Terkini

Cara Tenganan Menjaga Hutan


Pengarang I Gde Aryantha Soethama pernah menulis, bila ingin belajar tentang bagaimana upaya pelestarian lingkungan dilakoni dengan penuh ketulusan, bergurulah ke Tenganan. Tak keliru, memang. Tenganan Pagringsingan, sebuah desa kuna yang terletak sekitar 65 kilometer ke arah timur dari Kota Denpasar sejak berabad-abad silam berhasil menjaga kelestarian alam di desanya. Keberhasilan ini dikarenakan ketulusan warga desa ini untuk menaati tradisi dan aturan-aturan yang diwarisi dari para leluhurnya.

Dalam awig-awig Desa Adat Tenganan Pegringsingan, kelestarian dan keseimbangan lingkungan sangat dijaga. Karenanya, awig-awig itu melarang warganya menebang pohon sembarangan. Apalagi jika pohon itu masih dalam keadaan hidup. Kecuali untuk kayu bakar, dibolehkan menebang kayu yang masih hidup asalkan bukan dari jenis kayu untuk bahan bangunan.


“Setiap pohon yang akan ditebang untuk bahan bangunan mesti melalui rapat desa terlebih dahulu. Bila rapat desa memutuskan pohon itu boleh ditebang, baru bisa dilakukan,” tutur Jro Mangku Widia.

Bila pohon masih dalam keadaan berdaun (hidup), warga yang ingin menebang pohon mesti meminta pemeriksaan kepada Kelian Desa. Selanjutnya, Kelian Desa mengutus tiga orang untuk memeriksa pohon tersebut. Komposisi pemeriksa itu, seorang dari Bahan Luanan, seorang dari Bahan Duluan/Keliang Desa serta seorang dari Bahan Tebenan. 

“Bila hasil pemeriksaan menyebutkan 80 persen dari pohon itu sudah mati hanya 20 persen masih hidup serta bukan poros kayu utama, barulah bisa disetujui untuk ditebang. Itu pun harus ketiga pemeriksa menyetujui. Kalau salah satu tidak menyetujui, penebangan ditangguhkan beberapa bulan lagi,” kata Mangku Widia. 

Namun, Desa Adat Tenganan Pageringsingan memiliki aturan yang membolehkan penebangan kayu untuk alasan-alasan khusus. Ada istilah panaho yakni boleh menebang pohon untuk kepentingan melindungi tanaman lain. Namun, si pemilik mesti menyetor setengah dari harga kayu tersebut ke desa setelah dipotong ongkos tukang. Ada lagi istilah pengapih yakni penjarangan suatu jenis pohon. Misalnya, dalam satu lokasi tumbuh tiga pohon dalam satu jenis,pohon tersebut boleh ditebang. 

Namun, penentuan boleh ditebang ini diputuskan oleh tiga pemeriksa yang diutus oleh Keliang Desa dengan memperhatikan fungsi dan peruntukannya, sehingga keinginan pribadi bisa ditekan. Selain itu, juga memperlambat penggundulan hutan. 

Ada juga istilah tumapung yakni berupa hak istimewa yang diberikan kepada seseorang yang baru kawin. Menurut aturan di desa ini, tiga bulan setelah upacara pernikahan, sang pengantin mesti berpisah dari orangtuanya dan membangun rumah tangga baru. Pihak desa memberikan keluarga baru itu kapling tanah seluas 2,432 are. Untuk membangun rumah di atas tanah itu, si pengantin dibolehkan menebang pohon kayu tetapi hanya secukupnya. 

Empat Jenis Buah tak boleh Dipetik

Tidak cuma penebangan pohon kayu yang ditaur secara ketat di Desa Tenganan Pegringsingan. Memetik buah-buahan pun tidak boleh sembarangan. Menurut Mangku Widia, ada empat macam buah-buahan yang tidak boleh dipetik pemiliknya, baik milik desa atau pun milik perorangan. Keempat buah-buahan itu yakni durian, pangi, kemiri dan teep. 

“Hanya jika buah itu jatuh boleh diambil. Itu pun bukan harus pemiliknya yang boleh mengambil, siapa pun pun boleh mengambil, khususnya siapa yang datang dan rajin mencari, itulah yang berhak,” kata Mangku Widia. 

Bila memotong pohon larangan seperti nangka, cempaka, durian, kemiri, pangi, teep, jaka (aren) di sebelah barat sungai dan di utara desa, kayu tersebut di-daut (diambil) kembali dan harus dibayar seharga kayu ditambah dengan denda. Bila orang dari luar desa memungut empat buah yang dilarang didenda 10 catu (setara dengan 25 kilogram beras). Bila memetik didenda 10 catu (setara 25 kilogram beras) ditambah harga buah yang dipetik. Denda-denda tersebut akan didistribusikan dengan perhitungan, 50 persen ke desa dan 50 persen lagi diberikan untuk si pelapor. Identitas si pelapor juga dirahasiakan. 

Pantangan unik lainnya di Desa Tenganan Pegringsingan yang terkait dengan upaya menjaga kelestarian flora, warga tidak diperkenankan menjual atau memberikan ijuk kepada orang lain. Akan tetapi, bila menjual tali ijuk dibolehkan. Mangku Widia menduga larangan ini dimaksudkan untuk tidak mengganggu kehidupan pohon enau sebagai penghasil ijuk. Sementara pohon enau sendiri menjadi tanaman pokok di hutan Tenganan. 

Warga Tenganan Pegringsingan juga dilarang membuat arak dan gula. Namun, bila membuat tuak atau air nira dibolehkan. Membuat batu bata merah pun tak diperkenankan. Mangku Widia menduga larangan ini dimaksudkan untuk mencegah penggunaan kayu api yang berlebihan. 

Namun, yang cukup unik, awig-awig Desa Tenganan Pegringsingan juga melarang warganya menanam pohon tarum. Padahal, tarum merupakan bahan yang digunakan untuk mewarnai kain gringsing khususnya warna biru. Karena itu, warga Tenganan Pegringsingan mesti mencari pohon tarum ini ke luar desa. “Barangkali makna larangan tidak boleh menanam pohon tarum itu agar warga Tenganan Pegringsingan mau bekerja sama dengan warga luar desa,” kata Mangku Widia. 

Selain tarum, dulu pernah ada aturan yang melarang warga Tenganan Pegringsingan menanam bawang merah maupun bawang putih. Tak jelas kenapa muncul larangan semacam itu. Nuja menduga ini merupakan pembagian zone ekonomi pada zaman kerajaan dulu. “Mungkin raja pada masa itu sudah mengatur di mana boleh menanam apa dan di mana tidak boleh mananam apa. Ya, semacam tata ruanglah dalam pengaturan bangunan zaman ini,” kata Nuja. 

Namun, pascameletusnya Gunung Agung, aturan yang melarang penanaman bawang merah dan bawang putih itu dicabut. Namun anehnya, tiada warga yang menggeluti usaha menanam bawang merah atau pun bawang putih. Entah kenapa, Nuja juga belum bisa memahaminya.

Demikian banyaknya pantangan menebang pohon atau memetik buah itu, tidak ada satu pun tersurat dalam awig-awig anjuran untuk menanam. Padahal, penanaman penting artinya sebagai “tabungan” dalam bank besar bernama lingkungan. (b.)

2 komentar:

  1. Gubernur harus belajar cara menjaga hutan, jangan malah hutan bakau dikontrakkan sama investor

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.