian zone ekonomi pada zaman kerajaan dulu. “Mungkin raja pada masa itu sudah mengatur di mana boleh menanam apa dan di mana tidak boleh mananam apa. Ya, semacam tata ruanglah dalam pengaturan bangunan zaman ini,” kata Nuja.
Namun, pascameletusnya Gunung Agung, aturan yang melarang penanaman bawang merah dan bawang putih itu dicabut. Namun anehnya, tiada warga yang menggeluti usaha menanam bawang merah atau pun bawang putih. Entah kenapa, Nuja juga belum bisa memahaminya.
Demikian banyaknya pantangan menebang pohon atau memetik buah itu, tidak ada satu pun tersurat dalam awig-awig anjuran untuk menanam. Padahal, penanaman penting artinya sebagai “tabungan” dalam bank besar bernama lingkungan.

Ikuti Kami di Facebook

 
Beranda | Tentang balisaja.com | Pengasuh | Iklan | Peta Situs
Hak Cipta © 2007. balisaja.com - Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Template Dimodifikasi Oleh balisaja.com Terima Kasih Kepada Mas Template
Diberdayakan Oleh Blogger