Terkini

Selegang Malajah Sastra


Renungan Menjelang Hari Suci Saraswati

ORANG
-orang tua di desa dengan bahasa sederhana senantiasa berpesan, selegang melajah sastra, tekunlah belajar sastra. Terasa sederhana sekali pesan itu. Namun, sungguh maknanya sangat mendalam.
Bagi orang Bali, sastra bukan sekadar sebuah karya seni bahasa yang penuh dengan kata-kata indah dan menawan. Sastra adalah ilmu pengetahuan dalam arti yang luas. Sastra adalah kehidupan. Karena itu, selegang melajah sastra sejatinya suatu pesan untuk seleg belajar tentang kehidupan.
Makna itulah yang disampaikan dalam perayaan hari suci Saraswati yang jatuh pada Sabtu (23/4) hari ini. Manusia Bali diingatkan anugerah terbesar Tuhan dalam kehidupan: ilmu pengetahuan.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan hari suci Saraswati merupakan saat untuk memuja Sanghyang Aji Saraswati sebagai manifestasi Hyang Widhi yang menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Saat hari suci Saraswati, segala macam pustaka sebagai lingga aksara diupacara.
Lontar Sundarigama juga memberikan pantangan bagi umat untuk menulis aksara, membaca, menulis, mambaca kidung kekawin. Saat hari suci Saraswati umat dianjurkan untuk melaksanakan renungan suci dan beryoga.
Bagi orang Bali, aksara tidak semata dimaknai secara sempit sebagai goresan huruf. Namun, lebih dari itu, aksara merupakan representasi dari ilmu pengetahuan yang lazim disebut sastra.
Karena itulah, manusia Bali (Hindu) senantiasa diingatkan untuk tidak mencela sastra. Maka, begitu, perayaan hari suci Saraswati tiba, pesan untuk tidak ngucek sastra kembali bergema.
Teramat sederhana barangkali pesan yang memang sederhana itu. Namun, sejatinya amat tidak sederhana makna yang hendak disampaikan.
Ngucek sastra tak sebatas ngucek buku atau pun lontar. Namun, jauh menyelusup di dalah pesan untuk senantiasa menghormati sastra itu sendiri. Ngucek atau pun mencela sastra adalah mencela hidup, karena sastra adalah cerminan kehidupan, bahkan jauh lebih dari sekadar cerminan. Sastra adalah juga sasuluh, sinar yang menerangi hidup dan kehidupan ini.
Sastra adalah juga air yang mengalir sebagaimana pengertian Saraswati itu sendiri. Saraswati mengandung pengertian air yang tiada henti mengalir. Di India sendiri, Saraswati selain nama dewa adalah juga nama sebuah sungai yang disucikan.
Sastra adalah juga wanita cantik seperti halnya penggambran para rsi terhadap Dewi Saraswati. Dewi Saraswti digambarkan sebagai seorang wanita cantik yang bertangan empat yang masing-masing tangan membawa keropak, rebana, rantai
Bila begini, maka menjadi amat jelas betapa sastra memang tak layak untuk dijauhi. Seperti halnya ketidaklayakan untuk menjuhi air, menjauhi wanita cantik. Menjuhi air, menjauhi wanita cantik adalah juga menjuhi sumber dari kehidupan ini.
Betapa pentingnya sastra, seperti betapa pentingnya air dan wanita itu. Karenanya, mankala kita menjauh darinya, tiba-tiba menyelusup kerinduan untuk kembali kepadanya. Kembali ke rumah sastra.

6 komentar:

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.