Home » , » Pura Kancing Gumi: Penjaga Kestabilan Bali

Pura Kancing Gumi: Penjaga Kestabilan Bali

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Selasa, 08 Maret 2011 | 10.41


Teks dan Foto: I Made Sujaya

Pura Kancing Gumi sejatinya menjadi salah satu pura yang memegang arti penting dalam bentang kosmologi-spiritual Bali. Seperti namanya, pura ini merupakan kunci yang menentukan kestabilan Pulau Bali bahkan dunia. Karenanya, di kalangan warga Desa Adat Batu Lantang, pura ini diyakini sebagai penekek jagat (penguat atau penjaga stabilitas dunia).


Memang, ihwal kelahiran Pura Kancing Gumi dikaitkan dengan mitos masa-masa awal terjadinya Pulau Bali yang tidak stabil. Sebagaimana ditulis dalam sumber-sumber susastra tradisional seperti lontar atau pun purana, awalnya keadaan Pulau Bali dan Lombok sangatlah labil juga sepi tanpa penghuni. Ibarat perahu tanpa pengemudi, keadaan pulau ini oleng tidak menentu arahnya. 

Keadaan ini membuat Batara Hyang Pasupati kasihan dan ingin menstabilkannya. Kala itu di Bali baru terdapat empat gunung yakni Gunung Lempuyang di timur, Gunung Andakasa di selatan, Gunung Batukaru di barat dan Gunung Beratan di utara. Akhirnya, untuk menstabilkan Pulau Bali, Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Semeru di Jawa Timur dan menancapkannya di Pulau Bali dan Lombok. Keadaan Pulau Bali dan Lombok pun stabil. 

Selanjutnya, dalam Dewa Purana disebutkan, setelah keadaan Pulau Bali stabil, Bhatara Hyang Pasupati menyebarkan amertha berupa lingga-lingga. Sebagai pacek (pancang) gumi Bali ditancapkan sebuah lingga di sebuah pebukitan yang belakangan dikenal dengan nama Batu Lantang. Lingga itulah kemudian dikenal sebagai Hyang Gunung Alas atau Hyang Kancing Gumi. Sumber-sumber sejarah menyebutkan, sebelum dikenal istilah pura di Bali lebih dikenal istilah hyang. 

"Di Bali memang disebarkan banyak lingga. Akan tetapi, lingga di Pura Kancing Gumi ini memiliki peranan khusus sebagai panekek jagat," ujar Pemangku Pura Kancing Gumi, Jero Mangku Putu Cinta. 

Meski begitu, hingga kini masih sulit dilacak kapan sejatinya Pura Kancing Gumi ini didirikan. Hanya saja, berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Denpasar dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali-NTB-NTT-Timtim yang dilaksanakan tahun 1991 menyimpulkan lingga yang berada di areal pura merupakan sebuah menhir. Menhir merupakan bentuk megalitik dari zaman prasejarah yang umumnya difungsikan sebagai tempat pemujaan. 

Struktur Pura Kancing Gumi sangatlah sederhana. Areal pura tidak lebih dari empat are dengan dibatasi tembok penyengker (pembatas). Awalnya, pembatasnya hanyalah ancak saji (pagar dari bambu). Pelinggih atau bangunan suci utama berupa lingga yang berupa patahan batu berjumlah sembilan. Ada juga gedong sari, catu meres, catu mujung, bale pengaruman serta padma yang baru didirikan saat pelaksanaan karya agung. Yang agak unik, Pura Kancing Gumi berada dalam satu areal dengan Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Penataran Agung. 

Pengempon utama Pura Kancing Gumi yakni sekitar 42 kepala keluarga (KK) dari Desa Adat Batu Lantang. Namun, karena status pura ini kahyangan jagat, saban kali pujawali, banyak umat dari pelosok Bali berduyun-duyun tangkil ke pura ini.

Secara fungsional, bagi warga Desa Adat Batu Lantang, Pura Kancing Gumi juga menjadi tempat untuk memohon keselamatan bagi yang sakit. Begitu juga binatang piaraan atau pun tetanaman di sawah dan ladang yang diserang hama. Pun, bila terjadi musim keramau yang berkepanjangan, ke pura inilah warga setempat memohon hujan. Sebaliknya juga memohon menolak hujan jika sedang dilaksanakan upacara besar. (b.)
Bagikan Artikel Ini :

Poskan Komentar

Ikuti Kami di Facebook

 
Beranda | Tentang balisaja.com | Pengasuh | Iklan | Peta Situs
Hak Cipta © 2007. balisaja.com - Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Template Dimodifikasi Oleh balisaja.com Terima Kasih Kepada Mas Template
Diberdayakan Oleh Blogger